Terhitung sudah seminggu, Aca dan Dipta tinggal dirumah orang tua Aca, walaupun awalnya sangat canggung, Dipta semakin hari semakin bisa menyesuaikan diri.
Kaki Aca juga perlahan membaik, bahkan dua hari yang lalu gadis itu sudah mulai bekerja kembali, tentu saja atas antaran juga jemputan serta pantauan dari Dipta.
Aca tak bisa menutup mata mengabaikan segala bentuk perhatian dan perawatan dari Dipta, gadis itu diam-diam mencuri tatapan saat Dipta terlelap disampingnya.
Walaupun Aca tak kurang kasih sayang dari orang tua maupun keluarganya yang lain, tapi mendapati segala bentuk perhatian yang ditunjukan tulus oleh sang suami membuatnya merasa hal lain yang tumbuh bermekaran di hatinya, tanpa dia sadari.
Gadis itu tak menduga bahwa pria aneh yang dipertemuan pertama mereka langsung meminta maaf bahkan di depan keluarga besarnya itu kini resmi menjadi suaminya, dan Aca mengucap syukur telah dikirimkan sosok pria yang walau kadang perkataan dan sikapnya menyakiti namun mampu menyampaikan kasih sayangnya lewat caranya sendiri.
Di malam yang masih panjang ini, Aca mengamati bagaimana wajah tampan sang suami tertidur pulas disampingnya, jarak yang cukup dekat seolah sudah membuat Aca terbiasa dengan Dipta yang setiap malam akan memeluknya dengan alasan agar Aca tak banyak bergerak dan meminimalisir mengigau dalam tidur, alasan yang sebenarnya tak di percaya Aca sepenuhnya, namun anehnya dia bersikap menyetujui dan membiarkan tubuhnya di dekap hangat oleh tubuh sang suami.
Namun, bohong jika Aca mengatakan tidak memiliki kekhawatiran tentang pernikahanya kedepan dengan Dipta, pria yang dulunya pernah menabraknya dengan tak sengaja itu seolah masih banyak menyembunyikan hal besar padanya, juga tentang keluarganya yang tak pernah diperkenalkan dengan Aca.
Bukan, bukan Aca tak menerima latar belakang keluarga pria yang kini menjadi suaminya, hanya saja Aca merasa perlu setidaknya menyapa dan mengenalkan diri pada orang tua, atau minimal mama mertuanya yang masih hidup. Namun, Aca tak menutup mata bahwa hubungan Dipta dan sang ibu tak terikat baik.
Selain itu ada bayang-bayangan Lika di setiap Aca meyakinkan diri bahwa dia pantas untuk menjadi istri dari seorang Dipta, penulis terkenal yang karyanya tak pernah gagal, bagaimanapun sebelum adanya Aca, Lika terlebih dahulu berada disamping Dipta dan menawarkan sebuah hubungan nyaman, terlebih sampai saat ini Aca merasa Lika tak bisa menempatkan diri dan terkesan tak menjaga perasaannya sebagai istri.
Sekalipun Dipta sudah beberapa kali menjelaskan, namun nyatanya Aca sebagai wanita biasa cukup khawatir dengan masa lalu sang suami, terlebih masa lalu itu seperti Lika.
"Kamu bangun?" seolah merasakan kegelisahan Aca, Dipta baru saja membuka matanya dan mendapati mata sang istri yang kini menatapnya lekat.
"Iya, Aca lagi kedinginan" jawab Aca dusta, untuk saat ini hanya itu jawaban aman yang tak membuka kartunya bahwa dia sering memandangi Dipta diam-diam saat pria itu tertidur.
Mendengar itu, segera mungkin Dipta membenarkan posisi selimutnya hingga menutupi tubuh Aca, lalu pria itu juga semakin mendekap tubuh sang istri, berharap bisa menyalurkan kehangatan lewat itu "Maaf, aku pulas banget tidurnya"
"Bukan salah Dipta" jawab Aca.
Dipta mengelus lembut surai hitam milik Aca "Ya udah, kamu tidur lagi yah"
Pernyataan yang salah, sebab sampai di jam 11 lewat dua puluh menit itu, Aca belum pernah ikut terlelap sama seperti yag dilakukan Dipta disampingnya.
"Dipta, kalau Aca suruh milih antara Aca dan Lika, Dipta milih siapa?"
Demi apapun, Dipta yang tadinya masih merasakan kantuk itu kini hilang seketika, pertanyaan keramat sang istri di tengah malam ini berhasil membuat pria itu deg-degan walau dia sadar tak memiliki salah.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
