Dirawat suami

1.5K 242 153
                                        

Dengan sangat hati-hati Dipta menurunkan Aca dari gendongannya ke sofa ruang tamu, sementara Aca hanya diam sebab merutuki dirinya sendiri karena telah merepotkan orang lain lagi.

"Aku ambilin obat merah dulu" ujar Dipta sesaat setelah menurunkan Aca.

Aca hanya mengangguk sembari memperhatikan bagaimana Dipta dengan sigap dan telaten mengurusnya, ada kehangatan namun juga rasa tak enak hati yang dia rasakan.

Hanya hitungan detik, Dipta telah kembali membawa obat merah di tangannya, dengan wajah yang masih panik dan khawatir Dipta menggulung lengan baju Aca yang  terdapat luka di sikunya.

"Maaf Dipta, Aca ngerepotin lagi" lirih Aca, matanya berkaca-kaca entah menahan perih dari sakitnya atau rasa bersalahnya yang kian hadir saat ini.

Mendengar itu Dipta menghentikan tangannya yang tadinya mulai mengolesi obat merah dengan kapas, pria itu lalu menatap wajah yang baru saja mengucapkan hal yang sangat tak ingin Dipta dengar.

"Kalau kamu ngomong gitu lagi, aku cium kamu" ujar Dipta, wajahnya datar namun tak terlihat guyonan ataupun kebohongan dari ucapannya.

Aca sampai merapatkan kedua bibirnya, cukup takut dengan ancaman dari suaminya itu, dia bahkan tak berani meringis saat luka yang diobati Dipta bersentuhan dengan kapas berisi obat merah.

Setelah mengobati beberapa luka Aca, Dipta beralih pada kaki kanan yang kini sudah terlihat membengkak "Kaki kamu keseleo, kita kerumah sakit yah"

Aca segera menggeleng, tanda dia tak menyetujui hal itu, menurutnya luka-luka kecil ditubuhnya tak perlu mendapatkan perawatan rumah sakit, terlebih keluarga besarnya akan semakin khawatir jika dia sampai dirawat.

Dipta mengelus lembut pipi sang istri "Atau mau di panggilin tukang urut aja?"

Tak langsung menjawab, seumur-umur Aca belum pernah merasakan tangan ajaib tukang urut yang katanya bisa menyembuhkan luka yang seperti lukanya "Aca takut, nanti sakit"

"Tapi kalau nggak di apa-apain, sembuhnya lama" ucap Dipta lembut.

"Nggak apa-apa, Aca janji nggak bakalan repotin Dipta lagi"

"Bukan gitu makud aku Aca, aku cuman mikirin kenyamanan kamu, kalau kakimu sakit gini gimana kerjaan kamu?" Dipta mengambil alasan kerjaan, berharap Aca akan setuju setelahnya.

Aca kembali diam, namun matanya kian keruh karena air mata yang menampung di kelopak matanya "Tapi Aca takut"

Ah, kalau sudah begini Dipta tak bisa lagi melakukan apa-apa, dia benci air mata Aca juga wajah sedih yang ditunjukan gadis itu sekarang. Akhirnya Dipta membawa Aca kedalam pelukannya "Ya udah, nggak usah yah, aku akan rawat kamu sampai sakitnya nggak terasa lagi"

Aca mengangguk dalam pelukan Dipta, walau tak ingin merepotkan tapi Aca tak punya pilihan lain sekarang.

Kruuk

Suara perut dari Aca akhirnya membuat pelukan mereka terlepas, Dipta menatap wajah Sang istri bergantian dengan perut milik gadis itu "Kamu lapar?

Pertanyaan yang sebenarnya sudah bisa dia jawab, hanya saja dia butuh validasi dari istrinya "Iya, tadikan Aca beli bakso tapi baksonya juga ikut jatuh"

Dipta baru ingat, Aca tadi sempat menyinggung soal bakso, tapi karena kepanikannya dia tak menggubris hal itu.

"Aku beliin yah, kamu nggak apa-apakan aku tinggal?" tanya Dipta

"Habis shalat maghrib aja" jawab Aca.

"Tapi ta, kenapa kita nggak pake motor aja pulangnya tadi, motornya nggak sampe rusak ko" lanjut Aca

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang