Balai desa yang biasanya nampak sepi saat malam hari, kini berubah menjadi hiruk piruk suara manusia mencemoh dan menghakimi, tindakan tercela yang mereka dapat di ujung kampung membuat penduduk asli desa itu murka.
"Kita haruss nikahin mereka pak, sawah dan kebun bisa gagal panen kalau diloloskan" teriak salah satu warga.
"Betul" lalu seruan persetujuan datang dari hampir semua orang yang berada disana.
Aca sejak tadi hanya diam dengan air mata yang tak kunjung reda membasahi pipinya, sekuat apapun dia menjelaskan, selalu saja tak di percaya dan lagi-algi dituduh sebagai pembuat Dosa dan Pezina.
"Kita nggak lakuin apa-apa pak, saya berani sumpah" Ujarnya, kembali berusaha.
"Nggak ngelakuin apa-apa ko, sampai cowoknya buka baju. Kalau mau cari alasan yang masuk akal dikit neng"
"Sebaiknya kita tunggu keluarga kalian saja dulu, baru selanjutnya kita memutuskan untuk kedepannya" Seorang pria tua memberikan saran, menyuruh Aca agar diam saja supaya warga disana tak semakin geram.
Satu jam yang lalu, Aca dipaksan untuk menelfon keluarganya dan meminta untuk datang, mau tidak mau Aca harus melakukan itu setelah mendapat berbagai ucapan ancaman dari penduduk asli desa itu.
Dengan suara bergetar dan ucapan yang nyaris tak terdengar, Aca menelfon sang ibu untuk memberi tahu perihal keadaannya sekarang, tak menjelaskan secara detail, Aca hanya meminta untuk Salsa segera datang ketempat yang Aca sebutkan melalui sambungan telfon dari handphone pak Sanusi, yang merupakan petuah desa tersebut.
Sementara Dipta, sejak tadi hanya diam, tak memberi bantahan tuduh ataupun mendukung pembelaan Salsa mengenai tindakan mereka yang tak keluar dari batas norma. Pria itu hanya diam dan terlihat tenang, seolah menikmati atensi warga terhadapnya.
"Dipta, ayo ngomong, bilang sama mereka kalau kita nggak macam-macam, aku cuman bantu ganti baju kamu, nggak lebih" Dan ucapan kesekian kali Aca terhadap Pria itu kembali tak ditanggapi.
Jika saja Aca punya mesin waktu, maka dia pastikan akan tega membiarkan pria itu kedinginan, dan kemungkinan buruk akan mengalami hipotermia. Aca tak menyangka, niat baiknya ternyata menjebak pada suatu situasi yang tak pernah dia bayangkan.
Suara mesin mobil mengalihkan perhatian orang-orang yang berada disana, tepat saat mobil berhenti, seorang pria dan wanita turun dari mobil mewah itu, dia adalah Romy dan Salsa.
Dengan langkah tergesa, keduanya segera menuju bangunan yang ramai akan orang-orang, Salsa dan Romy tak bisa menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi kekhawatiran tentang anak perempuan semata wayangnya "Assalamualaikum, permisi pak saya Romy dan ini istri saya, Kami berdua orang tua Aca"
Suara keributan seketika hening, bagai seorang tamu penting, Salsa dan Romy dibukakan jalan oleh warga yang sejak tadi berdiri dan menutup pintu utama ruangan itu.
"Aca" lirih Salsa, segera dia dekap tubuh anaknya yang sejak tadi gemetar ketakutan. Aca kembali terisak dipelukan surganya, menyembunyikan wajah yang sejak tadi dihina orang-orang.
Dibanding Salsa yang segera mendekap tubuh putrinya, berbeda dengan Romy yang langkahnya mendadak berhenti bahkan saat dia belum sampat memastikan kondisi Aca.
Rasa khawatir yang membawanya ketempat ini, sekarang bercampur dengan rasa terkejutnya melihat bahwa disebelah sang anak, sedang duduk sosok pria yang sedari dulu dia cari.
"Dipta" lirihnya.
Bertepatan dengan itu, Dipta juga sedang menatap kearahnya, pandangan mereka bertemu namun rasanya tak lagi sama, terlebih dari netra Dipta, jika dulu pria itu menatap Romy dengan tatapan menghormati dan menghargai, kini hanya ada tatapan dingin mengisyaratkan dendam yang dinaungi.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romantik"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
