Aca memandang lurus pada brankar tempat adik kesayangannya itu tengah berbaring lemah, bagaimanapun jahilnya sang adik, kasih sayang Aca megalir deras untuk Kai. Aca tak menyangka bahwa keadaan Kai seperti ini sekarang.
Awalnya Aca mengira bahwa adiknya ikut dalam tawuran sehingga membuatnya celaka dan berkahir di tempat ini. Tapi, ternyata dugaannya salah sebab faktanya Kai merupakan korban kebrutalan dua kelompok anak SMA yang melakukan serangan dan mengabaikan bahwa ada sosok anak SMP yang terjebak disana.
Kai, yang akan pulang dan menunggu jemputan di depan sekolah seperti hari-hari sebelumnya dikejutkan ketika sadar bahwa dirinya berdiri di tengah-tengah dua kelompok pelajar SMA yang melakukan penyerangan
Kai sebenarnya sudah biasa melihat tauran di depan sekolahnya, sebab posisi sekolahnya yang berada di tengah-tengah SMK dan STM, menjadikan sekolahnya sebagai titik temu antar dua kelompok pelajar tersebut
Baru kali ini, Kai terjebak disituasi yang tak pernah dia duga sebelumnya.
Dan hasilnya, kai tak bisa lolos dari beberapa pukulan dan tendangan yang membabi buta. Pria yang baru berusia 15 tahun itu harus menjadi korban padahal dirinya tak bersalah ataupun terlibat sama sekali.
"Ini salah ayah, harusnya ayah nggak lupa kalau hari ini pak candra nggak bisa jemput Kai" Romy yang duduk disamping Aca terus saja menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada putranya.
Pagi tadi setelah mengantar Kai ke sekolah, Pak candra mengabari pada Romy bahwa siang nanti dia tak bisa menjemput Kai karena anaknya sedang ulang tahun. Biasanya, saat pak candra tak bisa menjemput Kai, Romy akan menjemput putranya itu sendiri ataupun menugaskan Aca menjemput adiknya.
Hanya saja, karena kesibukannya hari ini dia lupa untuk menjemput kai ataupun mengabari Aca agar menggantikannya.
Sayangnya, penyesalan Romy tak bisa meredakan sakit disekujur tubuh Kai, dan...
Bukan hanya sakit sebab setelah bangun tadi kai hanya diam dan tiba-tiba berteriak histeris entah karena apa.
Dokter mengatakan bahwa nampaknya kai saat ini mengalami trauma akibat apa yang menimpanya siang tadi, suara keras, pukulan benda tajam dan tendangan yang dia dapatkan membuatnya trauma.
Dibanding Romy dan Aca, Salsa nampaknya tak bisa menahan untuk tidak menangis disamping sang putra yang kembali tidur setelah diberikan obat penenang. Salsa sejak tadi hanya bisa menangis melihat kondisi putranya.
Putra sematawayangnya yang jahil dan terus bermanja padanya, kini terbaring lemah di brankar rumah sakit, dan dia tak bisa berbuat apa-apa.
Pukul delapan malam, seluruh keluarga Romy dan Salsa berkumpul di ruang rawat Kai. Paul sejak tadi mencoba mengajak Kai berbicara dan Nadila yang berada disampingnya mencoba memberikan semangat untuk keponakannya itu.
Mama Rosa menenangkan Salsa yang masih dalam isakannya walau tak sekeras tadi, sedangkan ayah Abi memberikan semangat pada Romy yang sedari tadi hanya diam dan menatap lurus pada sang anak.
Salsa berdiri seorang diri di depan pintu, memberi jarak pada keluarganya yang lain, tak ada yang mengetahui bahwa diapun saat ini butuh pelukan ataupun kalimat penenang setidaknya mengatakan bahwa Kai akan abaik-baik saja.
"Anak daddy ko ngelamun sih" Suara Refal seolah merupakan kiriman Tuhan untuk menenangkan Aca.
Refal menyadari bahwa Aca sejak tadi hanya diam, dan memisahkan diri. Pria itu sontak memeluk Aca dan mengelus lembut kepala gadis itu.
Mendapati perlakuan seperti itu dari Refal, Aca yang sejak tadi menahan tangisnya seketika luruh dalam dekapan Refal
"Udah, Kai nggak apa-apa kok. Kamu tenang yah"
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
