Berlian merasa gelisah selagi dia menemani Louis duduk di teras—menunggu jemputan taksi online.
Pria itu terlihat santai sekali. Sembari meniupkan asap rokok ke udara, tangan kanannya sibuk mengetik sebuah pesan di ponsel. Sesekali dia melemparkan senyum pada Berlian yang mana justru membuat wanita itu semakin gelisah.
"Kamu baik-baik aja, kan, Berlian?" tanya Louis akhirnya setelah memerhatikan Berlian diam-diam.
"U-uh, i-iya. Aku baik-baik aja, kok."
"Kenapa gelisah?"
Deg!
Berlian terkejut. "Dari mana Louis tau kalau aku gelisah?" tanyanya heran dalam hati.
"Apa aku boleh main ke sini lagi kapan-kapan?"
Tenggorokan Berlian tercekat. Dia kesulitan bernapas seolah udara di sekitarnya sudah habis. Wajahnya memerah dan kepalanya bergerak pelan untuk mengangguk.
Louis tersenyum lagi. Tangan kirinya menyentuh tangan Berlian, mengusap punggung tangan wanita itu lembut dengan ibu jarinya. "Kalau kamu butuh sesuatu, hubungi aku aja, ya," pesannya.
"G-gimana caranya?"
"Aku udah kirim pesan ke kamu, tinggal kamu simpan aja nomorku."
"Kamu tau nom—"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Louis sudah lebih dulu bangkit dari kursi ketika melihat taksi online pesanannya sudah tiba.
"Terima kasih, ya, Berlian. Aku sangat menyukainya." Dia mengedipkan mata dan mengusap bahu Berlian.
Berlian tidak dapat bergerak. Seolah kakinya di paku sehingga menempel pada lantai yang dipijaknya. Bahkan sampai Louis masuk ke dalam taksi online dan kendaraan itu pergi meninggalkan rumahnya, Berlian masih juga terdiam di tempatnya.
"Dari mana Louis tau nomorku?" tanyanya pada diri sendiri.
Suara dering panggilan masuk membuat Berlian nyaris melompat dan akhirnya dapat bergerak dengan normal. Dia berlari masuk ke dalam rumah, meraih ponsel yang diletakkan di atas meja ruang tamu.
Mati!
Berlian mendelikkan matanya ketika melihat panggilan masuk dari Jessie. Dia membiarkan panggilan itu sampai berakhir dengan sendirinya dan setelahnya muncul pesan masuk dari Jessie.
Jessie :
Berlian, kamu sibuk nggak hari ini? Jalan-jalan yuk!
Tangan Berlian gemetar membaca pesan itu. Dia menjadi takut sekali.
Tidak membalas selama hampir lima menit. Jessie meneleponnya lagi. Berlian meringis—merasa semakin takut tapi jarinya tetap bergerak mengusap layar menerima panggilan.
"H-ha-halo?"
"Hai, Berlian!" Jessie terdengar sangat ceria sekali. Dia sesekali tertawa bersama orang lain di belakangnya.
"Kamu sibuk nggak hari ini? Maaf ya kalau aku ganggu."
"Eng-nggak kok, Jess." Berlian merutuki dirinya sendiri karena tiba-tiba dia menjadi terbata-bata seperti itu. "Ada apa?"
"Jalan-jalan yuk! Teman-temanku bilang, ada kafe yang lagi hits banget di daerah Bogor. Pas aku cek di laman webnya, kayaknya bagus dan aesthetic gitu."
Berlian langsung teringat pada salah satu video yang pernah dilihatnya. Seorang selebgram merekomendasikan kafe yang sedang hits di kawasan Bogor dan dia pernah tertarik untuk ke sana. Mengajak Geva berkali-kali selalu ditolak.
"B-boleh. Jam berapa?"
"Siang aja, gimana? Sekitar jam satu. Takutnya macet."
"Oke, nanti mau berangkat bareng atau gimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
