Mempertanyakan Status

40 2 1
                                        

Kembali ke Steels Tower. Geva melangkahkan kakinya lebar-lebar ketika keluar dari dalam lift. Dia berpapasan dengan Jessie yang baru saja keluar dari pintu lift lainnya.

"Hai, Jess!" sapa Geva ramah.

"Eh, Ge! Baru pulang ngantor?"

"Iya, nih. Mau ketemu Arkan, ya?" tebak pria itu sok akrab. Jessie menganggukkan kepala dengan senyum malu-malu. Mereka berjalan bersama di lorong. "Hati-hati, ya, Jess," ucap Geva sebelum masuk lebih dulu ke dalam unitnya.

Jessie masih berdiri di depan pintu unit Arkan. Dia mencoba mencerna maksud dari perkataan Geva barusan. Hati-hati apa yang dia maksud? Mengibaskan tangan, membuang pikiran negatifnya. Jessie disambut ramah oleh sang kekasih.

Geva menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Dia memejamkan mata sejenak untuk menenangkan pikirannya yang tidak tenang sepanjang perjalanan kembali ke Steels Tower.

Ada dua nama yang berputar di dalam pikirannya. Berlian dan Giana. Nama dua orang wanita yang membuat kepalanya pening 'tak karuan.

Mandi air hangat menjadi pilihan Geva malam ini, untuk melepaskan pening juga lelahnya hari ini. Berharap air hangat dapat membuat tubuhnya rileks.Usai mandi dan berpakaian santai. Geva menyiapkan barang-barang, keperluannya yang akan dibawa ke Surabaya besok siang. Louis sudah mengirimkan jadwal penerebangan ke Surabaya sesaat sebelum dia mandi.

Bersenandung merdu, pria itu mengecek kembali isi kopernya sampai dua kali. Mengangisipasi adanya berkas yang tertinggal.

Suara ketukan pintu membuatnya menghela napas panjang. Sudah dapat dipastikan, itu adalah Giana.

Sebelum membuka pintu, Geva mendengar adanya percakapan di luar unitnya. Geva mengintip dari lubang intip di pintunya. Giana tengah berbincang dengan Jessie dan Arkan.

"Hai!" Geva membuka pintu unitnya. Tiga orang yang berdiri di depan unitnya pun menoleh. "Ar!" Dia melakukan fist bump dengan Arkan.

"Kemana aja, Ge? Baru keliatan," tanya Arkan.

"Berlian sakit. Kemarin gue nginep di sana nemenin dia." Giana menyimak.

"Berlian sakit apa?" Jessie ingin tahu. Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran.

"Biasalah, penyakit bulanan. Dia kalau datang bulan suka sampai pingsan gitu."

"Ya ampun, kasian banget. Rumahnya jauh nggak sih, Ge, dari sini?"

"Lumayan, Jess. Tanya aja sama Louis, dia tau kok rumah Berlian. Tadi pulang kerja kita mampir ke sana sebentar."

Sadar dirinya sudah bicara terlalu banyak. Geva pun beralih pada Giana. "Masuk, Gi?" Dia membuka lebar pintunya dan Giana mengangguk.

"Ge, gue cabut dulu," ujar Arkan yang kembali melakukan fist bump dengan Geva.

"Hati-hati!" Arkan hanya mengangkat satu tangannya kemudian masuk ke dalam lift.Setelah mengunci pintu, Geva disambut oleh pertanyaan dari Giana.

"Kamu nginep di rumah Berlian?" tanya wanita itu dengan satu alis terangkat.

Geva berjalan ke dapurnya, membuka kulkas dan mengambil dua buah kaleng bir. Memberikan satu untuk Giana, kemudian membuka sisanya untuk diri sendiri.

"Emangnya Berlian tinggal sendirian? Orang tuanya nggak di Jakarta atau gimana?" Giana mencecar Geva dengan pertanyaan.

Masih belum menjawab. Geva menyesap minumannya. Dalam benaknya sibuk menerka-nerka maksud dari pertanyaan Giana.

Kenapa Giana sangat ingin tahu?

"Iya dan iya, jawaban untuk pertanyaanmu." Geva menepuk sisi sofa di sampingnya. Giana langsung duduk di sana—merapatkan tubuhnya pada Geva.

"Kamu beneran sepupuan sama Berlian?"

"Kenapa kamu jadi cerewet begini, sih?" Gemas. Geva membungkam Giana dengan bibirnya....

Pagi harinya Geva terbangun dalam kondisi sesak napas dan tanpa busana dengan tubuh Giana berada di atasnya.

"Pantesan aja," desahnya. Hati-hati menyingkirkan Giana dari atas tubuhnya.Wanita itu mendesahkan namanya. "Geva."

"Iya, Gi. Aku di sini. Aku mau pipis."

Giana membuka matanya perlahan kemudian tersenyum. "Selamat pagi, Ge."

"Pagi, Cantik. Aku pipis dulu." Geva beringsut ke tepi, kemudian dia turun dari ranjang dan berjalan gontai ke kamar mandi.

Giana tersenyum mengingat percintaannya semalam bersama Geva. Pipinya menghangat dan bersemu merah.

Setelah sekaleng bir tandas, mereka lanjut minum rum yang mana Geva sangat mabuk sekali, sehingga dia meracau tidak jelas.

Giana beruntung karena dirinya tidak terlalu menyukai rum, jadi dia tetap sadar dan menjadi pendengar yang baik juga pemuas hasrat Geva semalam.

Pada saat sedang mabuk, Geva memuji Giana. Pria itu pun mengatakan kalau dia menyikai dan mulai jatuh cinta pada Giana. Perasaan wanita itu menjadi seperti kembali pada saat masih muda lagi.

"Ah, ya ampun! Seharusnya semalem aku nggak banyak minum," kata Geva yang merangkak ke atas ranjang. Tangannya membuka laci nakas, mengaduk-aduk isinya sampai menemukan sesuatu yang dia cari. Aspirin.

Mendorong obat itu dengan sisa air mineral yang ada di atas nakas. Geva pun kembali berbaring. Menarik tubuh Giana dan memeluknya erat. Dia juga mengecup kening wanita itu sebelum matanya terpejam.

Giana ingin menjerit. Dia ingin melompat girang, karena ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dia akan membuat Geva semakin jatuh untuk mencintainya lebih dalam lagi.

"Jam berapa sekarang, Gi?"

Giana melongok ke arah jam duduk yang berada di atas nakas. "Setengah enam, Ge."

"Boleh aku tidur satu sampai dua jam lagi?" Geva membuka matanya dan menggesekkan hidungnya ke hidung Giana.

"Tentu boleh. Kamu harus ke bandara jam berapa emangnya?"

"Hm, dua belas." Manik cokelat keemasan itu berkedip beberapa kali. "Sebelas, kayaknya. Louis nggak suka orang yang telat. Lebih baik aku yang menunggu daripada dia yang menungguku."

"Aku bangunkan jam sembilan, gimana?"

"Boleh, asalkan kamu nggak memotong waktuku untuk meminta sesuatu." Geva menyeringai.

Giana menyandarkan kepalanya di dada bidang Geva. Meraih tangan pria itu, menyatukan dengan tangannya. Membaliknya kemudian mengecup tato huruf L yang berada di antara ruas ibu jari dengan jark telunjuk Geva.

Geva terkekeh. Dia mengecup kening Giana penuh kasih sayang.Giana mendongak. Manik cokelatnya bertemu dengan manik cokelat keemasan milik Geva yang sayu karena kelelahan dan kurang tidur.

Seulas senyum tercetak begitu manis di bibir Giana. "Ge, sebenarnya kamu menganggapku apa?"

Gawat! Dalam keadaan menuju sadar seperti ini, Geva belum dapat berpikir dengan jernih. Dia pun belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. Bahkan sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya kalau Giana akan bertanya seperti itu. Mempertanyakan status.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang