Bagai ada harapan tentang siatusi yang sejak tadi membuatnya heran. Aca, menatap pria disampingnya dengan mata yang berbinar.
"Halo, aku Aca. Nih gelangku ada namanya" ujarnya ramah, sebaik mungkin memperkenalkan diri lalu menunjukan gelang yang berada di tangan kanannya.
Alih-alih mendapati balasan yang sama, Pria yang bernama Dipta itu hanya menatap tajam kearah Aca, seolah melayangkan protes atas ketidaksukaannya.
"Kok nggak jawab, kamu nggak bisa lihat Aca juga seperti manusia-manusia yang lainnya?" Aca menarik tangannya kembali, setelah sebelumnya sempat mengulurkannya pada Dipta.
Nampaknya, Aca tak memberikan kesan baik untuk pertemuan pertamanya pada Dipta, terbukti dari pria itu yang saat ini bahkan sudah mengira Aca adalah pasien poli jiwa yang nyasar di koridor rumah sakit.
"Lo pikir lo setan jadi nggak kelihatan?"
Setan? Benarkan begitu? Aca meringis mendengarnya, apakah sejak tadi tak ada manusia yang menghiraukannya karena dia adalah makhluk tak kasat mata sekarang.
Tapi bagaimana dengan Dipta yang bisa melihat keberadaannya? Aca segera menepis pemikiran sebelumnya, mungkin saja orang-orang memang sedang dalam mode tak ingin menyapa ataupun membantunya.
"Emang ada setan secantik Aca?" gerutunya cemberut. Pria dihadapannya ternyata mempunyai mulut setajam silet.
"Kata siapa lo cantik?" sebuah pertanyaan yang lebih dapat dikatakan Sarkas dari Dipta
"Aca kan perempuan makanya Aca cantik. Kalau Kamu kan laki-laki, makanya ganteng" Ekspresi Aca tiba-tiba berubah, menelisik wajah pria yang berada di depannya kini.
Tampan? Aca sangat sangat mengakui, mata teduh dengan hidup yang cukup mancung disertai dengan alis tebal yang membuatnya mendekati kata sempurna. Hanya saja, wajahnya tak mencerminkan sikap ketus yang dimiliki Pria itu.
"Mending lo pergi dari sini" Dipta menahan kekesalannya sejak tadi, karena bagaimana pun yang di depannya sedang mengoceh adalah wanita, namun kini Dipta tak bisa menahan lagi, dia membentak Aca cukup keras, yang kini sementara tersenyum manis kearahnya.
Hanya saja, keanehan terjadi sesaat setelah Dipta mengusir Aca, beberapa orang yang berada disana sontak menatap Dipta dengan pandangan aneh. Beberapa segera memberi jarak dan menjauhi tempat Ditpa sekarang, pun ada yang dengan berani mengatakan...
"Dia gila yah?"
Mendengar itu Dipta melotokan matanya tak percaya, yang benar saja hanya karena membentak seorang gadis bisa dikatakan dia gila, tidak tau saja mereka bagaimana menyebalkan gadis yang berada dihadapannya ini.
Bukan hanya Dipta yang merasakan bahwa mereka sekarang menjadi sorotan, Aca pun demikian. Setelah sejak tadi berharap orang-orang menyadari kehadiran dan tak mengabaikannya, kini Aca merasa senang karena saat ini dia adalah pusat perhatian.
Gadis itu memamerkan senyuman ramahnya, seolah menyapa satu persatu orang-orang yang kini menatap kearahnya dan Dipta.
"Gue rasa yang dikatain Gila itu lo" ujar Dipta setelah melihat bagaimana Aca dengan tak tau malunya malah senyum-senyum saat orang-orang menatap aneh kearah mereka.
"Aca nggak gila yah, Aca cuman senyum aja. Emang kamu bisanya marah-marah doang"
"Nggak ada yang nyuruh lo senyum-senyum disini, pergi lo dari sini" pengusiran kedua dilakukan Dipta, berharap kali ini Aca menuruti keinginannya.
Namun, bukan ucapan Aca yang Dipta dengar. Melainkan, beberapa orang kembali menggunjingnya, menatapnya penuh keheranan.
"Ganteng-genteng ko ngomong sendiri"
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romansa"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
