Penjelasan Romy

1.5K 238 89
                                        

Ini subuh pertama bagi Dipta untuk bangun lebih dulu di bandingkan Aca, mata pria itu mengerjap menetralkan cahaya yang perlahan di terima oleh netranya.

Entah tidurnya yang terlalu nyenyak ataukah dekapan Aca yang menenangkan, Dipta benar-benar tidur lelap semalaman.

Saat kesadarannya telah kembali, Dipta baru menyadari bahwa saat ini dia berada dalam dekapan seseorang, Dipta masih tak berani bergerak, di ingatannya menunjukan bahwa pemilik pelukan hangat itu adalah istrinya.

Benar saja, saat Dipta mendongakkan kepalanya dan yang dia dapati adalah wajah damai Aca yang masih terlelap. Sangat cantik, bahkan hanya dengan Aca yang tertidur sudah membuat Dipta merasakan kehangatan sekaligus debaran yang tak biasa dalam waktu yang bersamaan.

Dipta tak berniat menguraikan dekapannya dipinggang ramping milik istrinya, pun tak ingin memindahkan tangan Aca yang memeluk lehernya. Yang Dipta mau untuk waktu yang perlahan berjalan ini, setidaknya bisa terjeda untuknya bisa menikmati moment yang sangat indah bersama Aca.

"Apa setenang ini memiliki seorang istri?" batinnya.

Dipta terus saja mengamati bagaimana wajah tenang istri cantiknya itu, alis mata yang tebal, hidung kecil dengan tinggi yang sederhana juga bibir tipis yang kadang mengganggu fikirannya.

Ah, sayang sekali saat Aca tidur Dipta tidak bisa melihat lesung pipi  pada dagu yang diam-diam menjadi favoritnya itu.

Apa dari banyaknya kesakitan selama ini di hidupnya, Aca hadir sebagai bentuk kebaikan tuhan padanya?

Dipta tersenyum, perasaannya menghangat saat mengingat bagaimana pedulinya istrinya itu padanya semalam, dan pria itupun sadar bahwa dia telah membagikan bagaimana kesakitannya pada orang lain yang merupakan istrinya sendiri.

Aca tak pernah menuntut dan memaksa, Dipta sadar dari banyaknya keingintahuan sang istri, dia tetap menjaga privasi juga memberikan ruang untuk Dipta berbicara sendiri.

Eughh.

Tidur Aca perlahan terusik saat mendengar alarm Handphonenya berbunyi, dengan tangannya yang meraba meja di sebelah tempat tidurnya, Aca mencari handphone dan mematikan alarmnya.

Dia harus bangun, sebab bunyi Alarmnya menandakan shalat subuh sebentar lagi.

Sementara Dipta yang sejak tadi mengamati wajah Aca hingga saat dimana Aca terbangun secepat mungkin memejamkan matanya, berpura-pura masih tidur, dia cukup malu jika bangun dalam keadaan yang lebih intim seperti ini.

Aca menatap wajah Dipta yang sangat lihai bermain peran itu, dengan tangannya yang lembut, Aca mengelus kening milik sang suami, entah dengan maksud apa.

Sedangkan Dipta yang mendapati sentuhan Aca membuat tubuhnya seolah dialiri sengatan listrik yang hanya datang sepersekian detik lalu hilang kembali.

"Aca akan selalu disisi Dipta" ujar Aca pada Dipta yang dia kira masih tidur lelap dipelukannya.

Cup

Bukan hanya kata penenang, akibat terbawa suasana Aca malah mengecup kening Dipta dengan hangat.

"Omaigat, Aca malu lagi" ujarya, tangannya menutup mulutnya yang sudah lanang, pipi yang memerah sebagai bukti bahwa ucapannya benar-benar dia rasakan.

"Maaf yah Dipta, Aca nggak sengaja" lanjutnya, dia segera melarikan diri dari pelukan Dipta sebab akan sangat malu jika saja Dipta mengetahui kelancangannya.

Aca perlahan mengambil tangan Dipta yang masih bertengger di pingganya, dia harus segera bangun dan bersiap melaksanakan shalat subuh. Dipta yang merasakan itu, dengan terpaksa melemaskan tangannya, pasrah saat tangan Aca menjauhkan tangannya dari tubuh sang istri.

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang