Geva dan Arkan berbincang santai di kedai kopi. Tapi dalam kepala Geva, dia memikirkan Berlian. Dia memikirkan sikapnya terhadap wanita itu, tadi.
Beberapa kali ponselnya bergetar dan mendapati pesan masuk dari Berlian yang menanyakan keberadaannya.
Berlian :Ge, kamu ke mana? Kamu marah sama aku?
Berlian :Ge, aku salah apa?
Berlian :Gevaaaaaaaaaaa! Balik, dong! Aku takut!
Berlian :Geva di mana, sih? Ge, aku mau pipis! Temenin!
Geva tersenyum membaca pesan terakhir dari Berlian. Wanita itu walaupun galak, tapi sebenarnya juga sangat penakut. Berlian sangat mempercayai hal-hal mistis yang sering dilihatnya dalam film.
"Kayaknya gue nggak asing, deh, sama wajah orang tadi," ucap Arkan, membuat Geva tersadar dan meletakkan ponselnya di atas meja. "Siapa namanya?"
"Pak Louis. Louis Peterson," jawab Geva kemudian menyesap kopinya. "Ya, namanya bule, Ar. Wajahnya mirip-mirip."
"Nggak juga, sih, Ge. Tapi ... ah! Nggak tau lah." Arkan mengibaskan tangannya. "Gue kira, itu yang namanya Steels?"
"Bos besar gue mah jarang ke Jakarta, Ar. Kalau ada apa-apa selalu melalui Pak Louis."
"Gue penasaran kayak apa sosok si Steels itu," kata Arkan dengan raut wajah tidak suka.Geva mengerutkan kening ketika melihat raut wajah temannya itu. "Lo ada masalah apaan? Kok, kayak nggak suka gitu?"
"Si Steels itu nikah sama mantan gebetan gue."
"Terus, kenapa? Kan mantan gebetan."
"Dulu, gue susah banget dapetinnya. Dia malah pilih bule Italia. Eh, sekarang nikah sama bule Inggris."
"Berarti selera mantan gebetan lo emang bule, Ar."
"Ah! Gue nggak rela banget. Kenapa dia nggak pilih gue, sih?"Geva tertawa mengejek. "Jelas lah. Pak Harry jauh lebih tampan dan yang jelas tajir parah. Wajar aja kalau mantan gebetan lo mau nikah sama dia, nggak mau sama lo."
"Brengsek juga, ya, lo." Mereka berdua tertawa. "Tapi, adiknya juga cantik, sih. Ya, mereka juga blasteran Inggris-Jawa Barat."
"Eh, tadi gue ngeliat bule-bule sama Pak Louis di Sunflower Land. Tau nggak? Perumahan yang udah deket Bandara."
"Oh, yang baru itu? Ngapain lo ke sana?"
"Temen gue nyari rumah. Eh, ngeliat mereka tadi." Geva teringat sosok wanita cantik tadi siang. "Ada yang cantik dadanya besar, Ar."
"Jessie. Fix! Pasti Jessie!"
"Sok tau!"
"Pendek, kan? Maksudnya, untuk ukuran bule ... nggak tinggi. Blasteran, kan?"Geva mencoba mengingat sosok wanita yang dilihatnya siang tadi.
"Iya, sih. Tapi, gue nggak tau dia blasteran atau enggak. Keliatannya dari jauh ... ya, bule. Cantik. Gemes deh." Geva terkikik membayangkan sosok wanita yang dilihatnya siang tadi.
"Kalau itu Jessie, sebaiknya lo mundur, deh. Gue mau deketin dia." Arkan membuka kontak di ponselnya dan mencari nama Jessie untuk memperlihatkan foto profil wanita itu pada Geva.
"Ini, kan?"Geva mengangguk cepat.
"Gila! Kakaknya nggak dapet, adiknya lo incer. Dasar buaya!"
Arkan tertawa geli. "Usaha, Ge. Dia tinggal di gedung ini, di Penthouse, sama dua temannya."
"Oh, iya benar. Tadi, gue liat. Temannya lokal, kan? Tapi ada cowok bule satu lagi selain Pak Louis."
Arkan mendecak. "Itu sepupunya, Niall James Smith. Lo nggak tau? Yang suka cover lagu di youtube itu loh."
"Masa? Tau gitu foto bareng tadi." Geva tergelak karena ucapannya sendiri. Sedangkan Arkan hanya menggelengkan kepala.
.
.
.
Geva menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum masuk ke dalam unitnya. Seketika dirinya merasa iba melihat sosok Berlian yang tidur meringkuk di atas sofa. Sepertinya wanita itu benar-benar tidak beranjak ke manapun sejak Geva meninggalkannya tadi.
Perlahan dan hati-hati, Geva menggendong Berlian—membawa wanita itu ke dalam kamarnya. Membaringkannya pelan-pelan ke atas ranjang.
"Ge," panggil Berlian dengan suara serak. Wanita itu menggeliat di atas ranjang, masih dengan matanya yang terpejam. "Sini!" rengeknya sambil menepuk sisi ranjang yang kosong.
Melihat itu, Geva terkekeh dan segera merangkak ke atas ranjang. Dia berbaring tepat di sebelah Berlian dan wanita itu langsung memeluknya erat sekali.
"Aku minta maaf, ya, kalau salah," ujar Berlian yang kini tengah mendongak dan menatap Geva dengan raut wajah sedih.
"Aku juga minta maaf, ya, Be." Diusapnya wajah mulus nan cantik wanita dalam pelukannya itu.
"Tapi, aku salah apa, sih, Ge? Kok, kamu sampai bentak aku kayak tadi?"Geva menghela napas.
"Jangan dibahas, ya, Be. Kamu tidur lagi aja."
"Nggak mau ina-inu?" Berlian mencengir lebar. Jemari lentiknya mulai merayapi otot lengan Geva dengan maksud menggoda sahabatnya yang imannya lebih tipis dari selembar tisu.
"Be, aku besok kerja. Tidur aja, ya?"
Jauh dalam lubuk hati terdalam, Geva menginginkan Berlian. Tentu saja. Pria mana yang mungkin akan menolak ajakan untuk bercinta dengan wanita secantik Berlian?
Hanya pria bodoh dan tidak normal yang melakukan itu. Tapi, Geva terpaksa harus menahan diri agar tidak kelelahan malam ini dan membuatnya terlambat bangun esok hari.
"Beneran? Padahal akunya mau," goda Berlian. Kini dia menggesekkan pipinya ke dagu Geva yang mulai tumbuh berewok tipis. "Ge. Aku mau kamu malam ini," lirih Berlian membuat Geva semakin tidak kuat lagi untuk menahan.
Harus diketahui, kelemahan Geva selain air mata seorang wanita, juga adalah Berlian. Apapun yang berkaitan dengan sahabatnya itu, pasti Geva menjadi sangat lemah dan 'tak berdaya.Bibir keduanya sudah bertaut dan perlahan saling melilit lidah satu sama lain. Cumbuan keduanya perlahan kian memanas dan semakin panas hingga menuntut.
Tangan keduanya saling meraba dan menjamah bagian tubuh satu sama lain. Tangan Geva menelusuri setiap lekuk tubuh Berlian tanpa ada yang terlewat dan sedikit pun. Sedangkan Berlian tersenyum puas dalam cumbuannya ketika dia berhasil menggenggam kejantanan Geva dari balik celana pendek yang pria itu kenakan.
Lenguhan serta desahan keduanya saling bersahutan. Tetes demi tetes keringat pun bercucuran dan bertukar dengan tubuh keduanya.
Pendingin ruangan seperti mendadak rusak dan tidak lagi berfungsi dengan semestinya, karena hawa di dalam kamar Geva menjadi sangat panas sekali.
"Geva! Ah!" jerit Berlian sembari menggulung sprei di kedua tangannya.Kepala Berlian terdorong hingga mendongak ketika pria di atasnya itu menekankan miliknya jauh lebih dalam ke pusat gairah Berlian yang berdenyut kencang kala menyambut.
"Be, kenapa enak banget, sih?" Geraman pria itu bersalut dengan gairah yang membuncah.Saling menatap dengan napas terengah-engah. Keduanya tersenyum dan Berlian menyeka keringat dari pelipis Geva kemudian mengusap pipi pria itu dengan lembut.
"Selesaikan, Ge," pintanya dengan suara desahan. Geva mengangguk mengerti dan kembali menyelesaikan pekerjaannya, yaitu memuaskan Berlian.
Tubuh Geva jatuh di atas Berlian, beberapa saat mengatur napas. Pria itu pun segera mencabut kejantanannya dan berguling ke samping. Deru napas keduanya masih saling berkejaran untuk beberapa saat.
"Kalau kamu sampai hamil, aku mau tanggung jawab, kok, Be," ucap Geva dengan mata terpejam.
Berlian menoleh ke samping. Dia memerhatikan sosok pria di sampingnya yang selama ini selalu menemani hari-harinya, juga selalu melakukan apapun yang dia minta, terlebih urusan ranjang dan perhatian—Geva tidak ada duanya.
Berlian mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar yang berwarna putih polos. Dalam pikirannya penuh dengan kekhawatiran juga gambaran-gambaran buruk yang mungkin saja terjadi jika dirinya benar-benar tidak datang bulan.
Ditambah lagi, dirinya justru baru selesai bercinta dengan Geva yang mana tidak pernah memakai pengaman. Kemungkinan terjadinya kehamilan membuat Berlian semakin dirundung kekhawatiran.
Geva memang pria yang baik, tapi dia adalah sahabat Berlian dan wanita itu tidak ingin merusak persahabatannya jika memang sampai dirinya hamil dan dia menerima tanggung jawab Geva.
"Sungguh memuakkan sekali memiliki pikiran buruk begini," gumam Berlian dalam hatinya.
"Bobo, yuk!" Geva menarik selimut untuknya dan Berlian. Kemudian keduanya saling berpelukan melewati malam yang melelahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Bilim Kurgu18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
