Ujung pisau yang berjarak tipis dengan pipi mulus milik intan membuat gadis itu hanya bisa menutup mata pasrah sembari berharap detik yang tersisa bisa menyelamatkannya dari tingkah gila pria yang selama ini dia cinta.
Sementara Dipta terlihat tak ragu sama sekali, setelah menampar bahkan memukul Intan, pria itu bahkan tak puas hanya dengan itu, bahkan jika semua yang dilakukan Intan pada Aca tadi terbalaskan melalui tangan Dipta, itu tak akan pernah bisa membuat menukar rasa sakit Aca.
"Lo udah nyakitin istri dan anak gue, dan lo dengan beraninya bandingin diri lo dengan istri gue" ujar Dipta, ujaran terakhirnya sebelum pisau ditangannya benar-benar melukai wajah gadis dihadapannya.
Hanya saja, sepertinya harapan Intan kali ini terwujudkan, sebab sebelum ujung pisau mengenai wajahnya, tangan Dipta ditepis oleh seseorang yang membuat pisau tersebut jatuh.
"Jangan bertingkah gila ta, Aca juga nggak akan suka kamu lakuin ini semua"
Pelakunya adalah Romy, demi apapun dia juga sangat membenci dan marah pada gadis yang telah mencelakai anaknya, namun untuk melukai seseorang atau melihat dengan mata kepalanya sendiri tindakan seperti itu membuat Romy tidak tega, terlebih itu adalah seorang perempuan.
Ingat dia adalah salah satu sosok yang mengedepankan kemanusiaan dengan profesinya, menyembuhkan bahkan menyelamatkan nyawa orang lain adalah tugasnya, bukan melukai bahkan melenyapkan.
"Tapi dia udah nyakitin istri aku yah" teriak Romy, melupakan siapa sosok yang berada di hadapannya kini.
"Iya ayah tau, tapi nggak gini nak, apa yang kamu dapat dari melukai pelaku penganiayaan Aca? Apa istrimu bisa tiba-tiba pulih atau anakmu kembali kerahim ibunya?"
"Tidak Dipta, semua telah terjadi dan biarkan gadis ini dihukum oleh pihak berwajib. Jangan mengotori tanganmu dengan darahnya" lanjut Romy.
Benar, Dipta membenarkan ucapan ayah mertuanya. Sekalipun Dipta membunuh intan, Aca tetap kesakitan dan anaknya tetap saja pergi meninggalkannya. Hanya saja, bukankah Intan harus merasakan apa yang Aca rasakan akibat perbuatannya, gadis gila ini harus menuai apa yang dia tabur.
"Tapi setidaknya dia harus meraskaan apa yang Aca rasa" balas Dipta
"Terus setelah itu kamu juga menjadi tersangka dan tidak bisa menemani Aca melewati hari-hari beratnya setelah kehilangan anak kalian? Itu yang kamu mau?"
Perlahan kepalan tangan milik Dipta merenggang, ucapan Romy berhasil sedikit meredamkan amarah yang harusnya dia lampiaskan, wajahnya tertunduk merasakan sebuah ego dan perasaan sedang bertengkar dalam dirinya sendiri.
Melihat Dipta diam, Romy menoleh pada Refal yang sedari tadi hanya diam saja " Bang, aku minta tolong untuk urus dia ke kantor polisi"
Refal hanya mengangguk, sisi nakal dirinya yang masih ingin melihat Dipta bertindak lebih, nyatanya di akhiri dengan penyelamatan adik iparnya itu.
Ah, sedari dulukan Romy memang begitu, pantas saja jadi dokter tidak jadi preman sepertinya.
Setelah memberi perintah pada Refal, Romy mendekat kearah Intan yang kini bisa sedikit bernafas lega di ujung ruangan.
"Saya nggak tau kesalahan apa yang dilakukan anak saya sampai kamu tega lakuin itu ke dia, yang harus kamu tau setelah ini hidup kamu tak akan lagi bisa tenang" ucap Romy, terlihat tenang namun sungguh ada emosi yang sekuat tenaga dia redam.
"Saya bahkan pernah hampir menghancurkan hidup seseorang yang tidak bersalah sebab mengira dia melukai putri saya, apalagi kamu yang sudah terbukti dan malah angkuh di depan saya" lanjutnya
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
