Louis memaksa Berlian untuk duduk manis selagi dia mengurus administrasi dan pengambilan suplemen yang diresepkan oleh Dokter Anjani. Seperti sebelumnya, Berlian hanya bisa pasrah dan menuruti semua perkataan pria itu.
Dari tempatnya, Berlian membayangkan ... betapa beruntungnya Jessie yang sudah dinikahi pria sebaik Louis. Pria dewasa yang benar-benar menyayanginya, mencintainya, memperlakukannya dengan baik dan sangat perhatian.
Mungkinkah Berlian dapat menemukan sosok pria sebaik Louis untuk menjadi teman hidupnya nanti?
Lagi-lagi digelengkan dengan cepat kepalanya sewaktu pikirannya berkelana tanpa arah. Berlian menghela napas, dia melihat ke sekelilingnya.
Seorang wanita yang sedang hamil besar, tengah duduk memangku seorang anak kecil yang diduga adalah anak pertamanya. Sewaktu sosok pria datang, anak yang dipangku itu berteriak 'ayah' kemudian mereka berpelukan.
"Papa, aku akan bertemu dengan adik hari ini!" jeritnya penuh antusias. Sang ibu mengusap kepalanya dan sang ayah mencium kepala anak itu kemudian perut istrinya dan berakhir pada kening istrinya.
Tanpa sadar, Berlian tersenyum melihatnya. Tangan kanannya bergerak sendiri mengusap perutnya. Nasibnya tidak seberuntung wanita di hadapannya.
Kehadiran calon anaknya ditunggu oleh orang terkasih, dan suaminya memperlakukannya layaknya wanita paling istimewa di hidupnya.
Dia membawakan bunga untuk istrinya, mereka berpelukan sebelum dua orang perawat membawa wanita itu memasuki ruang operasi. Anak sulungnya melambaikan tangan dan berkata, "Aku menunggumu dan adik di sini, Mama!"
"Be!" Berlian terkesiap. Dia mengelus dadanya, karena nyaris saja jantungnya melompat keluar akibat terkejut ketika Louis menyentuh bahunya. "Jangan melamun, Berlian. Obatnya masih menunggu, tapi administrasinya udah selesai, Kok." Louis mengambil tempat di samping Berlian.
Berlian melirik jam di tangannya. "Bukannya kamu harus ke bandara, Lou?"
"Tapi obatmu belum."
"Gampang. Aku bisa menunggunya sendiri, setelah itu aku pulang ke kosan."
"Kamu yakin bisa sendiri?"
"Aku wanita hamil, bukan wanita lansia," kekeh Berlian.
Louis tersenyum lebar. "Aku senang, akhirnya bisa liat kamu ketawa lagi, Be. Makasih, ya, udah mau pertahanin." Tangannya terulur menyentuh perut Berlian. "Kamu yakin baik-baik aja di kosan?"
Berlian mengangguk ragu tapi mulutnya berucap, "Yakin!"
Louis pun menghela napas dan mendecak setelahnya.
"Be."
Senyum Berlian mengembang lebar, sampai hidungnya berkerut dan menjadi sangat menggemaskan. "Makasih banyak, Lou. Aku bakal menjaganya. Tapi, kamu harus janji satu hal."
"Apa?"
"Kalau emang benar ini anakmu, jangan diambil ya. Nanti aku nggak punya teman." Louis merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan Berlian segera memeluknya.
"Makasih udah baik banget sama aku dan mau peduli sama aku."
"Akan aku usahain sering-sering ke Jakarta untuk ketemu kamu. Keep our secret, okay?" Louis menangkup wajah Berlian setelah wanita itu mengangguk. "Jaga diri baik-baik ya, Berlian."
"Titip salamku untuk Jessie. Dan ... selamat berbahagia ya, kalian berdua." Kecupan singkat dan hangat didaratkan oleh Berlian di pipi kiri Louis, membuat pria itu tersenyum girang.
Perpisahan Berlian dengan Louis hari itu cukup membuat hati Berlian sedih. Karena ... satu lagi orang baik dalam hidupnya telah melangkah pergi untuk kembali ke keluarga kecilnya. Sama seperti Geva.
Selagi masih berada di Styles Tower, Berlian tiba-tiba memiliki keinginan untuk berbelanja pakaian hamil. Karena ... kebanyakan pakaian yang dia miliki terbilang cukup seksi dan tidak mungkin dikenakan pada saat dirinya tengah mengandung seperti sekarang.
Untuk pertama kalinya Berlian mendatangi departemen store yang berada di lantai enam sampai lantai sepuluh di gedung ini. Sudah lama sekali dia tidak berbelanja, uang yang diberikan oleh Galih beberapa waktu lalu belum sempat dia gunakan. Louis juga sudah memberikannya banyak uang untuk kebutuhannya sampai melahirkan nanti.
Mengingat hidupnya sebatang kara sekarang, Berlian harus berhat-hati pada saat berbelanja. Dia harus pandai memilah, mana yang penting untuk kebutuhannya mana yang hanya untuk memenuhi hasratnya. Empat buah pakaian hamil dan sepasang sepatu santai telah berada di dalam tas belanja.
Dengan perasaan gembira, Berlian melangkahkan kakinya keluar dari lift. Mood-nya sungguh baik hari ini, semua berkat kebaikan hati Louis.
Berlian memejamkan matanya ketika dia melintasi Starbun dan mencium aroma kopi yang menggodanya. Dia sangat merindukan frappuccino buatan salah salah satu barista terbaik di Starbun. Sudah dua bulan, Berlian tidak pernah lagi meminum kafein.
Berdiri di depan Starbun yang dikelilingi kaca besar. Berlian memerhatikan pengunjung yang sedang menikmati kopinya di dalam sana.
Lintas ingatannya membawanya kembali pada saat pertama kali dia bertemu dengan Niall. Hari di mana, Berlian melarikan diri dari unit Geva karena pertengkaran kecil di antara mereka.
Ah, Geva ....
Sudut mata Berlian menangkap sosok yang baru saja terlintas dalam ingatannya. Sosok pria yang membuatnya merindu setengah mati.
Berlian kesulitan menelan ludah, ketika matanya bertemu dengan sepasang manik cokelat milik Geva yang berkilat. Perlahan, pria itu bangkit dari kursinya seiring dengan senyumnya yang semakin mengembang.
Layaknya pepatah 'pucuk dicinta, ulam pun tiba.' Beberapa menit yang lalu, baru saja Geva bertemu dengan Louis dan membicarakan soal hati, Berlian, Giana dan Jessie. Kini ... sosok Berlian berada tepat di hadapannya.
"Be?" Geva sudah berdiri tepat di hadapan Berlian yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Saat sadar, wanita itu buru-buru menarik kedua bagian cardigannya yang terjuntai di samping. Membawanya bersamaan ke depan—untuk menutupi bagian perutnya. Dia juga sengaja memeluk tas belanjanya, agar Geva tidak melihat perubahan fisiknya.
Tanpa berkata apa-apa lagi. Geva segera menarik tubuh Berlian ke dalam pelukannya. Rengkuhannya begitu erat dan menghangatkan hati Berlian yang telah lama dingin karena merindukannya.
"Aku kangen banget sama kamu, Be," ujar Geva yang kini menghirup aroma rambut Berlian.
Memejamkan mata, menikmati kehangatan yang diberikan oleh Geva. Dalam hati Berlian menjawab, "Aku juga kangen banget sama kamu, Ge. Kangen banget! Aku kangen kita." Tapi semua itu hanya terucap dalam hatinya saja, sedangkan lidah Berlian mendadak kelu.
Cukup lama keduanya berpelukan dan mengabaikan orang-orang yang berlalu-lalang sambil memberi tatapan sinis. Tapi tidak ada tatapan sinis dari beberapa orang asing yang melintas, bahkan mereka terlihat sangat santai dan nyaris tidak peduli.
Wajar. Berpelukan sangat wajar dilakukan oleh orang barat tapi sangat tidak wajar dilakukan oleh penduduk lokal, yang mana justru menimbulkan banyak pertanyaan juga kesalahpahaman hanya karena sebuah pelukan.
Pelukan keduanya melonggar. Saling tatap tanpa mengatakan apapun. Mereka berdua pun tertawa setelahnya. Seolah, hanya dengan saling tatap ... mereka sudah saling mengetahui apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Fantascienza18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
