Di dalam kamar Kai kini berisi Aca dan juga jenna, sedangkan di kamar Aca, ada Kai dan Dipta disana. Jenna baru saja membersihkan diri, itupun atas paksaan dari Aca, bukan karena Jenna tak menjaga kebersihan tubuhnya, hanya saja untuk melangkah selangkah dirumah kaipun, dia sangat sungkan.
"Jenna, ayo sini" Aca mengajak teman adiknya itu untuk berbaring di ranjang yang sebelumnya dia sudah ganti spreinya.
Jenna yang hanya duduk di kursi belajar Kai akhirnya berdiri juga dan menghampiri Aca yang sudah berbaring lebih dulu diatas pembaringan.
"Jangan sungkan, anggap aja kamar sendiri" ujar Aca kembali, berusaha membuat Jenna nyaman berada dikamar sang adik bersamanya.
"Kak Aca terima kasih" Jenna mengusap air matanya yang baru saja turun, dia tersentuh dengan segala kebaikan Aca, pertama menerimanya dengan hangat dan yang kedua, wanita itu memperlakukannya dengan baik.
Aca mengangguk sembari memberikan senyuman menenangkan yang dia punya "Jangan sedih lagi yah, kamu masih punya Kai, masih punya kak Aca"
"Aku benera nggak ngelakuin itu kak, aku difitnah, aku berani bersumpah" Kalimat cukup panjang yang pertama kali Jenna ucapkan selain kata maaf dan terima kasih sejak tadi.
Aca mengerti, jenna ingin menceritakan apa yang terjadi, meyakinkan dan ingin di percayai, sekalipun Aca sejak tadi tak menganggapnya berbohong sama sekali.
"Aku nggak tau salah ku apa sampai semua orang menatap jijik dan risih sama aku, di lingkungan tempat tinggalku, tempat kerjaku, bahkan di kampus pun begitu" ujar Jenna lagi
"Aku hanya miskin kak, tapi aku juga manusia" lanjutnya.
Aca juga ikut menangis, dia bisa merasakan bagaimana sulitnya hidup jenna selama ini, ditambah dengan lingkungan yang kerap kali mengabaikannya, Istri dari Dipta itu membawa jenna kedalam pelukannya, di dekapnya erat tubuh ringkih gadis itu dan Aca biarkan jenna menangis di pelukannya.
Jenna benar-benar menangis di dalam pelukan Aca, sudah lama dia menangis seorang diri tanpa ditenangkan siapapun, nangis sendirian sepanjang malam lalu esok paginya dia akan berusaha terlihat kuat kembali.
Perlahan tangisan itu mereda, Aca yang menyadari hal itu menunduk menatap Jenna dan wanita itu mendapati Jenna yang sudah terlelap walau dari wajahnya masih menyisahkan kesedihan yang terlihat disana.
Aca tersenyum namun air matanya kembali jatuh, dia yakin hari ini sangat melelahkan bagi jenna bahkan mungkin hari-hari sebelumnya pun demikian. Aca memperbaiki posisi gadis itu agar bisa nyaman tertidur malam ini.
***
Keadaan meja makan cukup sunyi pagi ini, walaupun ada banyak manusia yang mengitari meja makan yang luas, namun tak satu pun membuka suara untuk sekedar berbasa-basi.
Keluarga besar Aca, keluarga Kala dan juga gadis asing yang sejak tadi hanya menunduk, bahkan untuk memegang sendok dan menyuapi makanan yang sudah di ambilkan oleh Aca pun, gadis itu merasa takut.
Walaupun orang-orang yang berada disana belum mempertanyakan tentang keberadaannya di tengah-tengah keluarga Kai, namun jenna sudah merasa dikuliti hidup-hidup saat sorot mata dari orang yang berada disana menatapnya penuh tanda tanya.
Jenna menyesali, harusya malam tadi dia lebih bisa menolak saat Kai menawarinya menginap disini untuk malam ini saja, bukan karena keluarga Kai yang tidak baik dan tidak menghargainya, hanya saja menurut Jenna, ini memang bukan tempatnya.
Dia yang terbiasa makan bersama dengan anak-anak panti, lalu beberapa tahun ini berteman dengan sepi merasa canggung duduk di kursi bersama dengan keluarga besar Kai.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
