Anak

42 2 0
                                        

Selesai sudah urusan menutupi tato di tangan Geva menggunakan foundation.

Mereka berdua juga sudah selesai sarapan. Menu pagi ini adalah mi instan. Karena ... Geva terburu-buru sekali dan Berlian enggan membuat apapun pagi ini. Tubuhnya terasa lemas.

"Aku berangkat ya, Be. Kamu jangan ke mana-mana. Kalau mau makan, pesan online aja lah ya. Nggak usah masak yang ribet-ribet atau melakukan apapun yang membuatmu harus banyak bergerak," pesan Geva terdengar sangat posesif dan Berlian hanya mengembangkan hidungnya. "Jangan begitu. Aku cuma nggak mau kamu sakit-sakit lagi, Berlian."

"Iya, Ge. Makasih ya udah perhatian. Sana, berangakat!" Berlian mendorong dada Geva, tapi pria itu bertahan dan justru memajukan wajahnya ke wajah Berlian.

Mengecup singkat bibir ranum wanita kesayangannya sebagai ciuman perpisahan.
Mereka berdua sudah seperti sepasang suami-istri. Bila orang tidak tahu, pasti akan menganggapnya begitu.

"Ingat! Jangan ke mana-mana, Berlian!" pesan Geva sekali lagi sebelum Berlian menutup pintu dan menguncinya. "I love you, Be," lirih Geva sewaktu daun pintu nyaris menghantam wajahnya. Bibir pria itu membentuk lengkungan senyum tipis yang miris.

"Selamat pagi, Mas Geva. Mau berangkat kerja?" sapa seorang wanita yang baru keluar dari unitnya. Wanita muda yang mendorong sebuah stroller.

Dia adalah Nina—tetangga Geva yang baru. Bersama anaknya yang seringkali tantrum di pagi hari.

"Eh, iya, Mbak Nina. Mau ke mana, Mbak, pagi-pagi begini?" Geva dan Nina berjalan beriringan menuju lift.

Pria itu sempat melongok ke dalam stroller, melihat anak laki-laki yang sering tantrum itu sedang menyusu dari botol yang sepertinya sudah tidak cocok untuk anak se-usianya.

"Jalan-jalan aja, Mas. Udah lama, Raka nggak berjemur sekalian jalan-jalan pagi." Nina mendorong strollernya ke dalam lift selagi Geva menahan pintu untuknya. "Makasih, Mas Geva."

Geva mengangguk dan mengulas senyum. Dia melambaikan tangannya ke arah Rere yang sama sekali tidak peduli padanya. "Jadi, namanya Raka?"

"Iya, Mas. Namanya Dimas Raka Aditya, dipanggilnya Raka." Nina tersenyum sambil memandangi wajah anaknya. "Maaf ya, Mas. Kalau Raka sering tantrum pagi-pagi. Pasti keganggu terus."

"Nggak apa-apa, Mbak. Saya sama sekali nggak terganggu, kok. Wajar aja kalau anak tantrum. Kalau boleh tau, berapa usianya Raka, Mbak?"

"Empat tahun, Mas. Tapi ...." Nina melebarkan senyumannya. "Raka beda dengan anak normal pada umumnya." Wanita itu menekankan kata 'beda' pada kalimat yang diucapkannya.

Pintu lift terbuka di lantai dasar. Nina keluar lebih dulu dan menoleh untuk berterima kasih pada Geva. Dibalas dengan anggukkan kepala serta senyum yang sama.

Geva melangkah ke luar—berjalan menuju Starbun untuk membeli kopi sebelum mulai berkendara, mengakrabkan diri dengan kemacetan.

.

.

.

Perusahaan klien Geva berada di dekat sebuah pusat perbelanjaan di daerah Serpong. Pria itu menyempatkan diri untuk mampir dan berjalan-jalan sebentar.

Sudah lama dia tidak pergi ke mall. Dia rindu aroma mal. Benar. Aroma pada saat melangkahkan kaki ke dalam gedung ber-AC itu.

Mal yang Geva datangi terbilang masih cukup baru. Di mana, dia masih sangat ingat sekali bahwa bangunan ini berdiri di atas tanah yang sempat menjadi incaran Steels Corp, namun sayangnya ... tidak dapat dimiliki karena pendiri Mal mewah ini adalah seorang pengusaha property terkuat di kawasan Serpong.

Hampir seluruh daerah di sana, adalah miliknya. Dan ... sebagai pengusaha property asing yang menjadi pesaing, Steels Corp tidak mendapat celah di daerah itu, hingga akhirnya mendirikan Mal di Surabaya.

"Ada yang bisa dibantu, Pak?" Geva terperanjat.

Pria itu tidak sadar kalau sudah cukup lama melamun di depan rak mainan. Seorang pegawai toko mainan menegurnya dengan sangat ramah dengan niat hati untuk membantunya.

"Uh, Sa-saya ...." Geva menggaruk tengkuknya sambil mengedarkan pandangannya pada tumpukan mainan yang berada di hadapannya. Dia pun bingung, kenapa tiba-tiba berdiri di sana. Namun ... ketika teringat dengan Raka. Bibirnya seketika tersenyum. "Saya mau cari mainan untuk anak laki-laki usianya sekitar empat tahun."

"Baik. Di sini ada mobil remote control, drone, mini golf dan ... ini yang terbaru, Pak. Apakah sudah punya mobil seperti ini? Menggunakan aki. Bila habis dayanya, bisa di charge. Dan ... untuk ukuran yang ini bisa ditaiki berdua. Satu orang dewasa dan satu anak balita," terang sang pegawai dan Geva manggut-manggut.

Apakah Raka sudah memiliki mobil-mobilan itu? Entahlah. Geva tidak tahu. Dan ... setelah melihat harganya, dia cukup tercengang. Lalu mengingat perkataan Nina tadi pagi, kalau Raka adalah anak yang berbeda dengan anak normal pada umumnya.

"Kalau mainan edukasi, ada, Mbak?"

"Oh. Ada, Pak. Di sebelah sini ya." Pegawai wanita itu berjalan di depan Geva, mengantarnya pada lorong mainan edukasi yang kembali membuat Geva bingung.

Ternyata mainan anak-anak sangat banyak. Dia tidak menyangka akan serumit ini memilih mainan.

Geva memang suka sekali dengan anak kecil. Itulah kenapa dirinya sangat excited sekali sewaktu mengetahui Giana hamil. Namun sayangnya ... anak yang dilahirkan ternyata bukan miliknya.

Omong-omong soal Giana. Wanita itu sudah tidak lagi tinggal di Steels Tower. Kemungkinan besarnya kembali ke rumah orang tuanya, atau kembali pada mantan suaminya. Entahlah.

Namun, Geva mengingat dirinya belum sempat memberi hadiah untuk Genta. Jadi ... dia sekalian meminta tolong pada pegawai toko untuk mencarikan mainan atau apapun yang cocok untuk bayi berusia satu bulan.

Benar, satu bulan. Waktu tidak terasa begitu cepat berlalu, bukan?

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang