Penyesalan

44 3 0
                                        

Rasa sakit yang Berlian rasakan, mencuat kepermukaan melalui celah-celah kekecewaannya. Memalingkan wajah dari pria yang telah menghancurkannya adalah usaha tersulit yang tengah dia lakukan saat ini. Geva masih berusaha melakukan apapun untuknya agar mendapatkan maaf—menebus kesalahannya.

"Be, maafin aku. Kumohon bilang sesuatu." Geva belum melepaskan tangan Berlian sejak dia menyadari kegilaannya yang telah dia lakukan pada wanita kesayangannya itu. "Tampar aku lagi, Be. Pukul aku. Balas aku." Dia membawa tangan Berlian ke pipinya tapi wanita itu terlalu lemah.

Tidak ada satupun kata yang Berlian ucapkan untuk menanggapi permintaan maaf dari Geva. Tubuhnya pun terlalu sakit untuk bergerak, sehingga dia hanya berbaring pasrah tanpa balutan pakaian—hanya selimut yang membungkus tubuh telanjangnya.

Sebesar apapun keinginan Berlian untuk membalas perbuatan Geva, dia tidak sanggup. Jangankan untuk menampar pria itu, untuk menggaruk pahanya yang terasa gatal pun dia tidak mampu.

Berlian hanya mampu berkedip hingga air matanya kembali menetes. Tenggorokkannya terasa sangat perih. Bibirnya kering dan rahangnya terasa sakit akibat cengkraman dari Geva yang menuntut jawaban darinya tadi.

Geva membuka laci yang biasanya digunakan untuk menyimpan pakaiannya di rumah Berlian. Dia menarik satu kaus dan celana boxer. Mengenakannya dengan cepat, setelah itu melesat keluar dari kamar cukup lama.

Dia kembali ke dalam kamar dengan satu mangkuk yang berisi air hangat beserta handuk kecil. Perlahan dia menyibakkan selimut yang membungkus tubuh Berlian. Memejamkan matanya sebentar sambil menarik napas. Geva menatap Berlian dengan raut wajah iba dan terpancar penyesalan yang sangat kentara di matanya.

"Tahan, ya, Be." Geva merendam handuk kecil ke dalam mangkuk yang berisi air hangat.

Memeras handuk itu, kemudian pelan-pelan menekannya ke bagian pangkal paha Berlian. Air matanya turun sewaktu melihat darah yang sudah mengering di sekitar inti Berlian. Dia sangat menyesali perbuatannya. Tangannya pun sampai gemetar menahan isak tangis penyesalan yang teramat besar dan dalam.

Berlian terkesiap saat handuk itu menyentuh area sensitifnya. Tapi dia tidak dapat mengeluarkan suaranya. Hanya memejamkan mata, merasakan dingin yang menusuk kulitnya dan berubah menjadih perih yang 'tak tertahankan. Menggapai sprei untuk diremas pun dia tidak kuat dan berakhir mengepal tangannya sendiri.

Menciumi paha Berlian setelah selesai dibersihkan. Geva tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia tidak dapat memikirkan apapun selain memikirkan cara mendapatkan maaf dari Berlian.

"Pu-lang, Ge," ucap Berlian dengan sisa-sisa suaranya. Tangannya perlahan bergerak untuk menyentuh kepala Geva. Membelai rambut pria itu yang masih basah dan membuatnya bangkit kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Berlian.

"Aku nggak akan kemana-mana, Be." Geva menyatukan keningnya dengan kening Berlian.

"Maafin aku, Berlian. Maaf."

.

.

.

Setelah meminum obat pereda rasa nyeri yang diberikan oleh Geva, akhirnya Berlian tertidur. Dan selama wanita itu tertidur, Geva tidak beranjak kemana pun. Dia berbaring di samping Berlian, memeluk lengan wanita yang tengah terkulai lemah dan terlelap dalam tidurnya.

Geva tidak berhenti mencaci maki dirinya sendiri. Dia mengutuk kebodohannya yang tidak dapat mengendalikan ego hingga berakhir seperti ini dan menyisakan penyesalan yang tidak ada gunanya.

Selintas ingatan membawa Geva kembali pada masa pertama kali dia dan Berlian memutuskan untuk bersahabat. Keduanya berjanji akan saling menjaga dan memenuhi kebutuhan hasrat satu sama lain. Memang janji yang tidak biasa, tapi mereka melakukannya selama bertahun-tahun.

Selama bertahun-tahun juga Geva menyimpan perasaannya terhadap Berlian, karena wanita itu terlalu sulit untuk ditaklukan. Selain standarnya yang tinggi, Geva juga menyadari status ekonominya tidak menjangkau Berlian kala itu.

Tapi, ketika dia sudah menjadi pengacara perusahaan yang cukup terkenal dan sukses ... keinginan untuk memiliki Berlian semakin kuat, karena menurutnya dia sudah mampu menjangkau Berlian. Walau pada kenyataannya masih terhalang beberapa hal. Salah satunya, penyangkalan.

Dibelainya wajah Berlian. Mengecup keningnya pelan-pelan agar tidak membangunkannya. Geva pun kembali sesak. Dia turun dari ranjang, pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang dapat membuatnya tetap terjaga, walaupun kepalanya cukup berdenyut dan sedikit pusing karena kurang istirahat.

Melihat ponsel Berlian yang tergeletak di kitchen island, membuat rasa penasarannya kembali muncul. Penasaran akan siapa kekasih Berlian kini? Siapa pria yang membuat Berlian menyangkal perasaan terhadapnya?

Setelah benda pipih itu berada di tangan Geva, dia mengurungkan niatnya—menyingkirkan rasa penasarannya dengan meletakkan kembali ponsel itu di tempat semula. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan dengan kelancangan lainnya. Semua yang dia lakukan beberapa jam lalu, sudah cukup menghancurkan Berlian, juga kepercayaannya.

Membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengucur dari kran wastafel, Geva tidak merasa sedikit pun kesegaran. Dia menepuk kedua pipinya bergantian dengan cukup kasar, menyerupai tamparan untuk diri sendiri. Tapi tangannya berhenti dan mengusap pipinya—mengingat tangan Berlian yang berada di sana sebelumnya, tangan yang menamparnya karena amarah.

Ponselnya kembali berdering. Giana kembali menghubunginya dan mengirim pesan berantai yang memenuhi notifikasi ponsel Geva.

Menghela napas panjang sebelum memutuskan untuk menerima panggilan dari Giana. "Halo."

"Syukurlah!" Terdengar helaan napas lega di seberang sana. "Kamu baik-baik aja, Ge?"

"Ya. Aku baik."

"Kamu di mana? Kukira kamu di unit, tapi pas aku ke unitmu dan ketemu Arkan... dia katanya ngeliat kamu pergi naik motor jam dua tadi."

Geva melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Dalam hatinya mengutuk Arkan yang sudah banyak mencampuri urusannya belakangan ini.

"Ge, kamu di mana?"

"Kantor."

"Jam dua pagi kamu ke kantor? Kamu nggak lagi berbohong, kan?"

Mengusap wajahnya dengan kasar. Geva merasa sangat buruk berada di dalam situasi ini. Berada di tengah dua wanita yang dia cintai dan melukai keduanya di waktu yang bersamaan.

"Gi, boleh aku telepon kamu nanti? Aku ada meeting."

"Tap—" Ponsel Geva kehabisan daya. Sambungannya dengan Giana pun terputus sebelum wanita itu sempat menyelesaikan kalimat yang ingin dia sampaikan.

Menyesal.Menyesal.Menyesal.

Hanya itu keresahan Geva saat ini. Duduk di lantai dapur—menyesali segalanya dan tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang