Konsultasi

33 1 0
                                        

Steels Care berada di gedung yang sama dengan tempat tinggal sementara Berlian kini. Tapi, wanita itu enggan kembali ke sana untuk menanyakan perihal jahitan operasinya yang terbuka dan mengeluarkan cairan.

Seperti kebiasaannya selama hamil, Berlian mencari informasi dari berbagai macam laman situs web. Dia juga bertanya pada sebuah laman web yang menyediakan konsultasi online dengan seorang dokter.

Berlian mengajukan pertanyaan.

Berlian :
Selamat siang, Dok. Perkenalkan nama saya, Berlian. Lima hari yang lalu saya melakukan operasi caesar dan pengangkatan miom sekaligus. Lalu, hari ini jahitan operasi saya terbuka dan mengeluarkan cairan yang beraroma tidak sedap. Apakah itu bahaya?

Lama menunggu, pertanyaannya masih juga belum dijawab. Sampai pintu unit terbuka dan Geva melangkah masuk. Akhirnya Berlian mengunci ponselnya dan keluar dari kamar.

Niat hati, dia ingin menyambut sahabatnya itu. Namun Geva justru mengacuhkannya. Pada saat bertemu di pintu kamar, Geva berlalu begitu saja sehingga membuat Berlian mendecak sebal. Geva yang pagi tadi sangat ceria, sekarang nampak sungguh kusut dengan wajah cemberut.

"Kamu mau makan, Ge? Tadi aku masak sayur bayam dan tempe orek. Ada telur balado juga."

Geva berbalik, kedua tangannya sibuk melepas kancing kemejanya satu persatu. "Apa aku menyuruhmu masak?" Berlian menggelengkan kepala. "Kenapa kamu masak? Dari mana kamu dapat semua bahan-bahannya? Aku nggak punya stok sayuran, apalagi bayam dan tempe."

"A-aku ... aku butuh sayuran. Aku harus makan sayur. Dan ... tadi aku memesan sayuran itu melalui jasa ojek online, Ge. Sayurnya baru, kok. Belum ada setengah jam, masih hangat. Mau aku siapin?"

Lama menatap Berlian. Geva tidak mengatakan apapun. Bahkan hingga seluruh kancing kemejanya terlepas dan memperlihatkan sedikit bagian tubuhnya yang dahulu selalu membuat Berlian tidak kuasa menahan hasrat untuk menyentuhnya.

Kini wanita itu tersenyum kikuk, dan mengalihkan pandangannya ke lantai.

"Kamu belum makan?" tanya Geva.

Berlian menggelengkan kepalanya, masih menunduk menatap lantai di bawah kakinya. Terdengar suara ikat pinggang yang membentur nakas, dilanjut dengan suara ristleting dan pergerakan Geva yang terlihat dari sudut mata Berlian.

"Aku mandi sebentar. Kita makan bareng," ucap pria itu datar sambil melangkah masuk ke kamar mandi.

Berlian menghela napas lega. Dia bergidik sebelum berjalan ke dapur. Menuang sayurnya ke dalam mangkuk besar, menata tempe orek serta telur baladonya ke atas piring polos warna hitam.

Percayalah, semua barang-barang yang ada di unit Geva benar-benar maskulin dan hampir rata-rata berwarna hitam.

Duduk di kursi makan menunggu pria itu selesai mandi. Perutnya sudah berbunyi tanda kelaparan. Tapi nampaknya sahabatnya itu masih belum juga menyelesaikan ritualnya. Sehingga Berlian mulai memakan tempe oreknya satu persatu.

Aroma shampo yang bercampur dengan sabun serta mouth wash, tercium begitu menyegarkan memasuki indera penciuman Berlian. Pria itu sudah duduk di sampingnya, mengenakan celana pendek rumahan serta kaus merchandise Bruno Mars.

"Sejak kapan kamu punya merchandise Bruno Mars?" tanya Berlian sambil mengamati kaus yang dikenakan Geva.

"Sejak dikasih sama Pak Harry." Pria itu menyendok nasi dan menuangkannya ke dalam piring Berlian, juga piringnya.

"Oh. Waw. Baik juga bos besarmu."

"Banget." Geva tersenyum. "Kamu makan yang banyak, supaya cepat sembuh dan nanti bisa ikut aku ke London."

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang