Menenangkan diri

1.5K 263 68
                                        

Seluruh keluarga Aca sudah berdiri menunggu dengan was-was beberapa ahli medis memeriksa Aca di dalam. Kali ini Romy memberanikan diri menarik Salsa kedalam dekapannya, walaupun dirinya sendiri tengah diliputi rasa khawatir, Romy berusaha memberikan setidaknya ketenangan untuk istrinya yang sejak tadi menangis.

Kai, adik laki-laki dari Salsa menatap lurus pada pintu yang sedang tertutup rapat, remaja yang baru menginjak bangku SMP itu sejak tadi merapalkan doa untuk kesadaran kakak tersayangnya.

Kai seminggu ini lebih banyak diam, pria yang sangat jahil juga cerewet seperti Aca kini seolah keilangan dunianya yang dulu dan menjelma menjadi pria dingin tak tersentuh.

Diamnya Kai ternyata menyimpan banyak hal, selain karena mengkhawatirkan kondisi kakaknya, adik dari Aca itu juga tengah diliputi rasa bersalah, menyalakan dirinya sendiri atas kejadian naas yang menimpa kakak perempuannya.

"Boy, kakak kamu pasti baik-baik saja. Dia anak yang kuat" Refal mungkin adalah orang yang paling peka terhadap diamnya Kai, pria itu mencoba kembali menenangkan keponakannya untuk hal-hal yang buruk yang ada difikirannya.

"Daddy, ini salah Kai" lirihnya, dan akhirnya air mata yang sejak tadi dia tahan kini menetes bersamaan dengan ucapan rasa bersalahnya.

Refal sudah menduga bahwa keponakannya itu pasti menyalahkan diri atas apa yang menimpa Aca "No boy, Ini adalah takdir dan bukan kamu penyebabnya. Berhenti menyalahkan diri terus nak"

Kai yang dalam posisi duduk akhirnya memeluk Refal yang saat ini berdiri di depannya. Sebuah emosi akibat rasa khawatir beradu dengan rasa bersalah membuat tangisan remaja pria itu akhirnya luruh juga.

Kai menangis terisak didalam pelukan Refal, dia merindukan sosok kakak perempuan yang selalu saja dia jahili, pun pertengkaran yang sekarang entah karena apa ingin Kai ulangi lagi.

Bukan untuk menyakiti Aca, tapi untuk agar Aca bangun lalu pulih kembali dan mengajaknya berbdebat untuk hal-hal yang tidak penting.

"Bangun kak, Kai rindu kakak" gumamnya, berharap ucapannya dapat di dengar oleh Salsa yang entah bagaimana keadaanya didalam ruangan dingin yang berada di depannya.

Nadila melihat bagaimana tangisan Kai sekarang mencoba mendekat untuk sekedar mengelus pundak sang ponakan yang sedang dalam keadaan hancur itu.

Nadila paham, bagaimanapun sedihnya dia dengan kondisi Aca, namun Salsa, Romy juga Kai lebih sedih dibanding siapapun.

"Kai, Aca akan bangun, bunda yakin. Kamu jangan salahin diri kamu terus, ini sudah takdri Allah untuk perjalanan hidup Aca" ujar Nadila mencoba menenangkan.

"Bagaimana kalau kakak nggak bangun bunda? Kita bahkan belum ke timezone seperti rencana terakhir kak Aca sebelum dia ditabrak" Bahkan dari banyaknya kata afirmasi untuk Kai agar tak berfikiran buruk, nyatanya remaja pria itu tetap saja diselimuti ketakutan.

Takut akan ditinggal, takut akan kakak Acanya masih tetap tidur lagi, atau bahkan akan pergi untuk selamanya.

"Nggak Kai, Aca akan baik-baik saja. Aca akan bangun dan ngerayain ulang tahun ibu" Salsa menepis semua fikiran buruk putranya, walaupun kenyataannya dia pun sedang dilanda ketakutan tentang apa yang terjadi pada putrinya di dalam

Mama Rosa, papa Raka, Ayah abi juga ibu Nita hanya bisa berdoa untuk cucuk pertama mereka, Aca yang selalu menjadi rebutan mereka dulu, kini terbaring lemah di dalam ruangan dingin sedang berjuang antar hidup dan matinya.

Hingga, pintu terbuka dan keluar seorang dokter wanita yang tersenyum kearah keluarga Aca

"Bagaimana kondisi anak saya dok?"

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang