Kejutan Pagi Hari

85 2 0
                                        

Terbangun di pagi hari. Geva sudah tidak berada di ranjang Berlian. Pria itu meninggalkan sticky note di atas nakas dengan tulisan : 'Selamat pagi, Sleepyhead. Mungkin juga udah siang pas kamu baca ini. Whatever. Aku berangkat kerja, Be. Mau bangunin kamu tapi nggak tega, nyenyak banget bobonya. Kalau butuh atau pengin sesuatu, kabarin aku, ya.'

Ide jail muncul dalam benak Berlian. Dengan sisa tenaga semalam, dia duduk di tepi ranjang. Mengetik pesan untuk Geva.

Berlian :
Ge, aku butuh sesuatu.

Geva :
Apa?

Berlian :
Kamu :)

Berlian tertawa terbahak-bahak ketika Geva meneleponnya dalam suara setengah berbisik.

"Aku lagi meeting, Be."

"Terus kenapa?"

"Stop teasing me like that," desisnya di seberang sana dan Berlian menahan tawa sampai mengeluarkan suara aneh dari hidung.

"I'm not teasing you. I really need you now, Ge." Gaya bicara Berlian dibuat se-serius mungkin, walaupu pada kenyataannya dia sampai sakit perut menahan tawanya.

"Aku lembur, Be."

"Bye, Ge. Selamat bekerja." Berlian mengakhiri panggilan lebih dulu dan setelahnya dia tertawa terbahak-bahak lagi sambil memeluk perutnya sendiri.

Geva memang lemah jika sudah menyangkut soal Berlian. Di kantornya, pria itu menjadi gelisah setelah berakhirnya panggilan dengan Berlian.

Berlian melakukan aktivitasnya seperti biasa. Mulai dari menyiram tanaman, menyapu dan mengepel lantai, sarapan, kemudian mandi dan memulai menulis ketika pikirannya sudah jernih.

Berlian sedikit setuju dengan ibunya, kalau penghasilan dari menulis tidak seberapa. Tapi menulis adalah hobi dan menjadi penulis adalah cita-citanya dari kecil.

Baru mendapatkan lima ratus kata, Berlian menutup laptopnya. Dia berbaring di ranjang. Memikirkan bagaimana hidupnya jika hanya mengandalkan penghasilan dari hobinya saja.

Berlian harus realistis, dia harus sadar kalau sekarang sudah semakin sulit mencari pekerjaan. Seharusnya dia bisa memanfaatkan gelar sarjananya sebagai lulusan Desain Komunikasi Visual terbaik di salah satu Universitas terkenal di Jakarta.

Suara ketukan di pintu, membuat Berlian segera duduk di tepi ranjang. Dia menunggu ketukan selanjutnya, kemudian berjalan ke arah pintu sambil menggosok rambutnya yang masih sedikit basah menggunakan handuk.

"Selamat pagi menjelang siang, Berlian," sapa Louis yang berdiri di teras rumah Berlian sembari memperlihatkan sebuah kantung kertas makanan cepat saji.

Handuk Berlian jatuh ke lantai. Dia terkejut dengan kehadiran Louis yang tiba-tiba.

"B-bukannya kamu ke London sama Niall?" Buru-buru Berlian mengambil handuk yang jatuh di bawah kakinya. Dia membungkus rambutnya yang masih basah menggunakan handuk itu.

Louis menarik bibirnya ke bawahnya ke depan. "Niall bisa kembali ke rumahnya sendiri. Boleh aku masuk?"

"Y-ya. Silakan." Berlian membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Louis masuk.

Ponselnya berbunyi. Notifikasi pesan masuk dari Geva membuatnya lari ke dalam kamar untuk memeriksanya.

Geva :
Aku bisa ke rumahmu sekarang, Be. Meetingnya udah selesai, tapi nanti aku balik lagi ke kantor.

Mata Berlian membulat sempurna membaca isi pesan dari Geva. Pria itu menanggapi serius candaannya tadi.

Mengingat ada Louis di rumahnya dan Geva berniat untuk kembali ke rumahnya juga. Tidak mungkin kan, kalau kedua pria itu bertemu di lokasi yang sama? Pasti akan sangat canggung dan menimbulkan banyak pertanyaan.

Berlian :
Nggak usah, Ge. Kamu kerja aja. Ibuku barusan memintaku pulang, ada urusan.

"Maafin aku, ya, Ge. Maaf kalau aku terpaksa bohong," lirih Berlian pelan, ķemudian mengunci ponselnya dan kembali ke ruang tamu.

Louis duduk di sofa ruang tamu. Menunggu Berlian dengan sabar. Sewaku Berlian kembali, dia tengah sibuk menatap layar ponselnya. Sedangkan wanita yang berdiri di depannya tengah sibuk mengamati dirinya yang belum menyadari akan keberadaan Berlian.

"Eh, maaf. Aku nggak liat," ujar Louis ketika baru menyadari keberadaan Berlian di depannya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian membuka kantung kertas makanan cepat saji yang dibawanya tadi.

"Kok, kamu nggak bilang mau ke sini?" Berlian duduk di samping Louis dengan sedikit jarak.

Louis mengeluarkan seluruh makanan dari dalam kantung kertas, menyajikannya di atas meja. Dia membeli banyak sekali makanan yang rasanya cukup untuk empat hingga lima orang.

"Kebetulan sehabis mengantar Niall ke Bandara tadi, aku lewat sini. Jadi, sekalian mampir. Semoga kamu belum sarapan," paparnya.

"Kebetulan aku belum sarapan," ucap Berlian pelan.
Namun suara menyedihkan yang berasal dari perutnya jauh lebih kencang dari suaranya sendiri.

Pipi Berlian memerah. Dia sangat malu sekali karena tidak seharusnya Louis mendengar suara menyedihkan yang berasal dari perutnya itu.

"Pasti sepulang dari kafe kemarin, kamu nggak makan lagi ya?" Louis memberikan dua buah rice box untuk Berlian. "Kamu mau yang blackpapper atau teriyaki?"

"Iya, aku nggak sempat makan." Bagaimana sempat makan kalau dirinya sudah lebih dulu menjadi santapan Geva semalam. "Teriyaki aja," sambungnya.

Dengan telaten, Louis membukakan rice box milik Berlian. Dia juga menyajikan tambahan lauk chicken katsu dan salad serta burger.

"Makasih, Lou."

"Kembali kasih." Louis tersenyum. "Selamat makan, Be."

Hanya dengan perlakuan sederhana seperti ini saja, benteng Berlian sudah luluh lantah. Louis mampu membuat hati Berlian porak-poranda hanya dengan sikap baiknya yang teramat baik.

Berlian semakin menyukai Louis dan niatnya menjadi semakin mantap untuk merebut hati pria itu—membuatnya jatuh ke dalam pelukan Berlian.

"Be, maaf. Ada sesuatu di bibirmu." Tangan Louis terulur untuk membersihkan sebutir nasi dari ujung bibir Berlian.

Berlian menahan napasnya sewaktu jari panjang pria itu menyentuh bibirnya. Louis mengusap bibir bawah Berlian menggunakan ibu jarinya.

Tangan Berlian yang memegang rice box mendadak gemetar. Perutnya terasa geli sekali, seperti ada kupu-kupu yang bersarang di dalam sana.

Lama. Louis masih mengusap bibir ranum Berlian. Memandangi wanita itu lekat-lekat dengan senyumnya yang membuat hati Berlian berdesir.

Perlahan Louis mengambil rice box dari tangan Berlian. Memindahkannya ke atas meja. Kemudian dia menggeser posisinya sehingga dekat sekali dan nyaris menempel pada tubuh Berlian.

Louis membuka pelan-pelan lilitan handuk yang membungkus rambut Berlian. Pergerakan pria itu membuat Berlian mati-matian menahan keinginan untuk menerjang Louis.

Rambut panjang yang basah sudah terurai. Handuk pun dibiarkan jatuh ke lantai. Louis memainkan jari tangannya di sepanjang tulang selangka Berlian.

Wanita itu melenguh. Menatap Louis sembari menggigit bagian dalam pipinya. Tangannya meremas kaus yang dia pakai—menahan gelombang hasrat yang mulai menerjangnya perlahan.

Tidak tahan lagi. Berlian langsung menempelkan bibirnya ke bibir Louis dan pria itu menyambutnya dengan gembira. Menarik tubuh Berlian agar duduk di atas pangkuannya. Wanita itu bergerak—meliuk-liukkan tubuhnya 'bak penari ular.

"Aku tau, kamu menginginkannya sejak kemarin, Be." Ucapan nakal Louis berhasil membuat Berlian membiarkan dirinya tergulung gelombang hasrat. "Aku tau, menahan keinginan untuk bercinta rasanya nggak enak."

Anda saja Louis tau, kalau Berlian sudah melampiaskannya pada Geva semalam.

"Lou, i want you."

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang