Tidak perlu menunggu lama untuk membuktikan percakapan terakhir antara Berlian dengan Louis di dalam pesan singkat mereka.
Berselang satu minggu, Louis benar-benar mendatangi Berlian dengan oleh-oleh satu botol anggur terbaik dari salah satu perkebunan anggur terbaik di Holmfirth-Inggris.
"Nggak perlu repot-repot, Lou," ucap Berlian dengan senyumnya sewaktu menerima botol anggur dari Louis. Dia meletakkannya di atas meja makan. "Mau makan sekarang? Mumpung masih hangat," tawarnya dan Louis mengangguk.
Pria itu segera melepaskan jaketnya dan meletakkannya pada sandaran kursi makan. Duduk berhadapan dengan Berlian, pandangannya tidak lepas pada penampilan wanita itu. "Kamu cantik banget mala ini," pujian Louis berhasil membuat pipi Berlian menghangat.
Pasalnya, Berlian dengan sengaja berdandan sedemikian cantiknya untuk makan malam bersama Louis. Walau hanya makan malam sederhana di rumahnya, memesan steak dari salah satu restoran yang cukup terkenal di Jakarta.
"Makasih. Aku anggap itu sebagai pujian," kekeh Berlian.
"Be, kamu punya gelas untuk ini?" Louis menunjuk botol anggur yang dibawanya tadi.
"Uhm, ya! Ada, kok." Berlian bangkit dari kursinya dan berjalan ke dapur untuk mencari gelas balon. "Tapi, aku nggak punya alat untuk membuka botolnya, Lou!" serunya dari dalam sana.
"Aku ada. Sebentar kuambil di mobil." Berjalan cepat, Louis mengambil sommelier knife dari dalam dashboard mobilnya. "Biar kubuka," kata Louis, langsung mengambil botol anggurnya ke bagian pinggir meja makan.
Berlian mengamati dari kursinya sewaktu Louis membuka tutup botol anggur. Mulai dari melepaskan foil-nya terlebih dahulu. Membersihkan botol sampai bagian lehernya dengan lap yang entah didapatkan olehnya dari mana, Berlian tidak memiliki itu.
Kemudian dengan alat yang sudah di ambilnya, pada bagian ujung spiral ditempatkan ke tengah gabus penutup botol. Lalu diputar sebanyak lima kali tanpa menggunakan tenaga dan tanpa menggerakkan botolnya sampai gabus itu terlepas.
Setelahnya, Louis menarik gabus penutupnya itu dengan perlahan. Gabus terlepas bersamaan dengan suara yang khas. Sesaat setelahnya, Berlian menghirup aroma anggur yang membuatnya tersenyum. Belum selesai, Louis Kembali membersihkan botol. Tapi kini pada bagian dalam leher botol, katanya supaya tidak ada residu yang akan merusak rasa anggur yang akan dinikmati nantinya.
"Kamu ahli banget," celetuk Berlian sewaktu Louis menuangkan anggur ke dalam gelas wanita itu dan gelasnya sendiri.
Louis duduk kembali di kursinya. Meletakkan napkin di atas pangkuannya, kemudian dia mengambil gelas—mengajak Berlian untuk bersulang bersamanya. "Cheers," ucapnya.
"Cheers." Menggoyangkan gelasnya pelan-pelan, menghirup aroma anggur, barulah keduanya menyesap perlahan minuman itu. "Enak banget," kata Berlian dengan kecapan yang nyaring.
"Ini salah satu anggur terbaik di Holmfirth. Tapi sayangnya, perkebunannya udah mati dan produksinya berhenti." Louis meletakkan gelasnya. Kemudian meraih garpu dan pisau dengan masing-masing tangannya. Dia mulai mengiris daging steaknya. "Seandainya kamu ikut, pasti kamu akan suka berjalan-jalan di sana."
"Sayangnya sewaktu kamu mengajakku, ponselku rusak," sesal Berlian mengingat kesempatan itu tidak mungkin dating dua kali.
"Ya, sayang banget. Aku kira, Jessie udah kasih ponselnya ke kamu. Ternyata belum." Pria itu mengangkat bahunya. Sadar sedang diperhatikan oleh sosok wanita di hadapannya, Louis pun mengangkat wajahnya dan meninggikan sebelah alis mata. "Kenapa?"
Menggeleng cepat-cepat. Berlian yang sedang sibuk memuji ketampanan Louis, segera mengalihkan pandangannya ke atas daging steak miliknya. "Nggak ada apa-apa."
"Kamu dandan khusus malam ini?" Pertanyaan itu sengaja dilemparkan oleh Louis untuk menggoda Berlian yang sedang salah tingkah.
"Eng-nggak, kok," kilahnya tanpa mengangkat wajah untuk menatap pria di hadapanya.
"Be," panggil Louis dengan suara rendah.
"Apa?" Berlian masih menghindari kontak mata dengan Louis. Dia focus mengiris dagingnya sampai menjadi irisan kecil.
"Kayaknya ... aku suka sama kamu, deh."
Tangan Berlian berhenti bergerak. Dia meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring. "Maksudnya?"
Louis mencengir lebar ketika Berlian akhirnya mengangkat wajah dan melakukan kontak mata dengannya. Wajah wanita itu Nampak sangat terkejut juga ada setitik binar di matanya. "Aku suka sama kamu. Aku nggak tau sih, kalau orang Indonesia biasanya gimana mengungkapkan perasaannya terhadap seseorang. Tapi—" Louis menggantungkan kalimatnya, membuat jemari kaki Berlian berkerut mencengkram lantai.
Lama keduanya saling diam dan saling tatap. Berlian pun semakin tidak sabar untuk mendengar lanjutan dari kalimat Louis. "Tapi apa?" tanya Berlian akhirnya.
Gelengan kepala dari Louis membuat Berlian sedikit kecewa. Tapi senyum pria itu berhasil mengalihkan rasa kecewanya. "Bukan apa-apa. Ayo lanjut makan." Louis pun kembali menyantap makanannya.
Berlian menghela napas kecewa, Louis dapat mendengar helaan napas itu. Tapi dia berusaha untuk tidak mengatakan apapun, sampai sesuatu di dalam diri Berlian mendorongnya untuk berucap.
"Aku juga suka sama kamu, Lou."
Seluruh niat dan tujuan Berlian di awal luntur sudah, setelah dia semakin dekat dengan Louis. Dia merasa, sosok Louis terlah memberi warna dan rasa yang baru ke dalam hidupnya.
Berlian mulai kehilangan sosok Geva, sejak dia meninggalkan rumahnya terakhir kali. Terlebih ketika dia mendengar kabar kalau Geva akan menikahi Giana.
Berlian tidak tahu, ungkapan rasa sukanya dan Louis akan membawa hubungan mereka ke arah mana. Tapi, setidaknya ... dia tahu kalau bukan hanya dia seorang diri yang menyukai pria itu. Tapi pria itu juga menyukainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
