"Pantesan nggak mau diajak ina-inu!" Berlian membuka pintu kamar dan langsung melemparkan dalaman wanita ke wajah Geva. "Jadi, tadi buru-buru karena kebelet ina-inu? Bilang dong, Ge, kalau kamu bawa wanita ke sini. Jadinya aku nggak perlu balik ke sini dan nggak kayak pelacur yang ngemis juniormu."
"Nggak gitu, Be. Tadi ... t-tadi Giana numpang mandi, air di unitnya nggak keluar."
"Iya, Ge." Berlian membungkus rambutnya yang basah menggunakan handuk. Sedangkan tubuhnya dibungkus dengan bathrobe. "Giana?"
"I-iya."
"Tinggal di sini juga?"
"Iya, Be." Geva berjalan ke dapur, membuka laci kemudian mengambil satu bungkus mie instant. "Kamu mau nggak?"
Berlian menelengkan kepalanya. "Kamu tau apa yang aku mau sekarang, Ge." Wanita itu berjalan menuju kamar lain, bukan kamar Geva.
"Kok ke situ? Bobo di kamarku aja, Be." Geva menyusul.
"Nggak ah! Nanti ada ranjau." Berlian bergidik ngeri.
"Tadi mainnya di kamar mandi, kok, Be. Bukan di ranjang."
"Beneran?"
"Iya, Be."
"Bagus deh." Berlian beralih ke kamar Geva dan berjalan gontai masuk ke dalam. Geva terus mengekor sampai ikut berbaring di atas ranjang bersama. "Bukannya kamu mau masak mie instant?"
"Nggak jadi. Aku mau bobo aja sama kamu." Di tariknya tubuh Berlian ke dalam dekapannya dengan erat. "Gimana acaranya tadi?" Geva membelai rambut Berlian.
"Biasalah, pertanyaan seputar pekerjaan dan pernikahan. Aku mau dijodohin, Ge."
"Bagus, dong!"
"Kok, bagus? Aku nggak mau, Ge. Sekarang udah bukan zamannya perjodohan. Lagi pula, kenapa harus menikah? Aku nggak mau diatur orang lain."
"Hm, manusia nggak bisa hidup sendirian, pasti membutuhkan manusia lainnya, Be."
"Kan, aku punya kamu."
"Aku mau menikah."
Berlian merubah posisinya menjadi duduk tegak. Dia memicingkan matanya ke arah Geva.
"Kamu?" Berlian menekan dada Geva dengan jari telunjuknya. "Mau menikah? Sama siapa? Giana?"
"Maya Henry!" sahut Geva asal kemudian menggigit jari telunjuk Berlian.
"Aw!" jerit Berlian. Dia memukuli Geva secara membabi buta. Menduduki tubuh sahabatnya yang sedang tertawa puas sampai wajahnya merah.
"Be, udah! Ampun!" Geva berteriak dan menahan kedua tangan Berlian.
Wanita itu sedang menduduki perut Geva sekarang. Mereka saling tatap sebentar, sebelum akhirnya kedua bibir mereka saling bertaut.
Berlian sungguh bergairah malam ini. Dia terus-menerus menuntut lebih pada Geva yang berusaha menahan diri. Hingga akhirnya, pria itu dikalahkan oleh kenikmatan hasrat yang membawanya terbang ke awang-awang.
Geva memejamkan matanya. Dia menggeram nikmat ketika tempo gerakan Berlian semakin cepat. Tubuhnya bergetar karena milik Berlian selalu melakukan hal gila pada miliknya.
"Kamu yakin mau tetap menikah, kalau bisa dibuat gemetar begini setiap malam sama aku?" Berlian menggoda. Mencecap setiap ukiran tato di lengan Geva.
Pria di bawahnya bertumpu dengan satu siku. Menatap Berlian dalam-dalam sembari menahan desahan yang ingin meluncur keluar.
"Aku tetap harus menikah, Be. Shit!" Geva mengubah posisi ketika dirinya hampir sampai. Dia memposisikan Berlian di bawah kendalinya sekarang.
Berlian tersenyum senang, melebarkan kakinya dan berpegangan kuat pada lengan Geva yang bertumpu di sisi kanan-kirinya.
Tatapan Berlian membuat Geva semakin kehilangan akal sehat. Dia terus-menerus menghujam Berlian hingga wanita itu merasakan kedutan hebat di pangkal pahanya, yang menandakan dia akan sampai.
"Ge, ah! A-aku...."
"Barengan, ya, Be."
Berlian mengangguk kemudian Geva menyelesaikan tugasnya. Kurang dari lima menit, keduanya mencapai puncak pelepasan.
Terengah-engah keduanya berbaring telentang menatap langit-langit kamar. Napas keduanya saling berkejaran.
"Aku nikahin kamu aja, ya, Be? Aku kan, nggak pernah ngatur kamu."
Masih dengan napas terengah-engah Berlian menoleh ke samping. Dia memukul dada Geva dengan sisa tenaganya.
"Jangan kebanyakan mimpi, Ge."
"Nggak apa-apa, Be. Siapa tau aja salah satu mimpiku terwujud. Kalau mencari teman hidup lebih enak yang udah kenal satu sama lain, jadi nggak kaget nanti."
"Nggak sama kamu juga, sih, nikahnya."
"Awas aja nanti kalau nyesel."
"Berisik, Ge!" Berlian membekap mulut Geva dengan selimut yang dijejalkan paksa.
.
.
.
Pagi harinya,
Berlian duduk di closet sejak setengah jam yang lalu. Memandangi empat buah alat tes kehamilan di tangannya.
Geva masuk sembari mengusap matanya. Pria itu baru saja bangun tidur.
"Be? Ngapain? Minggir dong, aku mau pipis."
"Ge, aku bingung pakainya gimana?" Berlian menunjukkan alat tes kehamilan yang dipegangnya.
"Kan, ada petunjuknya, Berlian. Awas! Aku mau pipis." Geva mengusir paksa Berlian dari closet.
Setelah wanita itu berdiri dan bergeser, Geva segera menggunakan closet untuk kebutuhannya pagi ini.
Berlian membaca petunjuk di balik kotak pembungkus salah satu alat tes kehamilan. "Ada yang di celup, ada yang di tetesin, Ge."
"Ya udah, coba aja semuanya, Be." Geva berjalan gontai, kembali ke dalam kamar dan melanjutkan tidurnya.
"Geva! Kebiaaaan nggak di flush!" pekik Berlian.
"Maaf," sahut Geva yang sudah berbaring di ranjang dan memeluk guling.
Masih berpikir diselimut rasa takut, Berlian menampung air seninya di dalam sebuah mangkuk plastik kecil, karena dia tidak memiliki tabung kecil seperti di laboratorium.
Dia mencoba keempat alat tes kehamilan yang dibeli oleh Geva. Sambil menunggu hasilnya keluar, Berlian melakukan ritual mandi seperti biasa. Yang berbeda kali ini, kepalanya sibuk memikirkan hal buruk yang mungkin akan terjadi sebentar lagi.
Menit-menit berlalu. Berlian membungkus tubuhnya dengan bathrobe. Diselimuti rasa takut, dia mendekat ke arah wastafel—tempat di mana dia meletakkan alat tes kehamilannya.
Hasil telah keluar. Keempat alat tes kehamilan menunjukkan hasil yang sama. Berlian menarik napas panjang, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya hingga membuat dadanya menjadi sesak.
"Geva!" teriak histeri Berlian sembari berlari ke dalam kamar. "Gevariel Gerald!" Diguncangkan tubuh pria yang tengah tidur lelap di atas ranjang.
Air mata Berlian menetes dan dia semakin kuat mengguncangkan tubuh Geva.
"Ada apa, sih, Be?" Geva mengerang.
"Hasilnya udah keluar."
Geva membuka matanya dan pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah air mata Berlian.
"Be? Kok, kamu nangis?" Aneh sekali rasanya melihat Berlian menangis seperti itu. Bertahun-tahun mengenal wanita itu, Geva jarang sekali melihat Berlian menangis.
Berlian terududuk lemas di tepian ranjang. Tangannya gemetat memegangi keempat alat tes kehamilan. Geva segera merengkuh tubuh wanita kesayangannya, menguatkan Berlian dengan omong kosongnya yang mana membuat wanita itu jengkel dan menggerutu dalam hatinya.
Bahkan Geva belum mengetahui hasil dari alat tes kehamilan yang telah dicoba oleh Berlian. Tapi firasatnya sudah buruk akibat melihat Berlian menangis.
.
.
.
-Catatan Penulis-
Hai, Dear! Gimana kesannya membaca Friends With Berlian? Kalau suka tolong vote dan comment yaaa...
Kalau nggak suka cukup sudahi membacanya sampai di sini dan nggak perlu memberi review yg nggak mengenakkan untuk dibaca.
Please, be a wise readers.
Love, FQ
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
