Layaknya seekor kucing yang menunggu pemiliknya kembali dari bekerja.
Berlian duduk manis di sofa. Sore tadi, dia sudah memasak beberapa makanan kesukaan Geva, serta membeli kue tiramisu kesukaan pria itu di salah satu toko kue milik seorang selebgram yang berada di lantai dasar Steels Tower.
Masakannya sudah dingin, karena sudah terlalu lama dibiarkan hingga larut malan. Bahkan mata Berlian pun mulai terasa berat. Dia mengantuk akibat kelelahan setelah memasak untuk makan malam, serta mempersiapkan kejutan kecil untuk sahabatnya malam ini.
Suara 'klik' pada pintu, membuat Berlian segera bersiap. Berdiri tidak jauh dari pintu sambil memegang kue tiramisu yang tidak terlalu besar ukurannya.
"Selamat ulang tahun, Gevariel Gerald ... pria paling menyebalkan dalam hidupku!" Seruan Berlian menyambut kepulangan Geva. Namun pria itu justru melompat karena terkejut. Dia mengelus dada selagi Berlian tertawa terbahak-bahak.
"Astaga! Kamu bikin jantungku nyaris lepas, Be," ujar Geva sambil mengatur napasnya. "Kamu ngapain, ih?" Pria itu tertawa kecil sewaktu melihat Berlian tersenyum lebar dengan kue di tangannya.
"Berenang!" sahut Berlian asal, kemudian mendengkus sebal. "Menurutmu, aku lagi ngapain? Huh?"
"Duh, begitu aja langsung ngegas." Geva mencubit gemas bibir Berlian. "Ini buat aku?"
"Buat Bang Mamat kalau kamu nggak mau." Lagi-lagi Berlian menjawab pertanyaan Geva secara asal.
Spontanitas bicara wanita itu seringkali membuat Geva berpikir, dari mana jiwa melawak wanita itu? Dia terlahir di dalam keluarga yang kaku dan menanggapi segala sesuatunya dengan serius. Membosankan.
Dibalik nada bicara Berlian yang ketus dan sikap judesnya, dia adalah wanita yang baik hati, penuh perhatian dan juga lucu—menggemaskan.
"Makasih, ya, Be." Geva tersenyum girang, lalu mengecup pipi Berlian. "Kok, lilinnya nggak nyala?"
"Aku nggak punya korek api. Cepetan nyalain dan make a wish! Tanganku pegal, nih," gerutu Berlian yang sudah merasakan tangannya mulai kesemutan.
Geva mengeluarkan pemantik dari saku celananya. Menyalakan lilin kemudian dia memejamkan mata selagi mengucapkan harapannya dalam hati. Cukup lama, sehingga membuat Berlian merengek.
"Aduh, lama banget! Kamu minta apa sih emangnya? Harta melimpah? Atau jodoh Angelina Jolie?"
"Semuanya benar. Kamu tau aja." Geva mencengir lebar. "Tapi dari harapan-harapan itu, ada satu harapan lainnya yang lebih penting dan sangat berarti bagiku."
"Aku nggak mau tau. Cepetan, ini terima kuenya." Berlian menyerahkan kue tiramisu itu pada Geva. "Udah kelamaan aku nungguin kamu pulang. Sekarang waktunya makan. Laper banget aku. Lagian ... tumben banget sih, kamu pulang sampai tengah malam begini dan nggak kasih kabar." Kembali lagi Berlian menggerutu sambil menyendok nasi ke atas piringnya.
Geva menggeret kursi, kemudian duduk merapat pada wanita yang sedang menggerutu di hadapan ayam rica-rica dan capcay yang nampaknya sangat enak.
"Kamu mau menghargai usahaku atau mau duduk di situ aja sambil ngeliatin aku sampai kenyang?" Sindiran Berlian tepat sasaran dan membuat Geva terkekeh.
"Iya, iya. Aku makan sekarang."
Pekerjaan membuat Geva pulang terlambat malam ini. Dia juga sempat mampir untuk minum-minum bersama anggota tim-nya menjelang hari ulang tahun.
Pria itu sama sekali tidak berpikir kalau Berlian akan memberikan kejutan untuknya, tepat pada tengah malam seperti ini.
Jujur saja, Geva merasa sangat bersalah melihat mata ngantuk Berlian serta masakannya yang sudah dingin, dan wanita itu kelaparan karena harus menunggunya pulang hingga tengah malam seperti sekarang.
"Aku udah selesai." Berlian meneguk airnya sampai habis. "Cuci piringnya nanti pagi aja deh, aku ngantuk banget. Kamu jangan lupa mandi air hangat sebelum tidur," tutur Berlian sambil bangkit dari kursinya.
Seusai makan. Geva mencuci piring, sendok dan gelas kotor. Dia memasukkan kue tiramisunya ke dalam kulkas. Kemudian berjalan ke dalam kamar, melihat Berlian sudah masuk ke dalam selimut.
Tersenyum sekilas melihat wajah lelah Berlian. Kemudian Geva melepaskan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Pakaian kotornya sudah Geva masukkan ke dalam keranjang cucian kotor. Pria itu menonaktifkan ponselnya yang sedari tadi sangat berisik, banyaknya pesan masuk yang isinya ucapan selamat ulang tahun.
Geva masuk ke dalam selimut. Membelai wajah Berlian dan memberi kecupan singkat di bibir ranum wanita itu.
Dalam hatinya berkata, "aku cuma mau kamu, Be. Nggak mau yang lain. Harapan yang aku buat tadi, semuanya adalah kamu. Harapan agar kamu bisa mencintaiku, harapan untuk bisa selalu bersamamu, harapan untuk dapat memilikimu seutuhnya dan memiliki keluarga kecil bersamamu kelak, Be."
.
.
.
Berlian mengerang pada saat membuka mata dan merasakan adanya tekanan pada perutnya. Tangan Geva. Tangan besar, kekar dan penuh tato, sedang memeluknya secara posesif.
"Hm, mau ke mana?" tanya Geva dengan suara serak bangun tidurnya. Mata pria itu masih terpejam dan lengket. "Di sini aja, Be. Jangan pergi." Dia mengeratkan rengkuhannya, menarik tubuh Berlian lebih dekat hingga punggung wanita menempel pada dada Geva.
"Kamu harus kerja, Ge." Berlian mengingatkan namun Geva menggelengkan kepalanya. Kemudian pria itu membawa bibirnya ke tengkuk Berlian. "Ah!" lenguh wanita itu.
"Aku suka suara lenguhanmu di pagi hari," goda Geva sambil menyunggingkan senyum tipis. "Aku belum dapat hadiah ulang tahun," ucapnya di tengkuk Berlian.
Hangat napas Geva membungkus Berlian, membuat wanita itu kembali melenguh. Sementara tangan Geva kini sedang memanjakan dada Berlian dari luar kaus tipis yang wanita itu kenakan untuk tidur.
"Oh!" Kepala Berlian terdorong ke belakang. "Ayo lah. Kamu harus berangkat kerja hari ini."
"Aku mau di sini aja, seharian peluk kamu. Hari ini hari ulang tahunku. Apa kamu lupa?"
"Kalau aku lupa, aku nggak bakal beliin kamu kue dan nunggu kamu sampai tengah malam, Ge." Berlian meremas bagian ujung kausnya.
"Maaf." Geva membawa tangan Berlian ke bibirnya, mencium bagian dalam telapak tangan wanita itu. "Karena ini haris spesial, aku mau menghabiskan waktu sama kamu."
"Hmm."
"Aku belum dapat hadiah," rengek Geva yang kini mulai menyusupkan tangannya ke balik kaus Berlian. Membuat jerakan memutar pada perut wanita itu dengan jari telunjuknya.
"Kamu mau hadiah apa?"
"Kamu tau apa yang aku mau, Be." Geva meninggalkan kecupan basah di sepanjang tulang selangka Berlian. "Kamu selalu tau apa yang aku mau, Berlian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Bilim Kurgu18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
