Seperti Bunga Daisy

37 2 0
                                        

Berlian terbangun di pagi hari karena aroma parfum maskulin menerjang masuk indera penciumannya. Kali ini dengan cara yang sedikit tidak sopan, berbeda dengan kemarin.

Sepertinya, Geva baru saja mandi menggunakan sebotol parfum sehingga kamarnya benar-benar harum dan membuat Berlian menjadi mual.

"Selamat pagi, Berlian!" sapa Geva dengan senyum cerah.

Pria itu berputar di samping ranjang layaknya seorang penari ballet. Berlian menggelengkan kepalanya sembari pelan-pelan beringsut untuk duduk.

"Sarapan?" Geva mengunjuk ke arah nakas yang sudah tersedia sepiring pancake dengan butter dan segelas susu.

"Cerah banget kamu pagi-pagi."

"Seperti bunga daisy yang baru mekar." Geva membusungkan dadanya dengan bangga.

"Aneh." Berlian berjalan ke kamar mandi, Geva melongok dari pintu saat wanita itu sudah duduk di atas kloset. Buru-buru Berlian merapatkan kedua kakinya. "Astaga! Kamu ngapain, sih?"

"Memastikan kamu baik-baik aja."

"Aku cuma pipis. Pergi sana!" usir Berlian dan Geva segera menghilang begitu saja. "Aneh banget, sih," gerutu Berlian.

"Aku mendengarmu, Berlian!" seru Geva dari depan pintu kamar.

Pria yang merasa dirinya seperti bunga daisy itu sekarang sedang bersenandung, sambil membereskan kekacauan di dapurnya setelah membuat pamcake untuk sarapan.

Dia mencuci wajan hingga mangkuk-mangkuk bekas adonan. Menyingkirkan sisa tepung dari atas meja dapurnya dan memasukkan celemeknya ke dalam mesin cuci.

"Kamu kenapa, sih?" tanya Berlian yang sedang berjalan ke arah meja makan sambil membawa piring pancake di tangan kanan dan gelas susu di tangan kiri.

"Ya ampun! Kenapa dibawa keluar, sih?" Geva berlari dan segera mengambil piring serta gelas dari tangan Berlian.

Menyajikan hasil karyanya itu di atas meja makan. "Kamu nggak boleh banyak gerak dan bawa-bawa barang berat."
"Sejak kapan sepiring pancake dan segelas susu itu berat, Geva?"

"Sejak hari ini." Geva menarik kursi untuk Berlian. Wanita itu berterima kasih namun kemudian menghela napas sedikit kasar. "Jangan menghela napas begitu. Coba kucium dulu, apa kamu udah gosok gigi?" tanyanya di samping wajah Berlian.

"Udah."

"Bagus." Geva menekankan bibirnya ke bibir Berlian, menciumnya dengan perasaan yang bahagia.

Kemudian pria itu duduk di samping Berlian, menunggu wanitanya mulai menyantap hidangan yang telah dia buat pagi-pagi tadi.

"Kamu kenapa begitu, sih, ngeliatinnya?" Melirik ke samping, Berlian merasa sahabatnya itu benar-benar sangat aneh.

Geva kini menopang dagunya dengan punggung tangan di atas meja makan, memandangi Berlian dengan senyum lebar, yang bahkan terlalu lebar untuk seorang Gevariel Gerald di pagi hari.

"Nggak kenapa-kenapa." Masih menopang dagunya dan masih dengan senyum yang secerah langit di siang hari. "Ayo makan, Be."

Berlian mulai memotong pancake dan membawanya ke mulut. Pada saat dia mulai mengunyah, ekspresi Geva berubah. Dia menjadi sedikit cemas. "Kenapa lagi?" tanya Berlian curiga.

"Gimana rasanya?"

"Rasa pancake."

Geva mendecak sebal, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan ... dia menekuk wajahnya. Senyumnya yang cerah, seketika luntur dan menghilang begitu saja—dengan cepatnya.

"Kenapa, sih? Kamu nanya gimana rasanya, ya ... rasa pancake, Geva. Apa yang salah?"

"Nggak ada yang salah, Be. Cuma ... kamu bisa puji sedikit pancake buatanku."

"Kamu buat sendiri? Ya ampun. Aku kira beli di starbun. Rasanya enak banget, Geva. Enaaaak banget."

"Palsu." Geva bangkit dan berjalan ke dapur. Kembali membersihkan sisa kekacauan. Sedangkan Berlian tertawa geli sekali di kursinya. "Habiskan susunya." Geva mengingatkan dengan suara lantang.

"Iya. Bawel banget," keluh Berlian sambil kembali memasukkan potongan pancake ke dalam mulutnya.

Walau rasanya sedikit asin, tapi Berlian tidak mau mengatakannya. Setidaknya untuk pagi ini.

"Hey! Jangan mengeluh aku bawel banget," protes Geva.

"Kamu emang bawel, Ge. Ngomong-ngomong, boleh nggak kalau aku ajak Niko ke sini?"

"Hell freaking no!" serunya sambil melemparkan serbet ke atas meja dapur. Kemudian berjalan menghampiri Berlian.

Sedikit membungkuk, Geva bertumpu pada meja makan, menoleh pada Berlian sehingga wajahnya sangat dekat sekali dengan wanita itu.

"Kenapa? Niko temanku. Dia baik. Dia yang selama ini temani aku di kos dan—"

"Aku nggak suka Niko berada di sekitar kita, Be. Aku nggak suka sama dia. Dan aku nggak suka karena kamu bohong tentangnya." Mendesah kecewa. Geva duduk di samping Berlian. "Mau sebaik apapun, dia tetap seorang pria, Be. Aku nggak mau ada pria lain yang bikin kamu ketawa, bikin kamu senang dan nyaman selain aku."

"Posesif."

"Emang."

"Masa, aku nggak boleh punya teman sih, Ge?"

"Kamu punya aku, Be. Apa masih kurang?"

"Aku pulang akhir pekan ini, ya. Orang yang menyewa rumahku udah abis kontraknya hari ini dan dia minta perpanjangan waktu sampai akhir pekan untuk beres-beres pindahan. Jadi, nanti aku perlu membereskan sedikit sebelum balik tinggal di sana."

"Enggak." Tegas, singkat dan penuh penekanan. Geva bahkan menatap Berlian dengan tajam kali ini. "Aku nggak membiarkanmu tinggal sendirian, Be."

Berlian meletakkan pisau dan garpunya hingga menimbulkan suara dentingan yang cukup kencang. Dia meneguk sedikit susunya sebelum meledak pada Geva.

"Harus aku bilang berapa kali, kalau aku nggak suka diatur dan diberi perinta, Geva?"

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang