Kebohongan dan Kehilangan

31 2 0
                                        

Setelah tawa keduanya reda. Mereka kembali saling tatap dengan mulut yang perlahan menutup rapat.

Rasanya sungguh aneh dan benar-benar canggung. Berlian merasa hubungannya dengan Geva sudah ... semakin jauh dan kembali menjadi orang asing, persis seperti pada saat mereka belum saling mengenal, dulu.

Earl grey yang dipesan Berlian sudah nyaris dingin. Es di dalam gelas butterscotch latte milik Geva pun sudah mulai mencair.

Mereka sudah terlalu lama berdiam dan hanya saling melempar tatapan, sesekali bergantian memandang ke arah luar Starbun atau memeriksa ponsel masing-masing yang mendadak tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Aku nyariin kamu, Be. Kamu blokir nomorku ya? Kok, kamu pindah rumah tapi nggak ngabarin aku? Kamu balik ke rumah orangtuamu?"

Sekalinya Geva bersuara. Dia terlalu banyak melemparkan pertanyaan yang membuat Berlian menggelengkan kepala 'tak habis pikir.

"Pertanyaan yang mana, yang mesti kujawab duluan?" Berlian menopang dagunya di atas pangkuan tangannya.

Geva menghela napas dan menggelengkan kepalanya pelan. "Aku kangen kamu, Be."

Tidak disangka, kalimat sederhana yang diucapkan oleh Geva dapat membuat Berlian seolah terkena serangan jantung. Bukan hanya dirinya yang merindu, tapi ternyata Geva juga.

Harusnya tidak merasa aneh, tapi ... semua menjadi terasa aneh karena hubungan keduanya sudah banyak berubah sejak Geva mengungkapkan perasaannya.

Belum sempat menjawab pertanyaan sebelumnya, Geva sudah lebih dulu melontarkan pertanyaan lainnya pada Berlian.

"Apa kamu bahagia, Be?"

Tersentak dan bingung. Berlian menatap Geva penuh tanya. "Bahagia?"

Geva mengangguk sambil tersenyum lebar. "Kamu kelihatan sedikit lebih gemuk dari terakhir kali kita ketemu."

Deg!

Berlian memejamkan matanya sesaat. Dihirupnya oksigen banyak-banyak hingga memenuhi paru-parunya.

Bahagia? Apakah Berlian bahagia? Jawabannya tentu tidak.

Berlian tidak bahagia mengandung janin yang entah miliknya bersama siapa. Berlian tidak bahagia tinggal di kamar kos yang sempit dan pengap.

Berlian tidak bahagia dengan kenyataan, bahwa sahabatnya sudah menemukan wanita pilihannya dan berbahagia bersama keluarga kecil yang sudah pelan-pelan dibangun bersama.

Berlian tidak bahagia dengan apa yang menimpanya dalam waktu empat bulan terakhir.

"Ya! Aku ... ya, aku bahagia dengan hidupku sekarang, Ge."

Berdusta! Berlian mengatakan kalimat dustanya penuh sesak di dadanya dan senyum getir yang terasa perih.

Ada sedikit binar di wajah Geva sewaktu pria itu mendengarnya. Walau jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa sedih, dan berharap Berlian akan memberi jawaban yang berbeda.

Mengamati wajah wanita di hadapannya dengan raut wajah tidak percaya. Pasalnya, walau Berlian telah mengulas senyum sedemikian rupa, tapi sorot matanya tidak memancarkan kebahagiaan yang terucap keluar dari mulutnya.

"Aku senang dengarnya, Be. Kenapa kamu blokir nomorku dan ... kamu tinggal di mana sekarang?"

"Oh itu ...." Berlian mengulum bibirnya selagi memikirkan alasan apa yang akan dia berikan pada Geva. "Itu ... uhm, ponselku ilang. Jadinya aku ganti nomor. Dan ... aku pulang ke rumah  orangtuaku karena beberapa bulan terakhir repot mengurus persiapan pernikahanku."

Debaran jantung Berlian tidak dapat menutupi kebohongan yang baru saja dia ucapkan dengan begitu lancar. Mengumpati dirinya sendiri dalam hati setelah mengatakan semua kebohongan itu.

"Pernikahan? Kamu?" Geva menunjuk wajah Berlian dan menggelengkan kepala tidak percaya. "Berlian Zemira akan menikah?" Pria itu tertawa hambar dan terus menggelengkan kepala sampai akhirnya dia berhenti dan memperlihatkan sorot mata sedih.

"Y-ya! Aku. Aku akan menikahi pria pilihan ibuku." Jawaban Berlian dibuat seyakin mungkin. Walau kini kedua tangannya kembali menarik kedua sisi cardigan ke bagian depan perutnya dan meremas kain itu sekuat tenaganya.

"Waw!" Mulut Geva menganga cukup lama. Pria itu bahkan nyaris tidak berkedip saat menatap lurus pada Berlian.

"Sebuah langkah yang besar dan—" Geva mengangkat bahu, urung melanjutkan kalimatnya.

Benar-benar pertemuan sepasang sahabat yang sangat canggung.

Geva menyandarkan punggungnya yang semula terlihat menegang. Dia menunduk untuk melihat jemari tangannya sendiri di atas pangkuannya.

"Gimana kabarmu dan ... Giana?" Butuh hati yang kuat sewaktu Berlian menyebutkan nama Giana.

Kepala Geva terangkat. Datar dan tanpa ekspresi menghiasi wajahnya. Kembali, sepasang manik cokelatnya bertemu dengan milik Berlian.

"Baik. Luar biasa baik. Aku sehat, Giana dan janin di dalam kandungannya pun sehat. Kami berdua sama-sama nggak sabar menanti kelahiran buah hati kami." Seulas senyum palsu tercetak.

Kali ini, Berlian yang dibuat menganga oleh jawaban Geva yang terdengar begitu mantap.

"Aku senang dengarnya, Ge." Berlian bangkit dari kursinya. Kembali memeluk tas belanja untuk menutupi bagian perutnya. "Aku duluan, ya, Ge." Berlian pamit dengan canggung.

Geva ikut bangkit dan mendekatkan dirinya pada Berlian. Sebuah kecupan di kening yang tidak diduga, membuat Berlian cukup terkejut.

Hanya kecupan di kening mengganggu ketenangan hati Berlian. Jauh sebelumnya, kecupan di sekujur tubuhnya yang diberikan oleh Geva, tidak pernah menganggunya sedikit pun.

"Geva ...."

Sebuah suara membuat Berlian dan Geva menoleh. Beberapa pengunjung Starbun yang sedang menikmati kopinya juga ikut menoleh ke asal sumber suara.

Giana berdiri di pintu masuk Starbun dengan wajah merah padam menahan emosi yang bergejolak dalam dirinya ketika melihat Geva baru saja mengecup kening wanita yang disebut-sebut seorang sepupu namun kenyataannya adalah sahabat sekaligus teman tidur dari pria yang menjadi kekasihnya selama ini.

Giana melesat pergi begitu saja, keluar dari Starbun. Geva mengumpat pelan, kemudian berlari menyusul wanitanya. Langkahnya sempat terhenti di ambang pintu.

Dia berniat untuk menoleh, tapi ... dia urungkan. Meninggalkan Berlian begitu saja, Giana adalah prioritasnya sekarang.

Kejadian singkat ini seolah menampar Berlian. Menyadarkannya bahwa posisinya sebagai seorang sahabat benar-benar telah tergantikan.

Berlian telah kehilangan Geva ... seutuhnya.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang