Terkejut

56 4 1
                                        

Berlian terbangun di atas ranjangnya dan tubuhnya terasa pegal. Meregangkan otot, dia melebarkan kedua tangannya ke atas dan ke samping.

Tiba-tiba ....

Wanita itu tersadar. Dia berada di dalam kamar tidurnya. Dia berada di rumahnya. Di atas ranjangnya.

Memejamkan mata—berusaha mengingat bagaimana caranya dia bisa berada di sini, tapi gagal.

Berlian hanya ingat tangannya tersiram kopi panas, kemudian dia ditolong oleh Louis, lalu merokok di taman, dan ....

Refleks!
Berlian melompat dari ranjangnya. Kepalanya berdenyut, barang di sekeliling ruangannya berputar, dan dirinya jatuh terguling dari ranjang.

"Berlian. Kamu kenapa?"

Suara itu.

"Kok? Kamu ... uh, k-kita?" Berlian menunjuk dirinya sendiri kemudian menunjuk Louis.

Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Dia membantu Berlian bangkit dari lantai untuk duduk di tepi ranjang.
"Aku udah buatkan sup." Louis memberitahu dan Berlian terkejut mendengarnya. Pria itu sempat memasak, sedangkan dirinya masih berusaha mengingat hal apa yang dilakukannya terakhir kali bersama Louis.

"Sup? Kenapa? Maksudku—"

"Aku udah obatin tanganmu juga. Gimana? Masih sakit?"

Kepala Berlian mengangguk pelan di luar kendalinya. Dia sudah tidak di bawah pengaruh efek 'rokok' pemberian Louis, tapi seolah tubuh dan pikirannya bertentangan dalam merespon.

Louis menyentuh tangan Berlian. Wanita itu diam membeku. Hanya memerhatikan tangan pria itu yang sedang memeriksa balutan perbannya.

"Lou, boleh aku tanya sama kamu?" Louis mengangkat wajahnya. Menatapku sebentar, kemudian mengangguk. "Apa semalam ... kita ...." Berlian memberi jeda untuk mengamati raut wajah dan respon pria itu. Tapi Louis nampak santai. "Kamu pasti paham maksudku."

"Enggak," jawab Louis cepat.

Berlian menghela napas lega. "Syukurlah."

"Bukan itu! Aku nggak paham sama maksudmu." Louis mengusap tangan Berlian yang dibalut perban. "Kamu nggak ingat?"

"Mati! Semalam aku ngapain sama dia? Kita nggak mungkin ina-inu, kan? Aku masih memakai pakaianku yang semalam, kok." Berlian panik sekali.

Di dalam benaknya berjejalan pikiran-pikiran negatif yang berasal dari ketakutannya sendiri.

"Makan dulu, yuk! Mau kubawakan supnya ke sini, atau kamu bisa jalan ke ruang makan?" tanya pria itu dengan sangat baik. Perhatian Louis nampak sangat tulus.

Lama menunggu dan tidak mendapat jawaban, akhirnya Louis beranjak pergi untuk mengambil sup dan secangkir teh hangat yang dibawanya ke dalam kamar. Beralaskan baki kayu, dia meletakkan sup buatannya di atas ranjang.

"Mau aku suapin?" tanya Louis sambil mengangkat mangkuk dan mengarahkan sendok ke depan wajah Berlian.

"Eh? Jangan. Aku bisa sendiri." Wanita itu merebut sendok dan mangkuk dari tangan Louis. "Makasih, ya. Kamu ngapain repot-repot bikin sup?" Berlian meniup sup di sendoknya sebelum membawanya ke dalam mulut.

"Karena aku berutang sama kamu. Semalam aku salah memberimu rokok dan kita ...."

"Kita apa? Kita kenapa? Kita ngapain?"

"Maaf ya, Berlian. Aku kira, kamu emang mau itu. Karena semalam aku udah nolak tapi kamu maksa. Aku, kan, pria normal. Gimana dong?"

Tubuh Berlian menegang. Darah di dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir dan jantungnya berhenti berdetak.

"Aku ina-inu sama bule? Ah! Kenapa nggak dalam keadaan sadar, sih?" sesal Berlian dalam hati.

Wanita itu meletakkan mangkuknya ke atas baki, lalu memindahkannya ke atas nakas.

"Semalam kamu kasih tau alamat rumah ini, setelah itu aku antar kamu ke sini pakai mobilmu dan aku sengaja nunggu sampai kamu bangun, supaya aku bisa jelasin sama kamu." Penuturan Louis membuat tubuh Berlian merasa menggigil.

Berlian berbaring dan menarik selimut sampai menutupi pinggangnya. Dia berbaring miring—meringkuk sembari menatap Louis. Pria itu membalas tatapannya, bahkan jauh lebih dalam.

"Pasti kamu anggap aku murahan," lirih Berlian. Jauh dalam lubuk hatinya, dia menyesal karena melewatkan pengalaman barunya bersama bule semalam.

Berlian tidak pernah berhubungan intim dengan pria manapun selain Geva. Apa yang dikatakannya soal berhubungan dengan pria lain adalah sebuah kebohongan.

Dia bukanlah wanita yang gemar menjajahkan tubuhnya kepada pria sembarangan.
Jika benar semalam dirinya melakukan hubungan intim bersama Louis, maka beban pikirannya bertambah lagi.

"Kamu pakai pengaman, kan?"

Louis tersenyum tipis sekali. Senyumnya tidak akan terlihat jika bukan dari jarak sedekat Berlian sekarang.

"Belum sampai ke sana, kok. Walaupun ego dan hasratku bertentangan semalam, tapi ... kita belum melakukannya, kok. Mungkin juga, enggak akan melakukannya. Kecuali, kamu minta lagi dalam keadaan sadar," papar Louis seolah membangkitkan gairah Berlian.

Wanita itu menendang selimutnya. "Emangnya kamu mau?"

"Emangnya ada yang nolak?" Maksud hati hanya menggoda dan memancing, ternyata Berlian memakan seluruh umpan dan terpancing dengat sangat cepat.

Berlian bagaikan seekor puma yang melompat lincah menerkam mangsanya. Dia bergerak cepat, membuat Louis berbaring di tepi ranjang—sebagian tubuhnya di atas ranjang dan kakinya masih menyentuh lantai. Menduduki perut bawah dari sosok pria di bawahnya. Berlian tersenyum nakal. Senyum yang biasa diagunakan ketika sedang menggoda Geva.

Sepertinya, sisa dari pengaruh rokok semalam masih tersisa. Berlian sangat bernafsu sekali pagi ini. Seolah dia tidak mau membuang-buang waktu dan kesempatan.

Pengalaman baru yang luar biasa. Berlian dibuat 'tak berdaya di bawah kekuasaan Louis pagi ini.

Wanita yang biasanya menjadi pengendali, dan lebih sering mendominasi. Pagi ini tidak dapat berkutik di bawah permainan Louis yang menurut Berlian sangat luar biasa gila, karena baru di sepuluh menit pertama dia sudah dibuat teriak meminta ampun.

Walaupun begitu, Louis melakukannya dengan gentle. Tidak sembarangan ataupun kasar. Perlakuannya terhadap Berlian justru membuat wanita itu terbang ke awang-awang.

"Kamu gila, Lou," desah Berlian yang terengah-engah menyeimbangkan deru napasnya yang tidak beraturan.

Louis tersenyum miring. Merengkuh tubuh Berlian ke dalam dekapannya. "Rahasiakan ini, ya," ucapnya di bibir Berlian.

Berlian dibungkam oleh Louis dengan cara yang berbeda. Dia mengangguk setuju dengan pria itu. Karena, dia juga tidak ingin Jessie sampai tahu. Dia takut diberi label murahan dan semacamnya karena telah berhubungan intim dengan teman dari temannya yang baru kenal selama kurang dari dua puluh empat jam.

"Jangan sampai Jessie tau," ucap Berlian di leher Louis. Pria itu memejamkan matanya dan melenguh pelan.

"Jangan sampai Geva tau juga," imbuh Louis.

Kembali lagi dan lagi, Berlian dibuat terkejut. Bagaimana bisa Berlian baru menyadari kalau Louis adalah atasannya Geva. Sahabatnya itu pernah memberitahu pada saat mereka berada di Joy Street beberapa hari lalu.

Berlian praktis merutuki dirinya sendiri. Dia mengumpati dirinya yang pelupa juga sangat bodoh. Bagaimana b8sa dirinya melakukan itu dengan atasan sahabatnya sendiri? Bagaimana kalau Geva sampai tahu?

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang