Sentuhan itu ....

139 1 1
                                        

"Hai, Berlian!" Suara itu!

Giana yang sedang mengunyah pun mendadak berhenti. Mulutnya sedikit terbuka dan matanya nyaris tidak berkedip.

Belum sempat menoleh, pria yang memanggil namanya sudah lebih dulu menarik kursi dan duduk di hadapannya, menempati kursi Jessie.

Pria itu adalah Niall. Dengan senyum khas yang dapat membuat wanita manapun pasti ikut tersenyum melihatnya, Niall melemparkan senyum ramah pada Geva dan Giana.

Pelan-pelan Giana mengatupkan mulutnya. Tangannya bergerak lambat meraih gelas yang berisi fruit punch. Geva berdeham, dan Giana langsung menyesap minumannya.

Berlian mendengar langkah kaki yang mendekat dan berhenti tepat di belakangnya. "Geva."

Geva menoleh dan mengangguk. Dia segera berdiri dan mengulurkan tangannya. "Pak, silakan duduk."

Pak?
Siapa yang dipanggil 'pak' ?

Berlian memutar tubuhnya sedikit untuk melihat sosok yang berdiri di belakangnya. Seulas senyum menyambutnya dengan sangat sopan. Berlian membalas senyum itu.

"Eh, Loueh! Ngapain kamu ke sini?" tegur Jessie yang baru saja kembali dari toilet bersama kedua temannya.

"Kamu nggak menjawab teleponku," jawab Louis. "Niall rewel," sambungnya ketus.

"Aku mau pulang besok pagi, Jess."

"Bukannya malem?" Jessie duduk di lengan kursi yang diduduki oleh Niall.

Santai—wanita itu mengambil sisa pizza dari atas piring dan langsung menyodorkannya pada Niall.

Bagaikan mesin ototmatis, mulut Niall langsung terbuka ketika mendeteksi makanan di hadapannya. Mengunyah pizza di dalam mulutnya sampai habis, akhirnya dia menjawab pertanyaan Jessie.

"Louis pesan tiketnya pagi," keluhnya dengan bibir mencebik.

Jessie beralih pada Louis yang langsung mengangkat kedua tangannya ke udara. "Hanya itu yang ada."

"Pulang, yuk, Jess! Aku mau cerita sama kamu," rengek Niall tanpa peduli dengan Geva dan Giana yang memerhatikannya sejak tadi.

"Permisi. Hallo, Niall James Smith?" Empat orang gadis remaja menghampiri dan salah satunya bicara menggunakan bahasa inggris.

"Iya. Dia Niall yang ada di media sosial," jawab Sherly.

"Boleh foto bareng?" tanya gadis remaja yang memakai rok ketat mini.

"Boleh." Niall beranjak dari kursi.

Gadis remaja yang menyapa dengan bahasa Inggris tadi dengan santainya memberikan ponselnya ke Sherly. "Tolong fotoin ya, Kak."

"Ayo, Kak, fotoin," ejek Fanisya di sebelahnya.

"Udah jadi artis dia," bisik Louis di telinga Berlian.  Hangat napas pria itu membuat tubuh Berlian meremang hebat dengan cepat. "Kamu nggak mau ikutan?" Louis kembali berbisik, tapi kali ini jaraknya sangat dekat dengan leher Berlian.

Di bawah meja, tangan Berlian mencengkram bagian bawah kemeja yang dia pakai. Meremas kuat-kuat menahan hasrat yang bergejolak dari dalam dirinya.

"Silakan, kursinya." Seorang pelayan membawa sebuah kursi dan meletakkannya di samping kanan Berlian.
"Makasih," ucap Louis ramah. Pelayan wanita yang membawakan kursi tadi, wajahnya praktis memerah. Dia nampaknya terkejut sewaktu Louis bicara menggunakan bahasa Indonesia.

Louis merapatkan kursinya pada kursi Berlian, kemudian dia duduk di sana dengan senyum yang membuat tubuh Berlian semakin tidak kuat menahan getaran.

Jessie menertawai Niall yang masih menjadi rebutan gadis remaja. Wajah sepupunya itu sudah mulai kesal tapi berusaha ditahan mati-matian untuk tetap tersenyum.

"Udah, nih, banyak! Cukup sampai Niall pensiun jadi artis," ketus Sherly—mengembalikan ponsel milik gadis remaja tadi.

"Makasih, ya, Kak. Makasih, Niall. Nice to meet you."

Selepas kepergian empat gadis remaja tadi, Niall kembali duduk. Dia menghela napas dan meneguh air minum yang entah milik siapa.

"Kukira nggak ada yang kenal," kata Niall setelah menghabiskan minuman yang ternyata adalah milik Berlian. "Eh, ini minuman siapa yang kuhabiskan? Maaf. Biar kuganti deh," ujar Niall yang baru menyadari kalau dirinya menghabiskan minuman seseorang.

"Punyanya Berlian," sahut Geva yang menahan tawa.

"Yah, Be. Maaf," lirih Niall. Dia menunjukkan ekspresi sedih yang dibuat-buat sehingga kelihatan lucu sekali.

"Eng-nggak apa-apa, Niall. Sebentar lagi mau pulang, nggak usah pesan lagi," ucap Berlian. Dia merasa gugup duduk sangat dekat dengan Louis.

"Kok pulang?" Louis menelengkan kepalanya pada Berlian.
Geva menatap Louis dan Berlian dengan tatapan curiga. Dia curiga melihat gelagat Berlian yang aneh dan mendadak pucat.

"Pak Louis nanti juga ikut pulang ke London?" Geva bertanya, sehingga Louis beralih padanya.

"Louis aja. Kita, kan, nggak berada di lingkungan kantor, Ge," pintanya. "Ya, ikut pulang juga ke London. Khawatir kalau membiarkan Niall sendirian di pesawat nanti dia diajak swafoto sama ibu-ibu yang mau travelling, kasihan dia," selorohnya asal.

Giana terkikik di samping Geva. Menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Berlian kembali diam. Jessie, dan kedua temannya asik melihat sesuatu di ponsel.

"Nggak usah sok care sama aku!" Niall melempari Louis dengan sisa kentang goreng di atas meja. Tapi meleset dan justru mengenai Berlian. "Duh, maaf, Be."

Louis mendecak. "Kebiasaan," omelnya. Kemudian dia mengambil irisan kentang goreng yang jatuh ke atas paha Berlian.

Mata Berlian tidak lepas dari tangan Louis yang bergerak lambat mengambil irisan kentang goreng. Sewaktu tangan itu berada di sekitar pahanya, Louis dengan sengaja memberi sentuhan lebih—bukan hanya sekedar mengambil irisan kentang.

Berlian memejamkan mata, menahan gejolak hasratnya yang kian menjadi. Tangannya kembali meremas bagian bawah kemeja.

Louis yang menyadark itu segera menyentuh salah satu tangan Berlian kemudian tersenyum—tepat pada saat wanita itu membuka mata.

Geva berdeham. "Be, kamu mau pulang ke unitku nggak?"
Berlian mendelik ketika mendengar pertanyaan Geva. Louis segera duduk tegak setelah membuang irisan kentang yang diambilnya tadi.

"Kalian ...." Louis menunjuk Geva dan Berlian bergantian.

"Sepupuan." Giana menjawab untuknya.

"Oh. Kirain pacaran," kata Louis yang kemudian tersenyum ke arah Berlian.

Geva bergerak tidak nyaman di kursinya. Dia meneguk sisa minumannya sampai habis. "Pulang, yuk, Gi!" Dia mengajak Giana pulang. "Mau bareng, nggak?" tanyanya sedikit ketus pada Berlian.

Berlian menggelengkan kepalanya. "Jessie, Sherly dan Fanisya bareng aku tadi. Jadi aku mesti antar mereka dulu."

"Nggak usah, Be. Mereka pulang sama aku," ujar Louis.
"Bener, tuh! Kamu langsung pulang aja. Jauh loh kalau harus ke Steels Tower dulu," imbuh Fanisya.

"Beneran nggak apa-apa?" Berlian merasa tidak enak hati.

"Nggak apa-apa, Berlian. Makasih, ya, udah mau jalan-jalan sama aku dan kita semua," ujar Jessie yang kemudian memeluk Berlian singkat. "Makasih juga ya, Geva dan Giana udah bolehin kita gabung di sini."

"Sama-sama, Jessie. Main-main ya, nanti." Giana memeluk Jessie.

"Pasti. Kapan-kapan harus hangout lagi," ucap Jeseie mantap sembari menarik diri.

Berpisah di area parkir kafe. Masing-masing kembali ke tempat tinggalnya

Sialnya, Berlian harus menyetir sendirian dari Bogor ke Jakarta. Untung saja sekarang hari Minggu dan sudah malam. Jadi, jalan raya tidak terlalu ramai sehingga dia bisa tiba di rumahnya sedikit lebih cepat dari seharusnya.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang