Berlian memerhatikan Geva yang tengah fokus menatap layar laptopnya di meja kerja yang berada di samping ranjang tidurnya.
Pria itu menggigit bagian atas ujung pena digital. Matanya menatap tajam dan tidak sedikitpun teralihkan dari layar. Pria itu sedang mempelajari kasus baru yang akan di hadapi akhir pekan ini.
"Jangan memandangiku terus. Nanti kamu jatuh cinta."Dengan kikuk Berlian berbalik dan memaksakan matanya untuk terpejam. Bagian sisi ranjang terasa turun saat pria berbobot besar itu merangkak naik dan berbaring di belakang punggungnya. "Kamu mau sesuatu?" tanyanya sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Berlian.
"Enggak. Aku mau tidur."
"Yakin? Nggak mau minum atau makan buah?"
Berlian menghela napas kemudian berbalik dan menatap Geva yang kini tengah mencengir lebar di hadapannya. "Boleh aku minta teh hangat?"
"Tentu." Pria itu melompat dari ranjang.
Benar-benar melompat seperti seekor tupai yang lincah. Nampaknya Geva sangat ceria sekali. Berlian mengernyit heran, Sebagian dari dirinya justru merasa sedikit khawatir akan kondisi sahabatnya tersebut.
Setiap manusia memiliki caranya masing-masing dalam menghadapi fakta menyakitkan. Ada yang menangis, marah, menyendiri, menghilangkan jejak dari media social dan ... berpura-pura bahagia untuk sesuatu yang menyedihkan.
"Ini tehnya. Hati-hati panas." Segelas teh hangat sudah berada dalam genggaman Berlian.
Menyesapnya pelan-pelan, pandangan Geva tidak lepas dari wanita pujaannya. "Kenapa ngeliatinnya begitu, sih, Ge?" lirik Berlian dari balik gelasnya.
"Nggak apa-apa. Udah?" Berlian mengangguk dan memberikan gelasnya pada Geva. Pria itu meminum sisa teh sampai habis.
"Enak juga ternyata teh tawar hangat. Kukira, yang enak cuma yang manis."
"Nggak juga, sih."
"Tau nggak, kenapa teh tawarnya enak?" Berlian menggelengkan kepala malas. Dia kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutupi bagian dadanya.
"Karena minumnya sambil liatin kamu." Kedipan sebelah mata Geva membuat Berlian tertawa terbahak-bahak sampai sudut matanya berair.
"Kamu norak banget, sih, Ge. Astaga!" Berlian menyeka sudut matanya dengan ibu jari. Geva berbaring di sampingnya. Sama-sama menatap langit-langit kamar yang polos. "Gimana keadaanmu?" Berlian memiringkan tubuhnya, memandangi wajah sahabatnya yang nampak bersedih.
"Keadaanku?" Seketika wajah sedih itu berubah menjadi wajah konyol yang menyebalkan. "Sejak kapan kamu peduli keadaanku? Lucu banget." Geva tertawa namun Berlian merasa tertohok dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Geva.
"Ya. Emang nggak pernah peduli sama keadaanmu selama ini, Ge. Aku sahabat yang buruk."
"Hey! Kenapa bilang begitu? Aku cuma bercanda." Geva memiringkan tubuhnya dan meraih dagu Berlian sehingga wajah wanita itu terangkat. "Kamu sahabat terbaikku, Be. Aku yang buruk. Aku pernah melakukan hal buruk dan ... itu menghantuiku."
"Aku udah maafin kamu, Ge."
"Tapi aku belum. Aku belum memaafkan diriku sendiri atas apa yang aku lakuin ke kamu hari itu." Geva mendesah. "Itu konyol dan ... seharusnya aku nggak terbakar emosi. Seharusnya aku—"
Ucapan Geva terhenti ketika Berlian sudah menekankan bibirnya ke bibir Geva. Membungkam pria itu dengan cara lama yang biasa dilakukan oleh Geva terhadapnya. "Aku mencintaimu, Be."
"Aku tau, Ge." Berlian menyudahi cumbuan mereka. "Jadi, gimana keadaanmu sekarang?"
Geva mengedikkan bahunya. Meraih tangan Berlian untuk dikecup basah yang mana membuat wanita itu mendorong wajahnya karena sebal. "Aku menyesal, kesal, dan ... kecewa. Tapi, aku baik-baik aja."
"Menyesal, kesal dan kecewa itu bukan keadaan yang baik-baik aja, Gevariel Gerald." Gemas. Berlian mencubit hidung sahabatnya itu sampai merah. "Maafin aku, ya, Ge."
"Maaf karena apa?"
"Karena ... mengandung anak atasanmu yang juga temanmu."
"Nggak usah dibahas lagi ya, Be. Sekarang yang terpenting kamu sehat dulu. Supaya bisa ngomel-ngomel lagi."
"Ge, aku gendut. Liat deh, perutku ...." Berlian menyibakkan selimut dan memperlihatkan perutnya yang masih besar pasca operasi caesar. "Aku nggak cantik lagi."
"Kamu lucu, Mama Bear." Geva terkikik dan membawa tangan Berlian ke rambutnya. Membiarkan wanita itu memijat kulit kepalanya dengan cara sendiri yang sangat Geva sukai. "Kamu tetap cantik. Kamu tetap Berlian yang aku sayang, yang aku cinta. Sahabatku yang bawel, judes dan tangannya enteng untuk mukul."
"Makasih. Kuanggap itu sebagai pujian."
Mereka berdua tertawa. Melewati malam dengan tidur berdampingan tanpa melakukan apapun seperti dulu.
Tentu saja. Berlian tidak mungkin melakukan apapun dalam kondisi fisiknya pasca operasi seperti sekarang dan psikisnya yang tidak baik-baik saja seperti Geva.
"Be, kamu udah tidur?" tanya Geva setelah pria itu berusaha memejamkan matanya.
Berlian membuka matanya dan berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya dengan cahaya sekitar. "Kenapa, Ge?" Suaranya terdengar serak. Dia sudah sempat terlelap selama sepuluh menit. "Kamu kenapa belum tidur?"
"Aku nggak bisa tidur, Be."
"Kenapa?"
"Rasanya aneh, tidur di ranjang berdua sama kamu tapi ... kayak patung yang kaku dan cuma saling diam nggak melakukan apapun."
"Ayolah, Ge. Aku kan, baru aja operasi. Kamu mau apa emangnya?"
"Pelukan gitu. Atau ... pegang tanganku, Be."
Kerutan di kening Berlian adalah tanda dirinya merasa aneh dengan sikap manja Geva yang seperti ini. "Ah, kamu ini. Ya udah, sini. Tapi tidur, ya. Aku ngantuk banget, Ge," ujar Berlian dengan kedua matanya yang sudah kembali menutup.
"Iya, Be." Geva tersenyum saat Berlian menggenggam tangannya.
Hanya dengan merasakan kulit yang saling bersentuhan seperti ini saja, dapat membuat Geva menjadi luar biasa senang.
Pria itu memang sudah terbiasa melakukan kontak fisik dengan Berlian. Seperti semacam kecanduan dan kebiasaan yang sulit dihilangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Sci-fi18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
