Terhitung sudah hari ke tiga, sikap Aca masih sama, gadis itu banyak diam namun tetap menjawab jika Dipta menanyakan sesuatu walaupun jawabannya akan seadanya. Dipta semakin dibuat cemas, sebab semakin Aca diam semakin membuat perasaan bersalah juga takut ditinggalkan kian membesar.
Awalnya Dipta kira marahnya Aca akan seperti saat gadis itu mengeluarkan protesnya saat Dipta yang tak menepati janji untuk membeli cincin, saat itu Aca dengan lantang berkoar, berteriak mengeluarkan keresahannya tak peduli di depan umum ataupun ditempat yang lebih privasi.
Dipta fikir marahnya Aca cukup mengerikan saat itu, namun mendapati Aca diam saat ini lebih membuatnya hampir saja putus asa.
Tak ada obrolan, tak ada sarapan bersama di pagi hari, tak ada Aca yang merengek meminta sesuatu dan yang paling membuat Dipta kehilangan adalah tak ada Aca yang membangunkan dan mengingatkannya untuk shalat.
Dipta akui dia sangat salah, menuduh, memarahi, membentak, mendiami, mengabaikan, semuanya dia lakukan dalam satu waktu pada sosok gadis yang menjadi istrinya?
Bukankah memang dia sangat sulit diampuni, walaupun Aca selalu menjawab dengan mengatakan dirinya tak masalah dan tidak apa-apa.
Tapi apakah Dipta percaya? Tentu saja tidak, karena menurutnya diamnya Aca sebagai bentuk marah yang sudah di fase lelah, dan hal itulah yang membuat Dipta dihantui kekhawatiran jika saja Aca akan meninggalkannya.
Sementara Aca, sore ini sedang duduk di tempat favoritenya selama berada dirumah Dipta, kursi kayu yang berada di pinggiran sungai menjadi tempat ternyamannya sekarang.
Gadis itu menatap lekat kedepan, mengamati hamparan air yang mengalir namun tetap terlihat tenang, sekalipun dia sangat ingin berteriak, menyuarakan isi hatinya yang membuatnya sesak, namun semuanya akan berakhir pada tindakan diam sebab dia takutkan jika membagi cerita pada orang lain akan mengatakan bahwa lukanya tak seberapa.
Permohonan maaf Dipta rasanya sama saat dimana sang ayah meminta maaf padanya beberapa tahun lalu, pun dengan perasaan Aca sendiri, dia tak menyalahkan orang lain akibat tingkahnya sendiri, benar kata mereka Aca terlalu keras kepala dan ceroboh hingg bisa membahayakan orang lain.
Aca menyadari bahwa dia terlalu berlebihan hanya karena takut ditinggalkan? Mengusahakan semuanya sendiri, merendahkan harga dirinya juga menawarkan sebuah pendekatan yang berkahir gagal.
Seperti Kai contohnya.
Semua terasa melelahkan, bayangan tentang rumah tangga menyenangkan dulunya, kini perlahan buram di impiannya. Segala kekurangannya, keras kepala dan cerobohnya serta sikap Dipta padanya membuat Aca sadar bahwa dia hanyalah gadis yang merepotkan dan menyusahkan.
Aca cukup lelah, semua yang diharapkan belum atau bahkan tak akan menjadi kenyataan, perlahan percaya dirinya kian menipis untuk tetap bisa membangun rumah tangga harmonis bersama dengan Dipta.
Terlebih melihat kedekatan antara Dipta dan Lika yang tak biasa, membuat Aca semakin pesimis dengan segala usahanya, dia mengakui bahwa semua yang dimiliki Lika adalah dambaan kebanyakan pria, tubuh tinggi nan seksi, wajah cantik dan kulit yang mulus terlebih ada nama besar di panggung hiburan yang menjadi impian banyak orang.
Tak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya Dipta juga menyukai gadis itu, apalagi saat dimana Aca melihat Dipta dengan tenang menerima suapan dari Lika, terlihat tidak canggung dan sudah terbiasa. Apakah hubungan mereka sejak dulu sedekat itu?
Lalu dugaan lainnya muncul, bagaimana jika sebenarnya Ada Lika dihati dan hidup Dipta, namun mereka terpaksa berpisah saat pernikahannya dan Dipta dipaksa terlaksana.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romansa"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
