Bertemu Wanita Asing Siang Tadi

83 14 0
                                        

Berlian meninggalkan rumah orang tuanya lebih awal dark rencana. Dia sudah terlalu lelah dan muak dengan semua pertanyaan seputar pekerjaan hingga pernikahan.

Di dalam perjalanan pulang, beberapa kali dirinya nyaris menabrak kendaraan lain karena tidak fokus. Banyak sekali beban di dalam pikiran Berlian.

Wanita itu mampir sebentar ke kedai kopi untuk membeli dua gelas frappuccino. Dia butuh kafein, dan dia ingin meminumnya bersama Geva di unit.

Kedai kopi di hari Jumat malam cukup ramai pengunjung, sehingga Berlian harus menunggu sekitar sepuluh menit untuk mendapatkan pesanannya.

Dengan perasaan sedih yang bercampur kesal, Berlian membawa dua gelas frappucino memasuki lift.

"Lantai berapa?" tanya seseorang ketika Berlian tengah kesulitan untuk menekan tombol lift.

"Dua puluh tujuh," jawab Berlian.

"Loh, kamu? Hai! Kita ketemu lagi." Ternyata orang yang bertanya padanya adalah wanita yang ditemuinya sore tadi di restoran masakan sunda.

"Hai! Unit temanmu di lantai dua puluh tujuh?" Berlian mengangguk. "Kebetulan aku juga mau ke unit temanku di lantai dua puluh tujuh juga."

"Wah, pas banget." Berlian mencengir lebar. "Kamu tinggal di lantai berapa?"

"Kebetulan aku tinggal di pentouse, lantai paling atas."

Kedua mata Berlian praktis membulat dengan sempurna. Di dalam benaknya sibuk menghitung biaya hidup di Steels Tower ini. Mulai dari biaya sewa hingga biaya pemeliharaan, dan sebagainya.

"Wow!" Hanya itu kata yang mampu Berlian ucapkan.

"Kita belum kenalan," kata wanita itu ketika pintu lift terbuka di lantai dua puluh tujuh. "Aku Jessie," lanjutnya sambil menahan pintu untukku.

"Terima kasih." Berlian keluar dari lift dan berjalan menyusuri lorong bersama Jessie. "Aku, Berlian. Senang bisa kenal kamu, Jessie."

"Jess aja. Aku juga senang bisa kenal kamu."Berlian mengangguk kemudian berhenti di depan pintu 271. Lagi-lagi Berlian kesulitan untuk mengambil kartu aksesnya yang berada di dalam tas.

"Biar kubantu." Dengan ramahnya Jess membantu Berlian, mengambil alih memegangi kedua gelas frappuccino milik wanita tersebut.

"Terima kasih, Jess." Berlian buru-buru mencari kartu aksesnya. "Temanmu di unit berapa?"

"Ini." Jessie menunjuk pintu 272 menggunakan dagunya. Kemudian dia terkekeh.

"Ya, ampun. Tetanggan sama Geva." Berlian menempelkan kartu aksesnya ke sensor pintu, tapi gagal hingga dua kali. "Kok, nggak bisa, sih?" decaknya kesal karena membuat Jessie menunggu lama untuknya.

Tiba-tiba saja pintu dibuka dari dalam. "Be?" Wajah Geva pucat, seperti baru saja melihat hantu.

Dia melongok keluar dan semakin pucat ketika melihat Jessie. "Hai!" sapanya.

Berlian segera mengambil kembali gelas frappuccino-nya dari Jessie. "Makasih banyak, ya, Jess. Next time kita ngopi bareng."

"Sounds great!" Jessie mengangguk dan tersenyum. Tangan kanannya mengetuk pintu satu kali dan langsung dibuka dari dalam. Ternyata teman yang Jessie maksud adalah pria yang tadi sore di restoran masakan sunda bersamanya.

"Eh, Ge!" Pria itu keluar dari unitnya, begitu pula dengan Geva. Mereka melakukan fist bump.

"Tadi buru-burung banget kayaknya," ujar pria itu.

"Kebelet!" jawab Geva asal.

"Oh, iya! Tadi Giana nanyain lo." Mendengar itu, Berlian langsung menatap Geva dan pria yang ditatapnya mendadak menegang di tempatnya.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang