Sejatinya, manusia kerap kali menghadapi hal yang tak pernah dia duga sebelumnya, tidak sesuai ekspektasi dan mengharuskan untuk dijalani. Seperti dengan Aca kali ini, berdua didalam mobil dengan Dipta membuatnya diam seribu bahasa, bahkan untuk bergerak sedikitpun dia enggan karena cukup takut degan pria disampingnya itu.
Ini sangat jauh berbeda dari ekspektasinya, dulu Aca selalu memimpikan dan berandai jika bertemu dengan Dipta kembali, maka dia akan mencoba membicarakan perihal yang di lalui pria itu dan tentunya meminta maaf terlebih dahulu.
Meminta maaf atas apa yang terjadi, juga janji yang tak sempat Aca tepati.
Namun kini, walaupun jarak yang tak lagi jauh, tetapi sangat terasa ada dinding pembatas yang di bangun oleh Dipta sendiri. Barangkali, Aca tak setakut ini, jika Dipta tak diam saja sejak tadi.
Nyatanya, Pria itu hanya diam, mengendarai mobil dengan keheningan yang sepertinya menjadi kesukaan pria itu sekarang.
Setengah jam yang lalu, Aca dikagetkan dengan permintaan Dipta mengenai kerja sama yang akan terjalin tetapi dengan syarat dia harus mengikuti pria itu hari ini.
Hal yang tentunya membuat Aca sempat mengira keliru dalam mendengarkan di ucapan pertama Dipta, tapi kembali di yakinkan saat pria itu mengulangnya bahkan menekankan kata yang menunjukan dia enggan untuk di tolak saat itu.
Sebuah permintaan tiba-tiba, padahal sebelumnya Dipta mengucapkan sebuah kata yang cukup tajam pada Aca, lalu detik berikutnya pria itu malah mengajak sang gadis itu pergi bersama, hanya berdua, sebab Yuda tak masuk dalam syarat.
Tak langsung di setujui, Aca merasa cukup khawatir karena Dipta yang saat ini sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Jika sebelum hari ini, Aca dengan yakin dan berkeinginan untuk bertemu dan berbicara berdua dengan pria itu, tapi hari ini, niat itu dia urungkan, Dipta tak lagi menatapnya dengan kehangatan sama seperti dulu.
Aca tentu saja merasa keberatan, ini pertemuan pertama mereka kembali, dengan situasi yang berbeda, lagipula Aca bisa melihat sorot mata Dipta, tak ada kemarahan untuknya.
Baru saja Aca ingin mengutarakan keberatan, Dipta kembali melanjutkan ucapannya "Saya ingin meninjau lokasi yang saya inginkan untuk tempat syuting nantinya"
Apa? Secepat itu? Aca semakin dibuat kaget mendengar alasan yang tak masuk akal baginya. Mereka bahkan belum tanda tangan kontrak untuk hak adaptasi novel senja terakhir menjadi sebuah film layar lebar, tapi Dipta sudah mengajukan sebuah tempat syuting yang akan digunakan nantinya.
Kembali Aca ingin berbicara untuk mengungkapkan penolakan, hanya saja kali ini Yuda yang menyerobot dan membuat Aca tak jadi bicara "Oh, kalau seperti itu, baik mas Dipta. Kami dari pihak rumah produksi akan berdiskudi dan menjadikan keinginan mas Dipta sebagai prioritas utama"
Sepenggal ucapan yang membuat Aca melotot sempurna menatap Yuda yang nampak biasa-biasa saja, tak bersalah sama sekali. Namun, detik selanjutnya, Aca disadarkan bahwa saat ini dia sedang dalam mode bekerja dan membawa nama baik perusahaan juga kemenangan yang di harapkan reka-rekan kerjanya yang lain.
Bukan hanya itu, ada karir yang baru saja dia bangun, ada ego dan harga diri yang dia pertaruhkan didepan sang ayah. Aca sadar bahwa jika kerjasama ini tidak menemukan kata sepakat akibat dirinya, maka bisa di pastikan karirinya hanya berjalan tiga hari saja di rumah produksi ini.
Aca sangat ingin membuktikan diri pada keluarganya terlebih pada ayahnya, bahwa dia sendiri bisa bertanggung jawab dengan apa yang dia pilih.
Akhirnya, Permintaan Dipta, persetujuan dari Yuda dan juga ketakutan dan harga diri Aca, akhirnya membawa Aca kini duduk disamping pengemudi yang ada Dipta disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
