Geva sejak tadi tidak melepaskan matanya dari Giana yang tengah sibuk berjalan mondar-mandir dari dalam kamarnya ke dapur, kemudian kembali lagi ke kamar dan keluar lagi lalu berdiri di ruang tengah dengan raut wajah berpikir.
"Apa nggak bahaya masih ngajar koreo di saat usia kandunganmu udah besar begitu?" tanya Geva akhirnya setelau tidak tahan melihat kesibukan Giana yang sedang mempersiapkan bawaannya untuk mengajar.
Giana menoleh untuk melemparkan senyum termanisnya. Hanya sekilas saja, karena setelahnya wanita itu langsung memalingkan wajah. Dia masih kesal perihal makan malam bersama keluarganya kemarin yang mana Geva tidak memiliki inisiatif untuk ikut serta.
"Gi, bukannya telinga digunakan untuk mendengar dan mulut untuk berbicara ya?" Pertanyaan Geva yang sarkas membuat Giana kembali menoleh tapi kali ini dia memicingkan matanya.
Geva tersenyum, berjalan mendekati wanitanya.
"Eggak," sahut Giana yang kemudian memasukkan botol minumnya ke dalam tas.
"Enggak apa?" Kedua tangan Geva melingkar sempurna di pinggang Giana dan dia meletakkan dagunya dibahu wanitu itu terbuka. "Pakaian seksimu ini bisa bikin pria ngiler loh."
"Kenapa? Aku wanita hamil. Apa yang membuat pria ileran melihat pakaianku? Melihat perut buncit ini?" Giana berbalik dan memajukan perutnya hingga bersentuhan dengan perut Geva.
Geva terkekeh dan membawa tangannya untuk mengusap perut Giana. Dia sangat menyayangi janin yang berada di dalam perut Giana. Walaupun belum tahu apa jenis kelaminnya, tapi pria itu sangat menyayanginya dan ingin segera bertemu dengan buah hatinya.
"Udah, ah! Aku mau berangkat sekarang aja." Giana meraih tasnya yang dia sampirkan di bahunya. "Aku udah masak capcay untuk makan siangmu. Jangan banyak ngopi, Ge!" pesannya lebih seperti peringatan.
"Siap, Kanjeng Ratu!" Geva tersenyum dan mengecup pipi Giana, membuat wanita itu tersenyum malu-malu.
"I love you, Ge." Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Giana menunggu tanggapan atau balasan Geva yang tidak kunjung datang. Akhirnya dia mendesah kecewa.
"Aku jalan sekarang."
"Hati-hati, Gi. Jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya." Geva mengantar sampai pintu dan berpesan sebelum lift membawa Giana ke lantai dasar.
Belum. Geva belum mencintai Giana hingga detik ini. Apa yang telah dilakukan wanita itu untuknya sama sekali belum mampu mengetuk hatinya, belum mampu membuatnya jatuh cinta pada wanita itu.
Di dalam hati Geva masih ditempati oleh Berlian. Sahabat yang dia cintai sejak lama. Sahabat yang selama ini dia cari-cari karena mendadak menghilangkan jejaknya entah ke mana.
Geva merindukan Berlian. Merindukan tawa wanita itu dan ketusnya Berlian setiap kali menjawab pertanyaannya jika sedang sibuk.
Tidak menghiraukan pesan dari Giana. Geva tetap minum kopi. Setelah memakan capcay yang dimasak oleh Giana, pria itu menghabiskan waktunya di Starbun. Menikmati kopi sambil mempelajari kasus baru yang akan dihadapinya minggu depan.
"Ge?" Geva mengangkat wajahnya dari layar tablet. Pria yang tengah berdiri di hadapannya pun tersenyum kemudian menarik kursi untuk duduk. "Apa kabar?" Louis mengeluarkan ponsel dari saku dan meletakkannya di atas meja.
"Baik. Kapan sampai di Jakarta?" Geva menyeruput kopinya yang sudah tidak terlalu panas.
"Dua hari lalu." Louis melirik layar tablet Geva kemudian menggelengkan kepala. "Masih bekerja di hari libur? Masih kurang kah untuk biaya lahiran Giana?" Mereka berdua tergelak ringan.
"Kurasa cukup. Aku cuma berusaha profesional dan bertanggung jawab atas pekerjaanku di perusahaan besar sekelas Steels Corp. Mempelajari kasus baru, mempersiapkan diri sebelum perang, nggak ada salahnya bukan?"
Louis mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Aku nggak salah percaya kamu, Ge. Ngomong-ngomong, Harry udah menghubungimu?"
Kerutan di kening Geva bukti nyata dirinya tengah kebingungan. "Menghubungiku untuk apa?"
"Akuisisi."
"Dengan?"
"Tunggu aja kabar dari Harry kalau begitu. Aku nggak diberi wewenang untuk berbagi informasi tentang itu. Ada beberapa hal yang sedang kuurus di London."
"Oh ya! Bagaimana kabarnya Jessie?"
Louis menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang dingin. Dia memperlihatkan cincin nikah yang tersemat di jari tangannya pada Geva. "Aku udah menikahinya."
Terkejut? Tentu saja. Bila Geva seorang wanita, mungkin dia sudah menjerit girang sekarang. "Waw! Aku nggak nyangka bisa sejauh itu jadinya."
"Anak dikandungannya butuh sosok ayah. Dan karena aku terlalu mencintainya, aku akan melakukan apapun untuknya. Termasuk menjadi ayah dari anak Arkan."
"Arkan? Oh, damn!" Geva menghela napas. "Kamu yakin, menikahinya bukan karena kasihan?" Louis menggeleng dengan cepat.
"Kamu tau kalau selama ini aku mencintainya dalam diam, Ge. Mungkin ini cara Tuhan mempersatukan kami."
"Melalui bedebah sialan itu?" geraman ketidaksukaannya untuk menyebut nama Arkan, terlihat jelas dan membuat Louis menatapnya nanar.
"Kamu sendiri, gimana? Kapan menikahi Giana? Atau udah?" Gelengan kepala Geva disertai raut wajah bingungnya segera dipahami oleh Louis. "Jangan menikahinya karena kasihan. Giana berhak mendapat cinta dan kasih sayang yang layak dari seorang pria."
"Benar. Dan pria itu bukan aku. Aku nggak mencintainya. Udah mencoba untuk jatuh cinta pun rasanya sulit."
"Cinta nggak bisa dipaksa, Ge. Cinta akan datang dan tumbuh dengan sendirinya jika memang kita mau membuka diri dan siap menerima kehadiran cinta itu."
"Tapi aku udah terlanjur berjanji untuk tanggung jawab dan membuat Giana menaruh harapan besar," sesal Geva menundukkan kepalanya.
"Bentuk tanggung jawab bisa dengan cara apapun, Ge. Untuk soal harapan besar, wanita emang suka banget menaruh harap pada seseorang, suka membuat kecewa dirinya sendiri."
Tapi Berlian tidak pernah menaruh harap apapun pada Geva. Wanita itu tidak seperti kebanyakan wanita pada umumnya.
"Gimana kabar Berlian?" Pertanyaan Louis berhasil membuat Geva mengangkat wajahnya.
"Udah lama aku nggak dengar kabarnya. Pernah datang ke rumahnya, tapi udah disewa orang lain." Ada nada sedih dalam penuturan Geva. "Nomor ponselnya nggak pernah bisa dihubungi, kayaknya aku diblokir." Sesak. Geva teramat merindukan Berlian.
"Mungkin Berlian udah menikah?" Pertaan Louis sengaja dibuat untuk melihat reaksi Geva yang ternyata berbanding terbalik dari dugaannya.
Geva tergelak dan mengusap wajahnya. "Berlian wanita yang keras. Sekali dia bilang 'enggak' artinya tetap 'enggak' sampai avatar rambutnya gimbal."
Louis tertawa mendengar celotehan asal Geva yang mengingatkannya pada Jessie—wanita kesayangannya yang suka bicara sekenanya.
"Kemungkinan Berlian udah menikah kayaknya nggak sampai sepuluh persen, deh. Kecuali dia beneran udah kepepet desakan ibunya untuk dijodohin."
Louis kembali teringat makan malamnya bersama keluarga Berlian. Kehadirannya malam itu untuk menyelamatkan Berlian dari perjodohan yang tidak diinginkan.
"Kamu nggak cari dia?"
"Cari ke mana? Ke rumah orangtuanya?"
"Mungkin." Louis mengangkat bahunya. "Cinta nggak kenal rasa takut, Ge. Cinta rela melakukan apapun. Berjuang untuk sesuatu yang sia-sia pun nggak jadi masalah selama itu untuk orang yang kita cintai."
"Itu kedengarannya cukup menyedihkan. Apa seperti itu kisahmu sebelum menikah?" Mereka berdua tergelak lagi. "Nanti aku coba cari ke rumah orangtuanya."
Percakapan kedua pria itu berakhir karena Louis harus segera pergi untuk melakukan penerbangan kembali ke London. Geva pun kembali melanjutkan mempelajari kasus baru yang cukup berat untuk dia hadapi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Bilim Kurgu18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
