Semalaman Berlian tidak tidur. Dia memaksakan dirinya untuk tetap terjaga sampai pagi walau matanya sangat mengantuk sekali. Dia menelusuri laman pencarian untuk menemukan jawaban dari permasalahannya.
Berlian mencari informasi menggugurkan kandungannya. Mulai dari obat-obatan hingga jalur aborsi di sebuah klinik illegal. Kepalanya benar-benar sakit memikirkan semua ini. Memikirkan kenapa hidupnya menjadi hancur seperti sekarang?
Berlian menutup laptopnya dan merenung. Dia mengingat kembali sikapnya semalam terhadap Louis. Emosinya sedikit tidak terkendali.
Seharusnya dia tidak perlu mengusir Louis dari rumahnya. Tapi karena tingkat kecemasan dan stres yang tinggi, membuatnya bersikap tanpa berpikir dan sekarang dia menyesal.
Berlian :
Lou, aku minta maaf ya ... semalam aku pusing banget. Gimana kabar Jessie? Dia baik-baik aja kan?
Setelah mengirim pesan. Berlian berjalan ke dapur untuk membuat mi instan. Selera makannya benar-benar hilang hari ini. Mungkin juga karena dirinya kurang tidur dan kelelahan berpikir.
Mi instan yang biasanya satu bungkus terasa kurang untuknya, kali ini dia bahkan tidak mampu menghabiskannya.
Berlian termenung di kursi makan. Memangku dagunya dengan kedua tangan.
Berlian menyusun berbagai macam rencana di dalam kepalanya. Diluar dari rencana menggugurkan kandungan, dia juga menyusun rencana untuk meninggalkan rumahnya dan pindah ke tempat lain.
Pikiran liarnya membawa rencana lain, yaitu menerima perjodohan Mutiara untuk mengalihkan masalah ini.
Tidak. Pernikahan bukan jalan keluarnya.
"Kenapa harus tumbuh di perutku? Kenapa kamu menghancurkan hidupku?" gumam Berlian sambil menekan-nekan perutnya dan mulai menangis. "Kalau kamu anak Geva, aku nggak akan mungkin meminta pertanggung jawabannya. Karena Geva akan menikahi Giana. Kalau ternyata kamu anak Louis, aku juga nggak akan bisa meminta pertanggung jawabannya karena Louis mencintai Jessie. Tapi, kalau aku harus membesarkanmu sendirian, gimana caranya? Aku nggak punya pekerjaan untuk menghidupimu. Orangtuaku pasti akan menarik fasilitas kalau sampai tau ada kamu di dalam sini."
Sesal yang tiada guna berkecamuk dalam diri Berlian. Dia benar-benar sendirian sekarang. Dia tidak memiliki tempat untuk mengadu dan menumpahkan air mata kesedihannya.
Mengendarai mobilnya melintasi antar kota. Berlian memasuki kawasan pedesaan yang sepi dan sangat jauh dari jalan utama.
Jalanan tanah merah dan berbatu yang cukup licin karena tadi sempat diguyur hujan, membuat Berlian berhati-hati menyetir agar tidak tergelincir dan masuk ke parit.
Sebuah klinik dengan bangunan sederhana yang nampaknya sudah cukup tua, yang berada di ujung jalanan sepi—di kelilingi perkebunan sawi ... adalah tempat yang dituju oleh Berlian jauh-jauh dari Jakarta.
Dia memarkir mobilnya dan memeriksa ponselnya untuk mencocokan foto bangunan di laman internet dengan bangunan yang ada di hadapannya. Persis. Itu benar Klinik Cemara.
Ada sepasang manusia keluar dari dalam bangunan, berjalan beriringan menuju halaman yang digunakan sebagai lahan parkir.
Sang wanita nampak sangat pucat dan kesakitan sambil memegangi bagian bawah perutnya. Sang pria menuntunnya hati-hati untuk duduk di atas sepeda motor.
"Apa dia sudah gila?" batin Berlian merasa kasihan pada wanita tersebut.
Berlian keluar dari dalam mobilnya. Dua orang wanita yang duduk di kursi teras, melihat ke arahnya. Meneliti penampilan Berlian dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Penampilannya memang terbilang sangat berbanding terbalik dengan dua wanita tersebut yang hanya memakai pakaian santai dan wajah polos tanpa riasan.
"Permisi, maaf saya mau tanya. Di mana saya harus mendaftar ya?" tanya Berlian pada wanita tersebut. Dari kedua wanita yang duduk di kursi teras, tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Keduanya hanya saling melempar tatap dan pada akhirnya memalingkan wajah. "Sombong banget," gumam Berlian dalam hatinya.
Berlian mendekat ke arah pintu, mencoba untuk melihat ke bagian dalam ... berharap dapat menemukan meja informasi atau apapun. 'Klinik Cemara', tulisan yang tercetak di sebuah papan seadanya, menempel pada dinding di dekat pintu masuk.
Ternyata di dalam sana terdapat sebuah meja kecil yang nampaknya adalah sebuah meja pendaftaran atau semacamnya. Tidak ada loket seperti klinik kesehatan pada umumnya.
Mungkin karena klinik ini adalah klinik aborsi? Klinik illegal? Entahlah. Berlian tidak peduli. Tujuannya jauh-jauh datang ke sini hanya untuk membuang janinnya.
"Permisi," sapa Berlian ramah pada seorang wanita yang ... tidak memakai seragam. Tentu saja, dia bukan seorang perawat bukan? "Uhm, saya mau mendaftar." Berlian menggigit pipi bagian dalamnya.
Wanita yang duduk dibalik meja pun mengangkat wajahnya kemudian meneliti Berlian, persis seperti dua orang wanita di depan teras tadi. Kemudian wanita itu tersenyum sembari memberikan selembar kertas dan satu buah pena pada Berlian.
"Silakan dibaca dan kalau sudah, bisa segera tanda tangan di bawah sini." Wanita itu menunjuk bagian kanan bawah dari kertas yang berisi prosedur aborsi.
Di dalam situ tertulis, sebelum melakukan Tindakan aborsi, akan terlebih dahulu dilakukan USG. Lalu tertera rincian biaya untuk USG, obat bius dan obat penghancur janin serta beberapa biaya lainnya.
Setelah membaca keseluruhan prosedur Tindakan aborsi. Berlian pun membuka tutup pena dan mulai menekankan ujung pena ke atas kertas pada kolom tanda tangan.
Namun ....
Tekad Berlian yang semula sangat di bulat, mendadak menciut dan meleleh ketika dia mendengar suara jeritan yang disusul tangisan histeris dari dalam. Pena yang berada di tangannya terlepas, jatuh ke lantai dan bergerak memutar ke bawah meja pendaftaran tadi.
Wanita yang duduk di sana menatap Berlian dengan bingung. Berlian segera bangkit dari kursi dan berjalan cepat menuju pintu. Ketika dia menoleh, dua wanita yang duduk di teras tadi sedang melihat ke arahnya. Tatapan mereka sangat datar, dan membuat Berlian menjadi merinding.
"Apa benar ini klinik aborsi? Atau jangan-jangan ... ini klinik hantu?" ucapnya pelan untuk dirinya sendiri.
Karena merasa sangat tidak nyaman, akhirnya Berlian berlari masuk ke dalam mobilnya. Dia duduk di balik kemudi, dan dua orang wanita di teras masih menatap ke arahnya. Sejak tadi mereka berdua tidak berinteraksi, hanya saling melempar tatapan. Berlian menjadi semakin takut dan akhirnya meninggalkan klinik tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Berlian bertanya pada dirinya sambil mengusap perutnya. "Kenapa kamu membuat segalanya menjadi sangat rumit?" Dia memukuli kemudi dan menangis histeris di dalam mobilnya. "Kenapa kamu menghancurkan hidupku?!" jeritnya sampai tenggorokkannya terasa sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
