"Be, kamu kenapa? Sakit? Kok pucat banget, sih," ujar Alara setelah meneliti wajah Berlian selama beberapa saat. "Kamu mau minum lagi? Atau mau rebahan?"
"Nggak apa-apa, Al. Aku cuma sakit perut aja." Berlian berusaha untuk tetap tersenyum sambil menahan nyeri pada bagian perutnya yang kembali muncul.
"Aku ambilin air hangat ya. Sebentar." Alara berjalan cepat ke dapur dan kembali membawa segelas air hangat untuk Berlian, serta obat pereda rasa nyeri. "Kamu datang bulan? Minum ini aja."
"Makasih, Al. Maaf jadi ngerepotin."
Alara mengibaskan tangannya. "Kayak sama siapa aja, sih, ngomongnya kayak begitu."
Setelah meminum obat pereda rasa nyeri. Berlian meluruskan kakinya di karpet, dengan bagian punggung yang bersandar pada sofa. Gelas air hangat yang dia pegang, sengaja di tempelkan pada bagian luar perutnya.
"Mau aku ambilin bantal kompres?"
Berlian menggelengkan kepalanya cepat-cepat. "Nggak usah, Al. Ini aja, masih hangat kok." Alara mengangguk mengerti. "Anakmu nggak dipindah ke dalam?"
"Biarin aja di sini. Kalau diangkat pasti bangun, nanti dia nangis lagi. Kapan kita ngobrolnya?" kekeh Alara sambil menyelimuti anak keduanya. "Kamu masih sering sakit kalau datang bulan gini?"
"Iya."
"Kayak sepupuku, si Joy. Dia sering banget sakit perut bahkan sampai pingsan. Tapi semenjak dia melahirkan, katanya pas datang bulan udah nggak pernah se-sakit sebelumnya."
"Joy? Kayaknya nama itu nggak asing. Rasanya akhir-akhir ini aku sering dengar. Kok aku baru tau kalau kamu punya sepupu Namanya Joy?"
"Joy nggak tinggal di Indonesia, Be. Sejak SMA dia pindah sekeluarga, ke London. Ayahnya orang Inggris."
"Wah! Kok bisa kebetulan banget, sih? Aku juga baru-baru ini kenal sama bule Inggris. Mereka salah satu tetangganya Geva di Steels Tower. Katanya sih, keluarganya yang punya Steels Tower."
Alara tertawa sampai matanya menyipit dan berair. Melihat itu, Berlian mengerutkan keningnya—bingung.
"Sepupuku itu nikah sama Harry Steels, yang punya Steels Tower dan beberapa perumahan yang belakangan ini iklannya wara-wiri di media sosial."
Kedua mata Berlian membulat sempurna. "Ya, ampun! Berarti, kamu sama Jessie sepupuan juga ya?"
"Kok, kamu bisa kenal Jessie, sih? Iya. Dia adik sepupuku."
"Tetangganya Geva yang aku maksud itu, ya ... si Jessie."
Alara tertawa lagi, kali ini dia sampai membekap mulutnya menggunakan bantal, untuk meredam suaranya agar tidak membuat anak keduanya terbangun dan kembali menangis. "Jessie anaknya berisik. Iya, kan?"
"Uhm, kayaknya ya ... tapi, sejauh ini aku kenal dia tuh baik banget, sih. Aku juga kenal Niall dan Louis. Ada juga teman-temannya Jessie, tapi lupa siapa namanya. Katanya sih, mereka tinggal di Penthouse."
"Aku baru tau malahan kalau Jessie balik ke Jakarta lagi. Setauku, dia pernah kuliah di Jakarta tapi balik lagi ke London karena ada beberapa masalah menimpa Joy waktu itu. Terus ... kabarnya Jessie pernah diculik sewaktu dia ke Atlanta. Eyang kami meninggal, terus ... aku nggak pernah ketemu lagi sama mereka. Aku salut sih sama Joy dan Jessie yang kuat banget ngadepin ujian hidup mereka." Alara menarik napas panjang dan mengembuskannya melalui hidung.
"Banyak orang mengira, hidup mereka 'tuh enak banget. Apalagi sekarang, Joy udah nikah sama seorang multi billioner. Tapi ... dibalik itu semua, mereka pernah—eh? Maaf, jadi kebablasan deh aku yang curhat," kekeh Alara. Sedangkan Berlian diam termenung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Fantascienza18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
