Dipta baru saja menyelesaikan sarapannya pagi ini, tentu saja makan hanya berdua dengan nenek Mina. Hari ini hari libur, dan bertepatan dengan bengkel yang juga meliburkan seluruh karyawannya, jadilah Dipta akan diam seharian dirumah.
"Rumah nak Aca rame banget yah ta, seru banget nenek lihatnya" ujar Nenek Mina
"Iya nek, Tadi subuh juga Dipta barengan ke mesjidnya sama kakek Abi dan anak juga cucuknya kakek" jawab Dipta.
Lalu, keduanya sama-sama diam membuat suasana semakin sunyi, lagi-lagi berbeda dengan rumah sebelah yang nampak riuh dengan teriakan juga gelak tawa entah karena alasan apa.
"Maafin nenek yah nak, nggak bisa ciptain keluarga yang seru kaya keluarga Aca" Bukan merasa iri seperti yang Dipta rasakan, nenek Mina malah merasa bersalah terhadap cucunya yang tak bisa hidup dengan keluarga yang hangat seperti keluarga Aca.
Dipta melemparkan senyuman menenangkannya, walaupu terasa ingin namun dia tak pernah menyesal lahir dari keturunan wanita parubayah yang duduk didepannya itu. Hidup berdua sudah cukup, kasih sayang nenek Minapun sangat dia syukuri, walaupun tak bisa dia pungkiri bahwa dia juga merindukan kasih sayang seorang ibu.
"Nenek ngapain minta maaf, Dipta seneng dan bersyukur ada nenek di hidup Dipta" ujarnya menenangkan, beranjak berdiri dan memeluk wanita yang telah membesarkannya itu.
Tok tok tok
Obrolan haru antara nenek dan cucu laki-lakinya itu terhenti saat mendengar ketukan pintu dari rumah sederhananya "Dipta buka pintu dulu nek"
Dipta beranjak membukakan tamu yang dia sudah tebak adalah Aca ataupun keluarganya. Siapa lagi yang mau berkunjung di rumah kumuh seperti miliknya jika bukan keluarga dermawan itu?
"Assalamualaikum Dipta, Sudah sarapan? Aca bawa nasi goreng udang buatan Bunda, rasanya enak banget, Dipta harus cobain" Dan si gadis ektrovert itu, tanpa dipersilahkan masukpun sudah menyerobot masuk kedalam rumah, yang bahkan penghuninya masih berdiri di depan pintu.
"Halo nek, ini Aca bawain Nasi goreng udang buat nenek sama Dipta" Lanjutnya, saat melihat nenek Mina yang duduk di meja makan yang menyatu dengan dapur rumah itu.
Suara rumah yang tadinya sunyi, sontak berganti menjadi meriah walaupun hanya seorang Aca yang menambah. Dipta melihat itu mengulung senyum, merasa kehadiran Aca setidaknya menghapus perasaan sendu yang sempat dia dan nenek Mina rasakan.
"Wah terima kasih anak cantik sudah repot-repot bawain makanan lagi kesini" jawab nenek Mina dengan antusias, mengimbangi sikap gadis yang baru datang itu.
Dipta memperhatikan bagaimana Aca dengan telaten memindahkan makanan dari tempat yang dia bawah ke piring yang ada di atas meja. Pria itu merasa melihat diri Aca sama dengan pertama kali dia bertemunya
Gadis ceria dan polos yang datang menghampirinya dan terus mengikutinya.
"Nenek sama Dipta harus makan, ini dibuat sama Bundanya Aca. Pokoknya, Aca jamin pasti enak nek"
Dipta bergabung dengan nenek Mina dan Aca yang berada di dapur, melihat bagaimana masakan itu tersaji benar-benar menggugah seleranya, padahal beberapa menit yang lalu dia baru saja dia menyelesaikan sarapan.
"Bunda?" Nenek Mina merasa heran dengan sebutan baru yang Aca katakan, bukankah selama ini gadis itu menyebut Salsa dengan sebutan ibu?
"Iya, bundanya Aca" ujarnya yang tak memberikan jawaban dari pertanyaan Nenek Mina.
"Maksud kamu tante Salsa?" Timpal Dipta
"Bukan dong. Ibu ya ibu, Bunda yah Bunda. Mereka beda, walaupun kembar"
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
