Memanfaatkan Waktu

32 2 0
                                        

Geva keluar dari kamar saat bicara dengan Giana dalam sambungan teleponnya. Tinggallah Berlian sendiri di dalam kamarnya, terkulai lemas, sakit dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Bagaimana jika dia juga mencintai Geva? Apakah pria itu masih akan memanggil Giana dengan panggilan 'sayang'? Apakah dia masih akan tetap bertanggung jawab akan janin yang dikandung oleh Giana? Apakah dia masih tetap akan tinggal bersama Giana?

Semua pertanyaan itu mendesak masuk ke dalam benak Berlian. Tapi entah kenapa, benaknya yang terdesak, tapi dadanya yang terasa sesak.

Berlian kembali muntah dengan cairan yang hanya sedikit. Kali ini dia mengotori celana dan sedikit bagian spreinya. Bergerak perlahan, mencoba untuk berdiri ... tapi Berlian justru terjatuh karena kakinya terlalu lemas untuk menopang tubuhnya.

Dalam posisi duduk di lantai, Berlian mendorong celananya hingga kain itu meluncur dan tersendat di bagian lutut. Kembali berusaha untuk mendorong, tapi kepala Berlian semakin pusing dan berdenyut. Dia menyandarkan punggungnya pada nakas dengan posisi kepala yang sedikit mendongak.

Bagaimana bisa, hanya karena pertanyaan-pertanyaan yang berjejalan di benaknya, Berlian menjadi sesak napas begini?

Dia sedikit kesulitan mencari oksigen untuk dihirup—seperti ada yang menyumbat hidungnya sehingga oksigen yang masuk dan mengisi paru-parunya hanya sedikit. Sama sekali tidak membantu untuk menghilangkan sesak napasnya.

"Astaga!" Geva terkejut bukan main. "Kamu kenapa?"

"Aku ... sesak ... napas, Ge," ucap Berlian dengan napas yang tersengal-sengal.

Geva menarik sprei—membuat beberapa bantal dan guling berjatuhan ke lantai dan dia tidak peduli. Panik! Geva benar-benar panik! Dia membuka jendela kamar Berlian—membiarkan udara masuk, dengan harapan dapat membantu sahabatnya mendapatkan oksigen lebih banyak.

Dia beralih untuk membuka setiap pintu lemari, setiap laci, entah mencari apa. Kemudian dia memunguti bantal dan menumpuknya sedikit tinggi, lalu dia beralih pada Berlian.

Mengangkat tubuh Berlian yang lemas ke atas ranjang, menempatkan kepalanya pada tumpukan bantal yang sudah disusun olehnya.

Membuka laci nakas, Geva menemukan sebuah map. Segera diambil olehnya untuk dijadikan kipas tangan.

"Kamu nggak punya inhealer, oksigen portable atau semacamnya?" Berlian menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Ya ampun, Be!" Geva mempercepat gerakkan tangannya untuk mengipasi Berlian.

Tangan kanan Berlian terangkat sebentar, sebelum jatuh terkulai lemas kembali. "Sedikit lebih baik," ucapnya pelan—suaranya menyerupai bisikan yang nyaris tidak terdengar.

"Kok, bisa tiba-tiba sesak napas gitu, sih, Be? Kamu udah nggak pernah olahraga, ya? Aduh! Kayaknya kamu beneran harus cek ke dokter, deh," racau Geva yang sedang panik.

Berlian mengulas senyum tipis. Dengan sisa tenaga yang ada, tangannya terulur untuk menyentuh pipi Geva. "Udah lama nggak bikin kamu panik," kekehnya dan Geva mendesah kesal.

"Kamu ngerjain aku, ya?" tuduh Geva dengan mata yang memicing tajam.

Berlian menggeleng cepat. "Aku beneran sesak napas tadi, nggak tau kenapa ... tiba-tiba aja," terangnya.

"Kamu berdarah, Be," tunjuk Geva pada celana Berlian yang tergeletak di lantai. Kemudian pria itu melongok ke antara paha Berlian. "Ih, beneran. Kamu datang bulan."

Berlian mengerang. Dia akan sangat malu sekali jika yang melihatnya adalah Louis ataupun pria lain selain sahabatnya. Untuk saja, yang ada bersamanya sekarang adalah Geva. Pria yang sudah biasa melihat darah datang bulannya.

"Yah, tembus ke kasur nggak?" Berlian memiringkan tubuhnya dan sedikit mengangkat bokongnya menyamping.

"Nggak, Be." Geva menelan ludah melihat bokong padat milik Berlian yang selalu menjadi kesukaannya selama bertahun-tahun. "Ayo, aku bantuin jalan ke kamar mandi."

Geva turun dari ranjang dan mengulurkan tangannya. "Atau mau kugendong lagi?"

"Aku bisa sendiri, Ge."

.

.

.

Berlian baru saja selesai menyantap ayam geprek Mpok Ati yang dipesan oleh Geva menggunakan jasa ojek online. Makannya cukup lahap untuk seseorang yang sedang sakit.

"Enak banget, Ge. Kamu tau dari mana ayam penyet ini?" tanya Berlian saat sedang mencuci tangannya.

"Louis. Beberapa hari lalu, dia ngajak aku makan ayam penyet Mpok Ati ini. Katanya, istrinya Pak Harry suka banget makan ini. Setiap pulang ke Jakarta, pasti wajib banget mampir. Dan aku akui emang beneran enak, sih."

"Wah, bule juga suka makan ayam penyet," kekeh Berlian yang sudah kembali duduk di kursi makan. Tiba-tiba saja perutnya terasa nyeri. Kram perut yang biasa dia alami setiap datang bulan sudah mulai bereaksi, mungkin karena pedas dari sambal yang memicunya.

"Kenapa lagi?" tanya curiga mendengar ringisan Berlian.
"Kram perutku. Biasa." Berlian mengibaskan tangan dan Geva mengalihkan pandangannya ke layer ponsel. Beberapa kali pria itu tertangkap sedang tersenyum, bahkan terkikik akan sesuatu.

Rasa ingin tahu yang begitu besar, membuat Berlian mengintip melalui sudut matanya. Ternyata Geva sedang bertukar pesan dengan Giana.

Giana lagi.

"Kamu nggak kerja, Ge?" Geva menggelengkan kepalanya, masih tersenyum menatap layar ponsel, dengan ibu jari yang bergerak cepat menekan tiap huruf pada keyboard di dalam fitur pesan singkatnya. "Giana nggak nyariin kamu? Barangkali motormu udah selesai di bengkel," sambung Berlian lagi.

Akhirnya Geva meletakkan ponselnya di atas meja makan. Dia menoleh dan memicingkan matanya. "Kamu ngusir aku, Be?"

"Enggak."

"Terus, kenapa bilang begitu?" Geva mendecak. Tangannya bergerak cepat untuk merangkul Berlian dan membawa tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. "Kamu udah nggak betah ya, lama-lama ngobrol sama aku? Aku kangen tau sama kamu!" gemas Geva—menggigit bahu Berlian hingga wanita itu menjerit kesakitan.

Berlian juga merindukan Geva. Tapi wanita itu memilih untuk tidak mengatakannya. Tangannya melingkari pinggang Geva dan matanya terpejam. Berlian ingin menikmati waktunya bersama Geva yang belakangan mulai hilang.

Selagi dia dan Geva bisa berpelukan seperti sekarang, rasanya Berlian tidak ingin menyia-nyiakannya. Terlebih jika Geva sudah menikahi Giana nanti, sudah dipastikan mereka tidak lagi dapat berpelukan sperti sekarang.

Jangankan untuk saling memeluk, kemungkinan besar bersentuhan pun tidak. Mungkin juga tidak lagi saling bertatap muka.

Kebanyakan orang akan berubah setelah menikah. Berlian harus mempersiapkan diri untuk benar-benar kehilangan Geva dalam waktu dekat.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang