Dipta pergi

902 161 28
                                        

Aca duduk seorang diri diteras rumahnya, bukan lagi di vila ataupun dirumahnya bersama Dipta, namun wanita itu saat ini sudah berada dirumah keluarganya, rumah tempat dia tumbuh sebelum menjadi seorang istri.

Ini sudah hari seminggu setelah pertemuan terakhirnya dengan Dipta, setelah hari itu sang suami tak lagi memberi kabar, tak lagi datang dan tak lagi meramaikan notifikasi ponsel Aca.

Semuanya kosong, baik pesan, telfon ataupun suara teduh Dipta yang mengisi hari-hari nya. Aca merasakan gelisah dan khawatir tentang keadaan yang tiba-tiba berubah mendadak seperti ini, kemana suaminya? Kenapa hari itu dia pergi padahal Aca ingin ikut pulang bersamanya?

Ingatan tentang bagaimana bingungnya Aca saat dimana Dipta tak lagi berada direstoran yang sama dengannya hari itu, padahal Aca sudah memutuskan untuk ikut dengan sang suami, dia membulatkan tekad untuk memulai semuanya kembali, dan menjadikan kejadian dulu sebagai pembelajaran untuknya dan juga Dipta.

Namun, yang dia dapati hanyalah kehampaan, Dipta tak lagi disana seolah tak lagi ingin menunggu dan memutuskan menyerah, Aca mencari kemana pergi suaminya itu, menghubungi telfon yang tak lagi bisa tersambung pada nomor telfon Dipta dan Aca mendatangi setiap tempat yang bisa saja ada Dipta disana, tak terkecuali rumah mereka, tempat dimana Aca masih menyisahkan trauma saat melihatnya.

Hanya saja, hasilnya nihil, Dipta tak berada dimana-mana, baik dirumah ataupun tempat yang biasanya dia datangi, bahkan meninggalkan segala persiapan adaptasi novelnya, juga promosi untuk novel barunya yang baru saja terbit.

Dan disinilah Aca sekarang, menunggu Dipta diteras rumahnya bahkan saat malam sudah menunjukan larutnya, berharap untuk waktu yang ada, Dipta datang dan menjemputnya kembali, seperti yang selalu suaminya itu lakukan saat Aca memutuskan untuk menenangkan diri di Villa.

"Sayang, masuk dulu yuk, ini udah mau jam 10" Salsa datang menghampiri putrinya, ibu dari dua anak itu cukup tau bagaimana yang dirasakan Aca saat ini.

"Sebentar bu, kayaknya sebentar lagi Dipta datang" jawab Aca.

Dalam penyesalannya, Aca meribukan kata seandainya yang tak bisa lagi dilakukan, seandainya dia tak memisahkan dirinya dengan sang suami untuk menenangkan diri, seandainya Aca mengikuti ajakan Dipta untuk pulang, dan seandainya Aca bisa menjaga jarak untuk tak lagi bertemu dengan orang-orang yang telah menyakiti hati suaminya.

Hanya kata seadainya, namun jika dulu dia lakukan itu, mungkin saja semua akan berbeda saat ini, mungkin saja sudah ada Dipta yang bersamanya sekarang.

"Ca, kita tunggu hasil pencarian daddy sama ayah yah, ibu yakin mereka bisa nemuin Dipta"

Aca menggeleng lemah, dia tak ingin menunggu sebab sudah beberapa hari dia gantungkan harapan pada pencarian keluarganya tapi tak ada hasil yang mereka dapatkan.

"Dipta dimana bu? Dia baik-baik saja kan?" Suara Aca mulai bergetar, sebab sungguh dibalik semua dugaannya, ada kekhawatiran yang sangat dia takutkan.

Bagaimana kalau Diptanya terluka? Bagaimana jika Dipta sakit dan tak ada yang merawatnya?

Demi apapun, Aca akan lebih siap jika Dipta membencinya karena sikapnya selama ini, dibanding jika pria itu terluka.

"Dipta akan baik-baik saja nak, kamu doain suami mu yah" jawab Salsa, berusaha untu menenagkan fikiran kacau putrinya.

Salsa sangat tau bagaimana perasaan anak perempuannya itu, sebab dia pun pernah diposisi merindukan sang suami yang hingga bertahun lamanya, oleh sebab itu, Salsa tak ingin anaknya merasakan hal yang sama, karena sungguh perasaan tersiksa menahan rindu pada orang yang sangat dicintai sangatlah menyiksa.

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang