Mengenal Rasa Sakit

41 2 0
                                        

Sudah hampir sepuluh menit Geva berdiri di depan pintu unit Giana. Dia tidak dapat menghubungi wanita itu sejak percakapan terakhirnya melalu pesan singkat, kemarin. Karena Giana memblokir nomornya.

Sepertinya Giana sangat marah sekali dan membuat Geva semakin ingin tahu, apa penyebabnya. Karena jujur saja dia sedikit terganggu akan situasi ini sekarang.

"Gi, tolong buka pintunya. Aku mau ngomong sama kamu." Entah sudah berapa kali Geva memohon dari luar.

Beberapa orang yang tinggal di lantai dua puluh tujuh sudah berlalu lalang sejak sepuluh menit lalu dan membuat Geva harus memaksakan senyumnya pada orang-orang itu.

Sepuluh menit berganti menjadi lima belas menit, lalu sampai menit ke dua puluh ... Giana masih juga belum membuka pintunya. Tiba-tiba saja Geva mengingat sesuatu.

Giana keluar kota.

Sungguh bodoh. Geva pun merutuki dirinya sendiri yang melupakan pesan singkat Giana kemarin.

Berjalan lunglai menuju unitnya, sosok Giana melangkah gontai keluar dari dalam lift. Dia tidak membawa tas atau apapun di tangannya, selain sebuah plastik yang berisi nasi mangkuk.

Giana berbohong. Dia tidak keluar kota, melainkan hanya membuat alasan untuk menghindari Geva.

Terkejut.
Giana mempercepat langkahnya melewati Geva dan buru-buru membuka pintu unitnya, tapi langkah panjang Geva berhasil menyusulnya sehingga pada saat pintu unit terbuka, dia segera mendorongnya dan ikut masuk.

"Mau apa kamu?" hardik Giana.

Geva mengunci pintu di belakangnya. Dia memerhatikan sesuatu yang aneh dari wanita di hadapannya. Ada sebuah luka di bawah rahangnya, di dekat bekas luka yang pernah menjadi pertanyaannya beberapa waktu lalu.

"Kenapa ini?" Tangan Geva terulur menyentuh luka yang nampak masih baru. Tapi Giana cepat-cepat menghindar—berjalan ke dapur untuk meletakkan nasi mangkuknya di atas kitchen island. "Gi, ada apa sebenarnya?" tanya Geva dari seberang ruangan.

"Pergi, Ge! Keluar dari unitku!" pekik Giana dari dapur. Geva pun segera menghampirinya.

Wanita itu tengah menundukkan kepalanya dengan posisi kedua tangannya mencengkram tepian kitchen island.

"Gia, tolong bilang sama aku ... kamu sebenarnya ke apa? Marah karena aku mabuk? Aku berkelahi? Atau karena bajingan itu ngomong yang aneh-aneh ke kamu?"

Bajingan yang dimaksud adalah Arkan. Memangnya siapa lagi?

Giana mengangkat wajahnya yang mana sudah dibasahi oleh air mata. Geva mendekat dan segera merengkuh tubuh wanitu itu. Mendekapnya hangat ke dalam pelukannya.

"Lepas!" erang Giana sembari berusaha mendorong dada Geva, tapi percuma saja. Detik selanjutnya dia terisak dalam tangisan yang kedengarannya sangat menyesakkan.

Geva menggiring Giana ke ruang tengah untuk duduk di sofa. Melingkarkan tangan dipinggang wanita di sampingnya, Geva masih belum mau melepaskan. "Gi. Kenapa?"

"Kenapa kamu bohong sama aku, Ge?" Giana menatap Geva dengan sadis. "Kenapa kamu lakuin ini sama aku?"

"Bohong apa? Lakuin apa? Aku nggak ngerti, Gi."

"Kamu nggak akan pernah ngerti, Ge! Karena cuma aku di sini yang cinta sama kamu! Cuma aku di sini yang mengira hubungan kita lebih dari sekedar teman tidur!" cecar Giana sampai kehabisan oksigen.

Dia bernapas melalu mulutnya, karena hidungnya mendadak tersumbat cairan, akibat menangis.

Cinta? Satu kata yang berhasil membuat hati Geva seperti diiris.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang