Dipta

2K 245 68
                                        


Romy sosok yang selalu mengusahakan kebahagiaan anaknya, menjaga dan melindungi dari lahir maupun batin kedua buah hati yang sangat ia sayangi.

Masih dia ingat dengan jelas, bagaimana bahagianya dia saat pertama kali Aca memanggilnya dengan sebutan "Ayah", Tak buram sedikitpun kenangan dimana dia mengajari Aca satu persatu huruf dan angka, lalu menyambungnya menjadi kata.

Romy tak akan bisa lupa bagaimana dia setiap tahun Akan selalu semangat menerima rapor Aca, walaupun nilainya jauh dari sempurna. Menurut Romy, selagi Aca menjadi anaknya, itu akan lebih dari apapun.

Tapi diantara kenangannya dengan Aca, ada hal yang sangat Romy ingin lupakan, perisitiwa yang membuat dunianya seakan hancur saat pertama kalinya dia bertemu dengan Aca, dan dihari yang sama, dia harus menyaksikan Aca kecilnya itu tergeletak ditanah dengan darah yang membersamai.

Dan setelah belasan tahun, setelah dia bersusah payah menghilangkan bayangan Aca yang terkulai lemas diatas aspal jalanan. Hari ini, seolah menjadi adegan dejavu, Romy kembali melihat kejadian yang sama, Aca-nya kembali terkulai lemas dengan darah yang telah bercampur dengan air hujan 

DIa yang selalu mengupayakan kebagaiaan dan menjaga perasaan Aca, ternyata dia yang berhasil melukai putrinya sendiri  Baik lahir maupun batin, baik fikis maupun psikis.

***

Romy terduduk lemas di depan ruangan yang didalamnya ada Aca yang sedang ditangani dokter. Penampilan Romy jauh dari biasanya, beberapa dokter yang mengenalinya bahkan tak berani menyapa ataupun sekedar menanyakan apa yang terjadi hingga dokter kebanggan rumah sakit itu kini terlihat berantakan dengan darah yang sudah mengering tertempel di bajunya.

Romy bagaikan raga yang kehilangan nyawanya, bahkan untuk sekedar memeluk dan menenangkan Salsa dia tak lakukan seperti hari-hari biasanya ketika istrinya itu menangis.

Bukan tidak ingin, hanya saja dia juga butuh untuk ditenangkan dan diyakinkan bahwa anaknya akan baik-baik saja

Kai terus saja menangis dengan kencang di pelukan Refal, Salsa yang sempat pingsan akhirnya sadar dan memaksakan diri menunggu putrinya di depan ruangan dimana putrinya kini sedang berjuang.

Salsa jauh dari kata baik-baik saja, wanita itu menangis tanpa suara dipelukan Nadila. Ingatannya kembali saat dimana sejak dalam kandungan hampir segala keinginan Aca tidak bisa dia penuhi, pun saat dia melahirkan putrinya itu dan mendengar suara tangisan pertamanya, lalu saat dimana Aca mulai tumbuh hanya berdua dengannya, putri hebatnya itu tak pernah sekalipun mengeluh tentang kehidupannya yang sangat terbatas.

Aca yang selalu memberikan semangat, seolah pelita di hidup gelap Salsa, Aca datang dan berjanji bahwa tak apa hidup hanya berdua dengan ibu, yang penting selalu Ada ibu di hidup Aca.

Dan Kali ini, bisakah Salsa membisikan janji itu pada raga lemah Aca, bisakah Salsa mengingatkan bawa Aca telah berjanji tak akan meninggalkan Salsa apapun yang terjadi.

Namun apakah Salsa sanggup jika akhirnya Aca akan mengingkari janjinya sebab ada takdir yang tak bisa dikendalikan, selain oleh sang pemilik kehidupan.

Paul baru saja tiba, tatapannya lekat pada Romy yang terlihat hancur begitupun dengan Salsa. Hanya dengan begitu, Paul mengerti di dalam sana kondisi Aca jauh dari kata baik.

Ah, padahal baru beberapa hari yang lalu, Paul mendengar tangisan Aca, mendengar ucapannya jika dia takut ditinggal, tapi kali ini kenapa justru Aca yang berpotensi pergi dan meninggalkan mereka semua.

Apa aca merasakan lelah dengan kehidupannya? Lelah hidup berdampingan dengan rasa takut, yang seringkali membuatnya hanya bisa memendam dengan menangis sendiri di dalam ruangan sepi, yang hanya dirinya dan ditertawakan oleh traumanya sendiri.

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang