Berlian ingin sekali untuk marah hingga mengamuk pada Geva atas apa yang sudah dilakukan pria itu padanya. Tapi, tangannya justru terulur untuk membelai rambut Geva—pria yang tengah terlelap di sampingnya, memeluk erat pinggangnya seakan sangat takut kehilangan.
Menggali hingga ke dasar hatinya, Berlian masih belum menemukan jawaban untuk pertanyaan Geva, mengenai perasaannya. Mencoba mencari kebenaran dari ucapan Louis yang menduganya juga mencintai Geva, pun tidak ditemukan.
Perih hati Berlian melihat sosok Geva yang sangat kacau. Dia tidak tahu persis apa yang sudah dialami oleh sahabatnya itu, sehingga melakukan hal buruk padanya. Sejauh ini, Geva adalah sosok pria paling baik yang pernah dia kenal dalam hidupnya. Satu hal yang dapat membuat pria itu mengamuk dan memukul orang adalah jika ada seseorang yang berani menghina Berlian di hadapannya.
"Kamu udah bangun?" Geva membuka matanya dan Berlian segera menarik tangannya. Tapi Geva kembali menarik tangan Berlian, menempatkannya ke atas kepalanya lagi—memintanya untuk membelai seperti tadi. "Aku selalu suka ini." Dia mencetak seulas senyum haru.
"Kenapa masih di sini?" tanya Berlian dengan suaranya yang serak. Tangannya pindah ke wajah—jarinya mengusap lembut di sepanjang rambut halus di sekitar wajah Geva.
"Karena aku mau di sini. Aku nggak akan pergi sampai kamu maafin aku."
Menghela napas kecewa. "Aku maafin. Sekarang kamu bisa pulang," ujar Berlian dengan senyum tipis. Geva menggeleng cepat dan menatapnya nanar.
Selama beberapa menit mereka saling diam dan hanya menatap satu sama lainnya tanpa mengucapkan sepatah kata. Hanya dengan saling menatap, Geva dapat melihat kilatan kecewa yang teramat dalam pada mata Berlian.
"Kesalahanku fatal, Be. Aku bodoh,"sesal pria itu sambil menciumi punggung tanan Berlian. "Balas aku, Be. Sakitin aku."
Berlian menggeleng lemah. "Aku nggak tau apa yang bikin kamu jadi kayak tadi, Ge. Tapi, aku nggak mau membalas kamu dengan cara yang sama—menyakiti. Aku maafin kamu. Aku sayang kamu. Kamu sahabat yang paling baik. Aku kenal kamu, Ge."
"Sahabat yang cinta sama kamu, Be. Sahabat yang udah lama memendam perasaannya."
Berlian menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Ge."
"Be." Ibu jari Geva menekan bibir bawah Berlian. "Aku nggak bisa memendamnya lagi."
"Aku nggak mau membahasnya, Ge. Aku mohon," lirih Berlian dan akhrinya pun Geva mengangguk pasrah.
Dia mengalah selama Berlian mau memaafkannya. Setidaknya, dia sudah berusaha untuk mengungkapkan perasaan yang dipendam selama ini. Walaupun, dia sangat meyakini kalau Berlian juga memiliki perasaan cinta yang sama dengannya, tapi dia tidak dapat memaksa wanita itu untuk mengakuinya.
"Kamu mau makan apa? Sop iga? Nasi kebuli? Atau Ramen?" Geva menawari semua makanan yang Berlian sukai.
"Aku mau kamu pulang, Ge."
Sedih mendengarnya. Tapi Geva justru tersenyum. "Aku tetap di sini, Be." Dia pun bangkit dan turun dari ranjang. "Aku pesenin Sop iga Pak Haji Nurdin, ya, kesukaan kamu." Diraihnya ponsel dari atas nakas.
"Pacarku mau datang, Ge. Kamu sebaiknya pulang."
Mulut Geva terbuka kemudian dia menggeleng untuk mengusir keresahannya. "Bagus. Aku jadi bisa kenal sama pacarmu." Dia memfokuskan pandangannya ke layer ponsel.
"Ge. Aku nggak tau harus pakai bahasa mana supaya kamu ngerti." Berlian mulai lelah meminta Geva pulang. Pelan-pelan dia bergerak. Walaupun rasa nyeri di sekitar pangkal paha dan area intinya masih sangat terasa, dia memaksakan diri untuk turun dari ranjang dan Geva membantunya. "Makasih. Aku bisa sendiri."
"Tapi kamu sakit."
"Aku nggak lumpuh, Geva." Penekanan pada kalimat yang diucapkan Berlian, cukup menunjukkan bahwa dirinya sudah kehabisan sabar akan Geva.
Pria itu pun akhirnya melepaskan tangannya dari lengan Berlian. Mengambil langkah mundur dan kemudian pergi keluar dari kamar.
Ada sesal dan sesak yang Berlian rasakan ketika melihat dirinya dari pantulan cermin kamar mandi. Berlian melepaskan pakaiannya dan membiarkannya jatuh ke lantai—di sekitar kakinya.
Dia mulai menyentuh dirinya sendiri masih sambil menatap lurus ke cermin. Rangkaian ingatan akan sentuhan Geva pun mulai berdatangan. Dia merindukan sentuhan dari pria itu yang selalu lembut dan membuatnya seringkali terbang ke awang-awang.
Awalnya Berlian tersenyum mengingat semua bagian menyenangkan yang pernah dia lalui bersama Geva. Tapi kemudian, senyumnya pudar dan setetes air mata membasahi wajahnya ketika dia mengingat kejadian pagi tadi. Hatinya benar-benar hancur akan sikap dan kejujuran Geva tentang perasaan cinta terhadapnya.
Berlian masih belum bisa menerima. Belum bisa menerima kenyataan, kalau selama ini sahabatnya telah menyimpan rasa cinta yang melebihi rasa cinta seorang sahabat. Selama ini, Geva menginginkannya. Geva mencintainya.
Melangkah ke dalam bilik shower. Tangan kanan Berlian memutar kran dan membiarkan air mengalir di atas kepalanya—membasahi tubuhnya perlahan.
Dia kembali menyentuh dirinya sendiri sambil memejamkan mata. Sentuhannya kali ini membawanya ke suatu tempat yang asing. Tempat yang menggetarkan seluruh tubuhnya hingga dia nyaris kehilangan keseimbangan.
Diraihnya gagang shower dan dia hadapkan bagian aliran airnya ke arah intinya. Satu tangannya yang tersisa menambah kecepatan air yang keluar dari dalam sana.
Tekanan air yang menyemburnya di bawah sana, membuat Berlian kembali memejam dan kali ini dia mengerang—merasakan sensasi nikmat yang berbeda dari biasanya.
Suara erangan Berlian mengundang Geva untuk mengintip dari celah pintu kamar mandi yang terbuka. Dia terkejut melihat apa yang tengah dilakukan Berlian di dalam bilik shower yang tirainya tidak ditutup.
Percikan api mulai menyentuh ujung kakinya, menyebar ke seluruh kulit di tubuhnya dan membakarnya dalam fantasi liar.
Membayangkan Berlian berada di dalam kendalinya, Geva pun tanpa sadar telah bermain dengan kejantanannya sendiri. Celannya sudah turun hingga lutut.
Berlian duduk di lantai kamar mandi, masih dengan shower di tangan kanannya. Dia melebarkan kedua kakinya dan menempatkan benda itu di antara kakinya yang terbuka. Membiarkan tekanan air memberikan sensasi geli dan nikmat yang bersamaan.
Walau masih merasakan nyeri dan perih pada area inti, Berlian menyingkirkan rasa itu dengan membayangkan sentuhan Geva di kulitnya.
Kedua kakinya menegang, kemudian seluruh tubuhnya juga ikut menegang. Geva yang menyaksikannya dari luar dapat menebak kalau wanita itu sebentar lagi akan sampai pada pelepasannya.
Geva belum pernah melihat Berlian melakukan ini sebelumnya. Itulah alasan kenapa dirinya sangat terkejut dan tidak kuat untuk menahan gejolak hasrat yang berhasil membakarnya dalam waktu singkat.
Tidak tahan, Geva akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan membuat Berlian tersadar sekaligus terkejut, tapi dia tidak mengatakan apapun. Bahkan tidak menolak ketika Geva menyentuhnya dengan hati-hati.
"Nggak akan ada yang bisa menyentuhmu kayak gini, Be," ucap Geva di leher Berlian.
Wanita itu mendesah dan terengah-engah sewaktu Geva menuntun kejantanannya yang sudah mengeras dan sangat siap ke dalam intinya. Kelembapan membungkusnya. Penyatuan mereka kembali membawa mereka pada ingatan percintaan yang dulu pernah mereka lakukan bersama pada awal persahabatan.
Geva tidak tahu, kalau sudah ada pria lain yang menyentuh Berlian seperti dirinya. Dia tidak pernah tahu, kalau ada pria lain yang mengisi tempatnya walau hanya sementara.
Berlian tidak dapat membenci Geva. Di dalam kekecewaan yang tengah dia rasakan sekarang,
Berlian merasa bersalah karena sudah membohongi Geva tentang kekasihnya, juga tidak memberitahunya tentang Louis yang telah mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Geva belakangan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Fantascienza18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
