Di sebuah cafe yang bernuansa klasik, seorang pria kini sedang duduk dengan perasaan senang tak sabar bertemu dengan wanita yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya, dia bahkan datang tiga puluh menit dari waktu yang ditentukan.
Pria itu adalah Bara, tak sabar segera bertemu dengan Aca setelah malam tadi wanita itu menghubunginya dengan alasan ingin bertemu.
Menit-menit berlalu, hingga tepat di pukul tiga, Aca memasuki cafe dengan dua orang yang mendampingi.
"Caaa" Saking tak sabarnya, Bara sampai memanggil wanita itu agar segera mengetahui keberadaannya.
Tentu saja, karena panggilan Bara yang cukup kencang, membuat Aca dengan mudah menemukan pria itu, dengan wajah yang tak bisa terbaca, Aca menghampiri Bara yang kini sedang tersenyum hangat menyambutnya.
Awalnya Bara fikir, Aca akan datang seorang diri, mungkin saja wanita itu menyadari bahwa dia lebih baik dari Dipta, dan Aca membuka peluang untuk menggantikan posisi pria itu.
Hanya saja, saat dimana Aca datang dan duduk tepat di depan Bara, seorang gadis dan seorang pria juga ikut serta duduk disana.
"Caa... Merekaaa?" Tanya Bara cukup ragu.
"Mereka adik-adik aku, nggak masalah kan Bar?"
Dengan cukup kecewa Bara mengangguk, tak mungkin juga dia mengusir dua orang yang kini sedang menatapnya tajam, entah karena alasan apa.
Bara ikut duduk, setelah sebelumnya berdiri sebagai bentuk sambutan untuk Aca, sayangnya wanita yang dia sambut tak cukup mengapresiasi apa yang dia lakukan, terlihat dengan Aca yang hanya diam, tatapan mata yang tak bisa Bara baca.
"Mau pesan apa Ca? Aku nggak pesenin kamu karena aku nggak tau kamu suka apa?"
"Aku sukanya Dipta" Jawab Aca
"Hah?"
Dibanding Bara yang nampak bingung, Kai dan juga Kaila sudah cukup mengerti peringai sang kakak, mereka berdua hanya menghela nafas pasrah saat Aca memperlihatkan kebucinannya di depan orang lain.
"Nggak, lupain aja. Lagipula aku cuman sebentar"
Kai dan Kaila yang duduk di sebelah kanan dan kiri Aca sontak menatap si sumber suara, keduanya melayangkan protes lewat tatapannya, bukannya tadi Aca mengatakan akan mentraktir mereka makan apapun, asal menemaninya kesini.
Lalu, ucapan barusan seketika mengingkari janji yang belum dua puluh empat jam dibuat itu.
"Kenapa buru-buru ca?"
"Aku lagi sibuk " Jawab Aca.
"Kamu sibuk apa sekarang? Kamu ngundurin diri saat ikut andil dalam proyek besar, sayang banget"
"Sibuk nyari suamiku yang pergi karena omong kosong mu" Aca mengucapkan kalimat yang sejak tadi dia tahan, dibanding berbasa-basi Aca lebih suka mempersingkat pertemuan apalagi dengan orang yang tidak jelas seperti Bara.
"Maksud kamu?"
"Kamu ngomong apa sama suamiku saat kalian bertemu dulu?" Tanya Aca
Bagai pelaku kejahatan yang akhirnya tercium oleh keluarga korban, Bara dibuat gugup saat sorot mata Aca tak lagi ramah padanya "Aku nggak ngerti maksud kamu apa ca?"
"Berhenti berpura-pura Bar, aku yakin kamu ngomong sesuatu sama Dipta sampai buat dia pergi sampai hari ini"
Yang tadinya merasa gugup, mendengar itu bara menciptakan seringai kepuasan diwajahnya "Oh jadi suami pengecut itu kamu pergi? Baguslah, dia kahirnya sadar posisinya sekarang"
Walau dalam tangan yang sangat ingin menampar Bara saat ini juga, Aca memilih diam membiarkan Bara mengucapkan segala omong kosongnya.
"Ca, ayo buka mata kamu, dia nggak pantas buat kamu!, Dia tidak lebih dari seorang pembawa sial, yang bisa membahayakan hidup kamu jika kamu masih jadi istrinya"
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
