Kekhawatiran Berlian (Lagi)

33 2 0
                                        

Malam harinya, Berlian tidak dapat tidur dengan nyenyak. Dia memikirkan bagaimana besok? Apa yang akan terjadi jika ternyata hasil tes DNA tidak sesuai dengan harapan masing-masing pria itu? Apakah benar, mereka akan baik-baik saja?

"Be? Kenapa?" Geva menggeliat dari atas sofa yang menjadi tempat tidurnya sejak kemarin malam.

Dia merenggangkan otot kemudian mengusap wajahnya sebelum berjalan menghampiri Berlian.

Berlian beringsut, yang mana membuat jahitan operasinya terasa begitu menyakitkan. Meringis sambil memejamkan mata. Geva yang semula masih mengantuk pun seketika membuka lebar matanya.

"Kamu kenapa? Sakit? Be ...." Berlian tidak merespon dan membuat Geva semakin khawatir dibuatnya. "Mau aku panggilin perawat?"

Wanita itu menggelengkan kepala dan membuka matanya pelan-pelan. "Aku baik-baik aja, Ge."

"Jangan menipu diri sendiri dan keadaan yang nggak baik-baik aja, Be. Wajar kalau kamu sakit, kamu kan, abis melakukan operasi besar. Aku nggak mau kalau kam—"

"Rewel." Berlian menekankan jari telunjuknya ke bibir Geva, membuat pria itu praktis bungkam dan tidak lagi melanjutkan perkataannya. "Sini." Berlian menepuk sisi tempat tidurnya yang sengaja dia sisakan sedikit.

"Kamu bercanda? Aku terlalu besar untuk berbaring di situ." Geva memutar matanya sebal. "Tapi, baiklah kalau kamu memaksa."

Mereka berdua berbaring telentang di atas tempat tidur yang sempit dan berderit pada saat Geva bergerak. Bobot tubuh pria itu cukup memberi tekanan pada tempat tidur dan membuat Berlian tidak lagi sanggup menahan tawanya.

"Kamu harus diet, Ge."

"Jangan mengejekku."

Setelahnya, mereka berdua tidak ada lagi yang bicara. Hanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos tanpa adanya sedikit pun ornament yang menarik untuk memanjakan mata.

Berlian tenggelam dalam ingatannya yang kembali mundur membawanya pada masa di mana dirinya dan Geva sering melakukan ini.

Berbaring di atas tempat tidur , memandang langit-langit kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun hingga bermenit-menit, bahkan hingga salah satu dari mereka terlelap.

Sedangkan Geva tenggelam dalam ingatannya di mana, malam itu dirinya terlalu kejam untuk mendatangi Berlian dan memaksakan egonya untuk menyetubuhi wanita kesayangannya. Rasa bersalah kembali menghampirinya, membungkusnya dan mendekapnya hingga sesak.

Kemudian ingatannya membawanya pada Giana, wanita yang dia pikir selama ini mengandung darah dagingnya yang ternyata adalah penipu.

Giana telah berhasil membuat Geva merasa menjadi pria paling bajingan di muka bumi, pria yang memaksakan dirinya untuk jatuh cinta pada wanita yang ternyata telah begitu tega mengkhianatinya.

Tentu saja pengkhianat, di saat mereka sudah bersama ... tapi Giana masih berhubungan dengan mantan suaminya.

Bicara tentang pengkhianat, Geva juga masuk ke dalamnya. Karena pria itu pun masih berhubungan dengan Berlian di saat dirinya sudah bersama Giana, wanita yang katanya teramat mencintainya. Sialnya, kini dia tidak lagi percaya dengan semua itu.

Tangan Geva menggenggam tangan Berlian dan membuat wanita itu menoleh padanya. Saling tatap untuk beberapa saat, kemudian keduanya tertawa kecil seolah ada sesuatu yang sangat lucu dan patut untuk ditertawai.

Mungkin itulah definisi sahabat, yang saling mengerti hanya dengan saling tatap saja.

"Apa yang kamu pikirin?" Geva bertanya dan Berlian mendesah karena pria itu seperti biasa dapat menebak apapun yang tengah disembunyikan olehnya.

"Nggak ada."

"Kamu tau kan, kalau kamu nggak berbakat jadi artis kayak Jessie?"

"Emangnya dia artis?"

"Ya. Dia pernah main sinetron azab dan menjadi pocong sebagai figuran." Tawa Berlian meledak, kemudian berganti menjadi ringisan karena jahitan operasinya kembali terasa sakit setiap kali dirinya bergerak.

"Aku nggak tau itu."

"Aku pun tau dari Louis, sewaktu dia menunjukkan rekamannya yang diunggah ke dalam sebuah situs web."

"Astaga."

"Jadi, apa yang kamu pikirin?"

Mendesah lagi. Berlian kira, Geva sudah tidak akan menanyakannya. "Aku ... cuma khawatir dengan hasilnya nanti, Ge."

"Karena?"

"Aku takut kamu kecewa, atau aku yang membuat Jessie kecewa."

"Tapi, itu kan udah kejadian, Be." Geva mengubah posisinya menjadi berbaring miring menghadap Berlian. Tangannya terulur membelai pipi Berlian. "Aku pasti bakalan kecewa banget kalau sampai ternyata, akulah ayahnya. Karena ... selama ini aku nggak tau kalau kamu ... hamil. Mungkin itu bakal jadi penyesalan terbesarku, Be."

"Kalau sampai ternyata, Louis adalah ayahnya? Aku melukai Jessie, Ge. Dan juga ... kamu."

"Sejak kapan kamu peduli dengan perasaanku?" Geva mengulum senyumnya. "Jessie nggak perlu tau soal ini, kan? Lagi pula anakmu... maksudku, dia udah—"

"Jangan dilanjutin," cegah Berlian yang meremas tangan Geva yang sejak tadi menggenggamnya. "Tapi, kamu dan Louis beneran bakal baik-baik aja? Kalian nggak bakalan berkelahi lagi atau saling melukai?" Berlian sangat khawatir jika kedua pria itu saling melukai satu sama lain.

"Enggak, Be. Aku dan Louis udah bicarain ini berulang kali dan membuat kesepakatan. Lagi pula, dia udah bahagia sama Jessie sekarang. Dan sebentar lagi dia akan memiliki keluarga kecil."

"Kasihan Jessie... dan Louis."

"Kenapa?"

"Karena Jessie mengandung anak yang bukan darah daging Louis. Melainkan—"

"Kamu tau?"

"Louis menceritakannya."

"Emang bajingan si Arkan itu."

"Arkan?" Berlian mendelik tidak percaya. Pelan-pelan dan penuh hati-hati dirinya bergerak untuk mengubah posisi menjadi sedikit miring, agar dapat berhadapan dengan pria di sampingnya. "Maksudmu, Arkan yang perkosa Jessie?"

"Katamu tadi, Louis udah kasih tau."

"Maksudnya, Louis ngasih tau sebatas kejadian keji itu tanpa ngasih tau siapa pelakunya, Ge. Astaga! Jadi bajingan itu yang melakukannya. Aku sumpahi dia hidup dalam kesengsaraan," geram Berlian penuh kemarahan.

Dirinya memang sangat membenci Arkan sejak pria itu mencibirnya dan dengan sengaja menghinanya.

Geva tersenyum miris mengingat bahwa pria tersebut sudah meregang nyawa di malam itu di dalam apartemennya. Mungkin dia akan memberitahu Berlian nanti. Jika kondisinya sudah lebih baik.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang