Hari itu terasa cukup hangat, tampak salju yang mulai sedikit demi sedikit mencair namun belum sepenuhnya mencair dan masih menyisakan butiran putih yang masih menghiasi tanah.
Tampak seorang pria parubaya menghentikan kudanya tepat didepan gerbang setinggi 4 meter.
Tanpa turun dari kudanya, dia menunjukan selembar kertas dengan lambang mawar hitam.
"Tolong sampaikan kepada yang mulia, Count Marlina dari wilayah barat ingin menghadap"ucap pria parubaya itu dengan wajah datar dan suara tinggi.
Pengawal tsb langsung membuka gerbang tinggi tsb.
Setelah menyerahkan kuda kepada seorang pelayan biasa, pria parubaya itu langsung di arahkan oleh ketua Butler melewati lorong yang dipenuhi dengan pajangan emas tsb.
Setelah sampai di depan sebuah pintu, kepala pelayan mengetuk pintu pelan.
"Yang mulia, maaf menganggu anda. Tuan count Marlina ingin menghadap anda"ucap kepala pelayan tsb.
"Biarkan dia masuk!"ucap suara dari dalam.
"Silahkan tuan count"ucap kepala pelayan sembari membuka pintu setinggi 3 meter yang terbuat dari kayu dengan cat berwarna putih bone.
Ketika pria itu masuk, tampak kaisar sedang duduk di meja kerjanya dengan sedikit keringat yang menghiasi keningnya.
Struk
Pria itu segera berlutut, dia menyilangkan tangan kirinya di depan dada.
"Semoga dewa keadilan senantiasa memberikan kemakmuran dan kebahagiaan untuk anda, yang mulia"ucap count sembari menundukkan kepalanya.
"Bangkitlah, count Marlina, hal penting apa yang kiranya membawamu datang dari wilayah barat ke ibukota tiba tiba seperti ini?"tanya kaisar masih duduk di kursinya.
"Izinkan hamba tetap berlutut Baginda, maafkan kelancangan saya namun kedatangan saya disini semerta-merta ingin meminta bantuan "ucap count Marlina tetap berlutut di lantai.
"Bantuan?, bantuan apa yang kau inginkan dariku, count Marlina?"tanya kaisar masih duduk di posisi yang sama.
Namun tubuh nya tampak condong keatas dengan tangan menyentuh meja.
Srrrt
Count Marlina tampak mengangkat wajahnya dan menatap wajah kaisar dengan pasti.
"Izinkan saya menjadi pemimpin pasukan garis depan dalam upaya penghancuran wilayah Utara, yang mulia"ucap pria itu.
Pupil coklatnya tak sedikitpun menunjukan keraguan, sorot matanya menatap lurus kepada sepasang mata hitam milik kaisar.
"Tolong biarkan saya menjadi orang pertama yang memenggal kepala Duke Utara, oleh karna itu tolong izinkan saya menjadi kepala pasukan dalam rencana penghapusan wilayah Utara"ucap count Marlina dengan mata memerah.
Wajahnya merah padam karna emosi yang mulai menggerogoti pikirannya.
Diluar ruang kerja tsb, tampak seorang pria dengan rambut merah tua pendek berdiri disana sembari menyandarkan punggungnya di dinding dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada.
Pria itu memutar matanya sekilas lalu beranjak pergi.
Pangeran Rosseh terus melangkah melalui lorong panjang itu, hingga kakinya berhenti di bangunan berbeda tempat adiknya tinggal.
2 pengawal yang tampak mengantuk dan abai yang hanya berdiri didepan pintu tempat adiknya terbaring sakit.
"Apa Abel sudah makan?"tanya pangeran Rosseh kepada pengawal yang menguap.
"Entahlah"jawab pengawal tsb singkat.
Pangeran Rosseh hanya menggepalkan tangannya erat-erat sambil menggigit ujung bibirnya
Lalu tanpa banyak bicara, pria itu masuk kedalam ruangan gelap tsb.
Bau amis dan Nana yang begitu menyengat langsung menusuk hidung Rosseh.
Mata merahnya tertuju kepada seorang anak lelaki yang duduk di sisi tempat tidur sembari membelakanginya.
Tubuh anak itu di penuhi perban yang sudah memerah dan lengket dengan tubuhnya.
"Abel, kata pengawal kau melewatkan sarapan mu lagi"ucap pangeran Rosseh mendekat.
Anak itu tetap membelakangi Rosseh, menatap gorden putih tebal yang menutupi sinar mentari untuk masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasanku (Harem BL)
Fantasy"aku memutuskan pertunangan denganmu" teriak pria berambut pirang yang tak lain adalah pangeran. dan seorang gadis yang menangis di tengah tengah aula yang merupakan seorang Villainess itu. gadis itu di permalukan oleh pangeran dan hanya mampu menan...
