Berlian Terpesona

89 15 0
                                        

Berlian hampir lupa berkedip dan bernapas ketika Niall ikut bergabung bersamanya dan Jessie. Pria itu memesan caramel macchiato dan duduk di samping Berlian

"Hai! Temannya Jessie?" Dia menyapa dan wanita di sampingnya merasakan gempa bumi di dalam rubuhnya. "Kenalin, aku Niall, sepupunya Jessie." Niall mengulurkan tangan.

Berlian diam. Kedua matanya terarah pada tangan Niall yang terulur. Menatap beberapa menit tangan kekar yang memiliki rambut halus yang menutupi hampir keseluruhan kulit Niall.
Tidak ada tato di tangannya seperti milik Geva. Niall hanya memiliki sebuah tindikkan di telinga kirinya.

Dehaman Jessie membuat Berlian tersadar dan terkesiap. "M-maaf. H-hai, Niall! Senang bertemu denganmu, namaku Berlian." Tangan kanannya gemetar sewaktu terulur untuk menjabat tangan pria di sampingnya.

Jessie dan Niall tertawa kecil melihat Berlian yang menjadi salah tingkah. Siapa yang tidak akan salah tingkah jika di pagi hari bertemu pria tampan yang duduk di sampingnya dan minum kopi bersama.

Dan pria itu adalah Niall James Smith. Pria yang terkenal di media sosial karena suara bagusnya dan single hits miliknya yang selalu berputar di radio lokal hampir setiap hari.

Berlian mengaduk-aduk tasnya untuk mencari bedak dam lipstik miliknya. Penampilannya sekarang benar-benar sangat buruk. Seperti orang baru bangun tidur dan belum mandi.
Selagi Berlian sedang bersolek. Jessie dan Niall birbincang cukup serius dan Berlian yang ada di dekat mereka tentu saja dapat mendengarnya.

Sedang asik berbincang, tiba-tiba saja ponsel Jessie berdering. Dia tersenyum sembari menatap layar ponselnya dan sedetik kemudian tersambung dengan seseorang melalui facetime.

"Hai, Jess! Gimana kabarmu?" suara pria di dalam sambungan facetime itu membuat Berlian diam sejenak. Suara serak dan tempo bicara yang pelan darinya terdengar begitu nyaman di telinga Berlian.

"Baik dong! Kamu dan kakakku baik-baik aja kan? Pasti udah kangen sama aku." Jessie tergelak sedangkan Niall di depannya memutar mata malas.

"Iya, nih. Aku kangen banget sama kamu, Jess. Ayo pulang ke sini."

"Jangan belajar gila, Har," sahut Jessie menanggapi. "Kakakku mana?"

"Di rumah. Aku di kantor."

"Kalau Joy telepon atau mengirim pesan, dibalas dong, Jess. Kasihan kakakmu khawatir. Kamu jangan macem-macem ya, di sana. Nggak usah ke kelab malam atau mabuk-mabukkan berpesta sama teman." Rentetan pesan dari pria itu membuat Berlian mengulum senyum sewaktu mendengarnya.

"Astaga! Kamu tuh bikin malu. Ada temanku di sini, Har," desis Jessie sembari melotot ke layar ponsel. Suara gelak tawa pria itu terdengar renyah sekali.

"Temanmu? Sherly dan Fanisya? Mereka, kan, udah tau siapa kamu, Jess."

"Bukan. Ini temanku." Tiba-tiba saja Jessie mengarahkan layar ponselnya ke Berlian. Wanita itu nyaris saja mencoret bibirnya dengan lisptik karena terkejut. "Berlian, kenalin ini kakakk iparku," terang Jess.

Berlian tersenyum dan membalas lambaian tangan pria di layar ponsel. "Hai, Berlian."

"H-hai." Berlian kesulitan menelan ludahnya sendiri. Pria yang sedang melakukan facetime dengan Jessie adalah pria asing yang fasih berbahasa Indonesia.

Ponsel Jessie direbut oleh Niall. "Eh, Ni. Jangan galau terus! Makan yang banyak, berpikir yang bagus-bagus aja, yang positif," pesan pria itu pada Niall yang mendengus menanggapinya.

"Kamu lama-lama kayak ayahku, Har. Rewel," keluh Niall.

"Mungkin naluri seorang ayah emang begitu, Ni." Pria itu terkekeh.

Selanjutnya pria itu berbincang dengan Jessie dan Niall, sedangkan Berlian fokus merias wajahnya.

"Hai, Berlian. Kamu tinggal di sini juga?" tanya Niall tepat pada saat Berlian menutup pouch make up.

Berlian tersenyum canggung, kemudian memasukkan pouch make up ke dalam tas. "Enggak kok, aku cuma nginap di unit teman," kekehnya dan Niall mengangguk.

"Jess, kita mau berangkat jam berapa jadinya?" Niall bertanya pada Jessie yang sedang sibuk mengetik pesan. "Jess!" pekik Niall tepat di telinga Jessie.

Wanita itu terkejut sehinggal ponselnya sampai terlempar dan untung saja Berlian menangkapnya dengan cepat. Jika tidak, mungkin saja benda pipih itu sudah hancur berkeping-keping.

"Gila kamu, Ni!" marah Jessie pada Niall. Pria itu hanya memutar mata malas menanggapi kemarahan sepupunya. "Tunggu sebentar, aku mau ajak Arkan." Jessie kembali mengetik pesan di ponselnya.

Niall mendesah kesal. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Orang itu nggak punya pekerjaan, ya? Kayak restoran cepat saji, dua puluh empat jam selalu siap melayani," gerutu Niall yang nampaknya tidak menyukai sosok Arkan.

"Berisik, ah!" Jessie mencubit bibir Niall yang mana jarinya langsung dijilat oleh pria itu dan membuat Berlian tertawa melihat tingkah keduanya. "Jorok banget, sih, Ni! Astaga!" decak Jessie kesal.

"Kalian lucu banget, sih," komentar Berlian dijawab bersamaan oleh Jessie dan Niall.

"Dia nyebelin!" jawab keduanya. Berlian tertawa terbahak-bahak.

Berlian tidak pernah menyangka akan bertemu hingga mengenal sosok Jessie dan Niall yang ternyata sangat lucu seperti itu.

Jika melihat secara raut wajah, Jessie terlihat sangat judes sekali, apalagi pada saat dia menatap seseorang. Siapapun akan merasa ngeri dan dijamin salah tingkah.

"Kamu bikin janji jam berapa sama dokternya?" tanya Jessie sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket yang dia kenakan.

"Jam satu siang."

"Masih lama banget, dong? Kamu mau ke mana sambil menunggu?"Berlian melihat ke sekelilingnya. "Entahlah, mungkin aku di sini aja sampai jam satu siang nanti," kekehnya.

"Kamu nggak ke unit Geva lagi?"

"Enggak deh, males."

Jessie mengerucutkan bibirnya. Dia dan Niall saling tatap sebentar.

"Ke unitku aja yuk! Di sana ramai, ada teman-temanku juga."

Berlian yang sedang meneguk tehnya nyaris saja tersedak karena terkejut ketika mendengar ajakan Jessie.

"Aku di sini aja, Jess. Nggak apa-apa. Kalau kalian mau balik ke unit, silakan aja." Berlian memberikan senyum terbaiknya.

"Ikut aja, dari pada sendirian di sini. Kalau di atas, kamu bisa rebahan atau melakukan hal lain.
Kalau menunggu di sini sampai jam satu siang, pinggangmu pasti pegal karena duduk di kursi kayu kayak begini," tutur Jessie panjang lebar.

Berlian kembali dibuat tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ternyata Jessie benar-benar sangat baik padanya, padahal mereka baru saja saling kenal.

"Memang benar kata kebanyakan orang kalau orang asing jauh lebih ramah," batin Berlian.Setelah berpikir selama beberapa menit, akhirnya Berlian mengangguk setuju dan Jessie sangat senang sekali.

Mereka bertiga segera menuju lantai paling atas dari Steels Tower. Di lantai paling atas hanya ada satu pintu besar dan Jessie segera menempelkan kartu aksesnya pada sensor, lalu pintu terbuka.

Berlian terperangah melihat unit milik Jessie yang luar biasa sangat besar juga memiliki desain minimalis namun juga memiliki kesan yang sangat mewah.

Terdengar suara tawa dan teriakkan wanita dari arah luar. Berlian melihat ada dua orang wanita sedang bercanda di kolam renang bersama seorang pria asing yang dia lihat beberapa hari lalu di Sunflower Land by Steels.

Niall berlari cepat sembari melepaskan pakaiannya satu persatu dan hanya menyisakan celana boxer. Kemudian pria itu melompat masuk ke dalam kolam renang, yang mana membuat dua wanita yang berada di sana memekik heboh.

"Maaf ya, teman-temanku emang agak kampungan," kekeh Jessie. Dia mengajak Berlian menghampiri teman-temannya. "Guys, kenalin ini teman baruku namanya Berlian." Jessie memberitahu teman-temannya.

"Hai, Berlian! Aku Sherly!" Wanita rambut pirang yang memiliki wajah lokal, melambaikan tangannya.

"Aku Fanisya!" Wanita dengan rambut hitam sebahu juga ikut memperkenalkan dirinya.

"Hai, semuanya. Salam kenal ya." Berlian membalas lambaian tangan kedua wanita tersebut yang kini tengah berlomba renang bersama Niall.

"Nah, yang ini Louis." Jessie menunjuk seorang pria bule yang sejak tadi hanya diam memerhatikan Berlian.

Berlian menahan napas ketika pria iti tersenyum ke arahnya. Biasanya dia sangat percaya diri sekali, tapi kali ini entah kenapa dirinya menciut ketika berhadapan dengan pria asing yang tampan dan memiliki senyum menawan.

"Hai." Pria asing bernama Louis itu mengulurkan tangan. "Louis."

Berlian menyambut tangan Louis dengan ramah. "Berlian." Pria itu mengangguk dan menarik perlahan uluran tangannya.

"Senang bertemu denganmu, Berlian." Louis meraih handuknya. Tangan kirinya memegang ponsel dan sebuah buku. Dia mengangguk, kemudian berjalan ke dalam lalu menaiki anak tangga dengan langkah cepat.

Berlian lupa bernapas. Dia terbatuk-batuk dan memukul dadanya sendiri.

"Louis emang cakep! Tapi jangan lupa napas. Kamu masih manusia, Sayang!" teriak Sherly yang langsung disambut gelak tawa oleh Niall dan Fanisya.

Berlian merasakan hangat di kedua pipinya. Dia merasa sangat malu sekali karena teman-temannya Jessie melihatnya yang tengah terpesona dengan ketampanan Louis.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang