Geva masih belum dapat mencerna dengan baik, kejadian yang sedang dia hadapi saat ini.
Tubuh Berlian tiba-tiba melemas, tangisnya pun perlahan menghilang. Tangan wanita itu jatuh terkulai lemas—lepas dari bayi mungil yang berada dalam dekapannya.
Jika saja Geva tidak bergerak cepat, kemungkinan besar bayi mungil itu sudah jatuh akibat terlepas dari Berlian yang mendadak tidak sadarkan diri.
Seorang perawat dengan rambut pendek segera mengambil bayi itu dari Berlian.
Beberapa perawat lainnya serta Dokter Ezra kembali sibuk. Mereka semua bergerak dengan sangat cepat sekali. Terlalu cepat dalam penglihatan Geva saat ini.
Perawat tadi yang mengajak Geva masuk ke dalam ruang operasi, kini memintanya untuk ke luar.
Geva seperti orang bodoh yang tidak dapat melakukan apapun selagi para petugas medis sibuk bergerak ke segala arah dan berakhir mengelilingi tubuh wanita kesayangannya yang terkulai, lemah, 'tak berdaya.
"Mohon maaf, Pak. Sebaiknya kembali tunggu di luar." Pada saat perawat itu bicara, Geva masih menatap lurus ke tempat di mana Berlian berbaring. Dia masih dapat melihat sekilas wajah pucat wanita itu dalam keadaan mata terpejam.
"Silakan lepas pakaian medisnya, lalu letakkan saja di sini, Pak," ujar perawat itu lagi setelah membawa Geva ke luar dari ruangan yang di lapisi kaca sekelilingnya.
"Apa yang terjadi?" Kalimat pertanyaan itu terucap begitu saja secara spontan. "Berlian ... Berlian kenapa?"
"Silakan tunggu di luar, ya, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Ibu Berlian." Pintu ruangan di tutup.
Lampu di atas pintu kembali menyala, tanda bahwa ada sebuah tindakan yang dilakukan di dalam sana.
Jatuh duduk di atas kursi yang dingin. Rasanya seperti seluruh tulang pria itu terlepas dari tempat seharusnya. Geva sangat lemas. Bibirnya mengatup rapat seolah bicara adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dia lakukan sekarang.
"Bayi itu ... Berlian ... mereka baik-baik aja. Mereka pasti
baik-baik aja," batin Geva bicara kepada dirinya sendiri.
Derap langkah kaki orang-orang yang melintasi ruang tunggu, sama sekali tidak membuat Geva berhenti menatap lampu di atas pintu ruang operasi.
Dalam hatinya, dia merapalkan segala bentuk doa untuk wanitanya yang masih berada di dalam sana.
Geva meraba telapak tangan sebelah kanannya dengan tangan kiri. Tangan itu yang menyentuh bayi mungil tadi. Bayi yang tidak bersuara dan membiru tanpa pergerakan. Bahkan Geva belum sempat melihat wajahnya.
Apakah bayi itu darah dagingnya? Atau justru darah daging Louis?
Menggelengkan kepalanya sampai pusing. Geva mengusir jauh-jauh pikiran itu untuk saat ini. Dia kembali fokus untuk mendoakan Berlian dari tempatnya.
Sampai sebuah panggilan masuk membuatnya menyudahi menatap lampu itu dan beralih menatap layar ponselnya yang menunjukkan nama Giana.
Tuhan! Geva benar-benar lupa pada wanita itu.
"Ha-halo, Gi?"
"Astaga! Kamu di mana?"
"A-aku ... aku baru sampai Steels Care, Gi. Maaf."
"Aku udah melahirkan, Geva. Anakmu udah lahir. Apa kamu nggak mau melihatnya?"
"Mau. Tentu aku mau, Giana. Kenapa kamu tanya begitu?"
"Karena kamu nggak ada di saat aku butuh kamu!" Sambungan telepon diakhiri secara sepihak oleh Giana dan Geva menghela napas.
Bimbang.
Pria itu enggan meninggalkan kursinya, tapi ... dia sudah terlanjur mengatakan pada Giana bahwa dirinya baru sampai di Steels Care, yang mana artinya dia harus segera menemui Giana dan buah hatinya.
Tapi, bagaimana dengan Berlian?
Beberapa faktor yang membuat Berlian tidak sadarkan diri, di antaranya ; kehilangan banyak darah saat melahirkan, hingga 1,5 liter banyaknya. Anemia yang di alami oleh Berlian juga salah termasuk faktor lainnya.
Setelah memastikan Berlian baik-baik saja dan sudah dibawa ke ruang perawatan, Geva akhirnya bisa bernapas lega.
Dokter Ezra mengatakan, bahwa miom di perut Berlian sudah diangkat, namun sayang bayinya tidak dapat diselamatkan. Kemudian saat ini Berlian masih di bawah pengaruh obat bius.
.
.
.
"Hai." Geva melangkah masuk ke dalam ruangan.
Giana tengah menggendong bayinya dalam posisi setengah duduk di atas tempat tidur. Pria itu mencuri waktu untuk melihat kondisi Giana.
Tidak menjawab. Bahkan dengan sengaja mengacuhkan. Giana tidak memedulikan Geva yang kini sudah duduk di tepi tempat tidurnya dengan wajah yang pucat pasi. "Jadi, apa jenis kelaminnya, Gi?"
"Laki-laki." Geva tersenyum senang yang bercampur dengan bangga, mengetahui buah hatinya berjenis kelamin laki-laki.
Namun senyumnya memudar pada saat tangannya yang terulur untuk menyentuh buah hatinya segera ditepis oleh Giana. "Gia. Kenapa?"
Giana mendecih. "Kenapa? Kamu tanya kenapa? Apakah otakmu berceceran dalam perjalanan ke sini?"
"Wow! Rude." Geva mengernyit tidak percaya. Dia mengakui kelalaiannya yang melupakan Giana dan tidak berada di samping wanitanya pada saat sedang melahirkan buah hati yang selama ini mereka tunggu.
Tapi, apa yang diucapkan Giana barusan sedikit mengganggu Geva.
"Kamu belum cuci tangan. Jangan sentuh anakku."
"Anakmu? Anak kita, Giana." Geva bangkit dengan kecewa.
Dia berjalan ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan serta membasuh wajahnya. Mencoba meredam emosinya, Geva tidak ingin berdebat dengan siapapun saat ini.
"Udah. Sekarang aku boleh sentuh anakku?" tanya Geva yang sudah kembali ke ruagan dan menekankan kata 'anakku' hingga membuat Giana kembali mendecih.
Sungguh, Geva ingin sekali membentak Giana yang bersikap seperti itu. Tapi dia berusaha menahan untuk tidak terbawa emosi. Dia tidak ingin memberi kesan pertama yang buruk untuk buah hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Fiksi Ilmiah18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
