"Kita nggak boleh begini lagi, Lou." Berlian mengulurkan tangannya saat Louis tengah memakai kembali kemeja dan celana panjangnya. Pria itu membantunya duduk. "Aku merasa berdosa banget sama Jessie. Teman macam apa aku ini?!"
"Aku tau." Selesai memakai kembali pakaiannya, Louis meraih kotak sari buah yang belum dibuka. Merobek bagian pinggirnya, kemudian meminumnya tanpa sedotan. "Aku belum pernah melakukannya dengan Jessie."
"Melakukan apa?"
"Yang kita lakukan tadi."
"Masa sih?" Berlian bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dibiarkannya pintu kamar mandi tetap terbuka agar dia dan Louis dapat tetap mengobrol. "Kok bisa?"
"Tentu bisa. Karena dia nggak mau. Kan, kamu tau ... Jessie nggak mencintaiku, Be," lirih Louis membuat Berlian merasa iba mendengarnya.
"Pantesan aja kamu cari aku."
Maksud hati hanya bercanda, namun heningnya Louis membuat Berlian menyesali perkataannya. Buru-buru dia menyelesaikan urusannya dan segera keluar dari kamar mandi.
Louis sedang menundukkan kepalanya menatap lantai kamar kos Berlian yang belum dipel. "Lantainya cakep banget ya, Lou? Jangan diliatin terus, nanti dia naksir sama kamu, lama-lama nyaman, bisa repot nanti."
Kekehan halus pria itu terdengar seiring mengangkat wajahnya. "Aku ke sini bukan untuk itu sebenarnya, tapi ... liat kamu yang sedang hamil besar begini bikin aku nggak tahan, Be."
"Basi!" Berlian mengibaskan tangan sambil melengos.
Louis tergelak kemudian menumpukkan bantal untuk Berlian bersandar. "Makasih. Jadi, kamu ke sini mau ngapain, sih?"
"Kenapa tanyanya ketus begitu sih, Be? Nggak suka aku datang ke sini?"
"Nggak usah baper. Aku cuma nanya. Dari tadi pertanyaanku di skip terus kayaknya deh."
"Bukannya kamu yang tadi skip pertanyaanku?"
"Lou."
Helaan napas Louis terdengar sangat berat. Pria itu juga sempat diam beberapa saat sebelum akhirnya mulai bicara lagi. "Jessie udah tau."
"Tau apa?" Berlian masih sibuk mencari posisi nyaman untuk duduk.
"Tau kalau kita 'berhubungan' ... kayak tadi."
"Hah? Becanda kan?" Sadar suaranya cukup kencang, Berlian menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.
"Maksudnya gimana, Lou?"
"Aku mau memulai semuanya dengan kejujuran sama Jessie, jadi aku memulainya dengan jujur soal kita. Maaf, Be. Aku nggak mau memulai rumah tangga dengan kebohongan."
Berlian menghela napas pasrah. "Terus, reaksinya Jessie gimana pas tau? Aduh, pasti dia marah banget sama aku, Lou. Astaga! Katanya ini rahasia kita. Pasti Jessie mikir kalau aku wanita perebut suami orang."
"Jessie nggak marah, kok. Justru dia senang karena aku mau jujur. Lagi pula, itu semua kan sebelum aku menikahinya." Seulas senyum tipis tercetak begitu manis. "Dia titip salam buat kamu, Be."
"Tapi, kita baru aja ngelakuinnya lagi, Lou. Apa kamu juga bakalan bilang sama Jessie?"
"Mungkin, kalau dia tanya, aku akan jawab jujur."
"Ya ampun! I'm so sorry, Jess." Sesal Berlian lebih untuk dirinya sendiri.
Dia juga merasa bersalah pada Jessie, walau dia melakukan semuanya pada saat Louis belum menikahi wanita itu dan dia tahu betul kalau wanita itu tidak mencintai Louis.
Tapi ... tetap saja Berlian merasa bersalah pada wanita yang selama ini sangat baik padanya.
"Dan, aku juga udah jujur sama Geva." Kalimat yang diucapkan Louis kali ini membuat jantung Berlian serasa berhenti berdetak, darahnya berhenti mengalir dan tubuhnya mendadak lemas. "Memar ini, ungkapan marah dan kecewanya akan pengakuanku." Louis menunjuk memar di wajahnya. "Maafin aku, Be. Aku cuma mau semuanya jadi lebih sederhana dan baik-baik aja."
Baik-baik saja? Apa semuanya benar-benar bisa baik-baik saja dan sederhana?
Ingin sekali Berlian mencaci maki Louis, bahkan mencabut lidah pria itu lalu memberikannya pada anjing penjaga indekos di bawah.
Tapi yang dia lakukan kini hanyalah diam, termenung membayangkan bagaimana kecewanya Geva ketika mendengar pengakuan dari atasannya yang bercinta dengan sahabat yang dia cintai?
"Geva mau ketemu kamu, Be. Aku udah kasih alamat ini."
'Bajingan!' Satu kata yang Berlian teriakkan dalam hatinya sekarang. Hanya dalam hati. Karena lidahnya terlalu kelu untuk memilih sebuah kata yang berantakan di dalam kepalanya dan mulutnya terlalu malas terbuka untuk sekedar mengumpati pria di hadapannya.
"Dia berhak tau keadaanmu, Be." Berlian memejamkan mata saat tangan Louis mengusap perutnya dengan lembut. "Janin ini ... kemungkinan miliknya juga."
Kehangatan seketika menjalar ke seluruh tubuhnya melalui usapan tangan Louis. Pergerakan di dalam perutnya membuat Berlian dan Louis sama-sama terkejut.
Baru kali ini janin di dalam kandungan Berlian merespon sentuhan. Mungkin karena Louis adalah orang asing yang baru menyentuhnya.
Selama ini janinnya hanya mengenal sentuhan Berlian saja. Ya. Berlian hanya ingin memasukan pikiran itu ke dalam kepalanya.
Dia tidak ingin berpikir bahwa janin di dalam kandungannya merespon karena merasa dekat Louis.
Berlian tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika janinnya adalah milik Louis? Milik pria yang sudah menikah dan sebentar lagi juga akan memiliki seorang anak, walau bukan darah dagingnya.
Berlian tidak siap membayangkan seperti apa hancurnya Jessie melahirkan anak yang bukan berasal dari pria yang dia nikahi dan justru pria yang dia nikahi memiliki anak bersama wanita lain.
Rumit.
Terlalu rumit dan kepala Berlian terlalu penuh untuk memasukkan itu semua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Fiksi Ilmiah18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
