Kedatangan Louis

28 2 0
                                        

Pria yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Louis. Pria yang sudah tidak pernah lagi terdengar kabarnya sejak Berlian mengusirnya dari rumah. Pria yang kemungkinan besar adalah ayah biologis dari janin yang tengah dikandungnya saat ini.

Mulut Berlian terbuka sedikit, tapi tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan hingga akhirnya dia merapatkan mulutnya dan menggigit pipi bagian dalam. Tubuhnya menegang.

Bagaimana Louis bisa menemukannya di sini? Bagaimana Louis bisa tau keberadaannya di sebuah bangunan indekos terpencil seperti sekarang?

"Apa kabar, Be?" Pertanyaan Louis membuat Berlian mengangkat wajahnya.

Mata keduanya saling bertemu dan menatap beberapa saat. Ada ketakutan juga kesedihan yang tersirat dari sorotan mata Berlian. Ada kilat bahagia bercampur kebingungan yang terlihat dari sorot mata Louis.

"Gimana kamu tau kalau aku tinggal di sini?" Akhirnya Berlian bertanya.

Louis tersenyum. Menarik ke belakang tudung yang semula menutupi kepalanya. "Boleh aku masuk?" Dia melihat ke sekeliling, tidak adanya larangan untuk tamu pria berkunjung yang artinya, tidak akan menjadi masalah untuk dirinya.

Ragu-ragu, Berlian membuka pintu kamarnya. Dia menyingkir—memberi jalan untuk Louis. "Pakai aja sepatunya," kata Berlian sewaktu Louis hendak melepaskan sepatunya.

"Nggak apa-apa? Kamarmu nanti kotor." Bersamaan dengan itu Louis melihat betapa berantakannya kamar Berlian.

Banyak sampah bungkus makanan yang keluar dari dalam keranjang sampahnya. Remah-remah keripik bertaburan di lantai, dan aroma di dalam kamar Berlian sedikit tidak sedap. "Apa yang terjadi padanya?" batin Louis menaruh curiga.

Berlian meraih sapu yang dia letakkan di belakang pintu. Sebelum mempersilakan Louis untuk duduk, dia lebih dulu membersihkan lantai. Menjejalkan sampah bungkus makanannya ke dalam keranjang yang sudah tidak mampu lagi menampung. Kemudian dia membawa keranjang sampah itu keluar kamar, meletakkannya begitu saja di depan pintu kamarnya. Setelah itu dia menutup pintu.

"Silakan cari tempat yang nyaman untuk duduk," ujar Berlian setelah dia rasa kamarnya cukup bersih dari sebelumnya.

Louis melepaskan sepatunya sebelum duduk di lantai. Dia memerhatikan Berlian sebentar. Wanita itu nampaknya sangat salah tingkah, seperti bukan Berlian yang dia kenal sebelumnya.

Melihatnya berada di dalam kamar sempit yang kotor dan berantakan seperti ini sudah membuat tanda tanya besar dalam kepala Louis.

"Aku cuma punya air mineral. Tapi kalau kamu mau soda, aku bisa beliin ke warung di depan." Berlian meletakkan air mineral kemasan gelas ke hadapan Louis.

"Air mineral aja cukup, Be." Berlian duduk di kasurnya, dengan posisi kedua kakinya yang silangkan. Kepalanya menunduk, seolah sengaja menghindari kontak mata dengan tamunya. "Gimana kabarmu, Be?"

Memejamkan mata sebentar sebelum mengangkat wajahnya dan mencetak seulas senyum yang dipaksakan. "Baik." Jawaban singkat itu membuat kening Louis mengerut. Berlian bukanlah tipe wanita yang bicara seperlunya seperti itu.

Berlian meraih bantal untuk menutupi perutnya. Dia tersenyum kikuk sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke arah lain, ke mana saja, asalkan tidak bertemu manik biru milik Louis.

"Uh, Sherly dan Fanisya ngekos di gedung seberang." Louis membuka percakapan sedangkan Berlian kembali menundukkan kepalanya sambil mendengarkan. "Baru aja hari ini mereka pindah. Dan kebetulan, tadi aku liat kamu lagi makan ketoprak di depan. Kuperhatiin, kamu masuk ke sini. Jadinya, aku samperin setelah selesai mengurus Sherly dan Fanisya."

Tidak ada tanggapan dari Berlian. Sepertinya wanita itu tengah tenggelam dalam lamunannya. "Be." Tangan Louis menyentuh tangan Berlian, membuat wanita itu mengerjap dan menarik tangannya buru-buru. "Aku tau kalau kamu nggak baik-baik aja."

Berlian membuat tawa seperti seorang yang kehilangan akal sehat. Suara tawanya terlalu dibuat-buat sehingga sangat kentara dan membuat Louis semakin yakin bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja.

"Kenapa Sherly dan Fanisya ngekos? Bukannya mereka tinggal bareng Jessie di penthouse?" Berlian mengalihkan.

Louis menghela napas panjang. "Jessie udah balik ke London dan kemungkinan besar nggak akan melanjutkan kuliahnya lagi di sini. Jadi, dia mintaku mencarikan kosan terbaik untuk teman-temannya."

"Begitu." Berlian mengangguk. "Gimana kabarnya Jessie? Aku pernah mengiriminya pesan tapi dia nggak pernah balas sampai sekarang. Aku hubungi nomornya, kayaknya dia ganti nomor."

"Jessie ... ya, dia udah nggak menggunakan nomor Indonesia lagi."

Kamar Berlian menjadi sangat dingin. Bukan karena suhu pendingin ruangannya, tapi karena keheningan di antaranya dengan Louis. Berlian tidak tahu harus mengatakan apa lagi selama Louis menatapnya tanpa henti tanpa mengatakan apapun.

"Aku dan Jessie udah menikah."

Bahu Berlian menegang mendengar itu. Dia kesulitan menelan ludah karena tenggorokkannya menjadi sangat kering. Terlebih ketika Louis memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya.

"Akhirnya aku bisa menikahi wanita kesayanganku, Be." Senyum pria itu tidak dapat menipu, itu adalah senyum bahagianya.

Tangan Berlian meremas bagian ujung bantal. Seluruh bagian tubuh Berlian menjadi sangat dingin dan beku. Lidahnya pun kelu sehingga sulit mengucapkan kata 'selamat' yang sudah dia berada di ujung lidahnya.

"Be," panggil Louis pelan setelah beberapa menit tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Berlian.

"A-aku ke warung dulu ya, nggak enak kalau minumnya cuma mineral. Kamu mau kopi?"

"Nggak usah, Be. Makasih." Louis tersenyum. Dia masih bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu. Tapi, dia masih menunggu Berlian membuka suaranya sendiri.

Selagi Berlian pergi ke warung, Louis merangkak ke arah kasur lantai yang semula ditempati Berlian tadi.
Diambilnya sebuah obat yang mencuri perhatiannya sejak tadi. Alangkah terjekutnya Louis ketika mengetahui obat itu.

Berlian berdiri mematung di ambang pintu sewaktu dia kembali dan melihat Louis sedang duduk di kasur lantainya dengan tangan yang memegang obat untuk menghancurkan janin miliknya.

"Jelaskan." Suara Louis tegas namun tetap tenang.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang