Sudah hampir satu jam Berlian duduk di depan laptopnya, menatap lembar microsoft word yang masih polos. Tidak ada satu katapun yang mampu ditulis olehnya. Di dalam kepala wanita itu penuh dengan kekhawatiran. Di lain sisi, rasa nyeri perutnya itu menyerang lagi, seperti kemarin.
Menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan, Berlian mencoba untuk tetap rileks. Tapi, gagal. Dia terlalu lemah untuk menahan rasa sakit secara fisik. Jangankan merasakan sakit seperti sekarang, sakit akibat tersandung kaki sendiri pun dia akan merengek seharian dan mengutuk dirinya sendiri atas keteledorannya.
Tatapan Berlian beralih pada ponselnya yang sejak kemarin belum sempat dia buka. Dia terlalu sibuk mengurusi kesakitannya yang menyiksa.
Memeriksa laman surel, dia mendapatkan peringatan dari editor dari salah satu platform menulis. Sang editor mengingatkan Berlian untuk segera mengirim naskah lanjutannya paling lambat malam ini. Jika lewat, maka dia tidak akan mendapat bayaran bulan ini.
Menghela napas kecewa pada diri sendiri, Berlian beralih membuka laman media sosialnya. Tidak ada yang menarik baginya untuk dilihat. Media sosial kini sudah dipenuhi dengan konten yang tidak bermanfaat dan hanya mencari sensasi saja.
Terlintas pikiran bodoh. "Bagaimana kalau aku menjadi seorang vlogger? Aku bisa merias wajah. Atau membuat konten yang mudah viral." Tapi kemudian Berlian tertawa sembari menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran bodoh itu jauh-jauh.
Notifikasi pesan masuk, muncul di bagian atas layar ponselnya. Dari sana, terlihat beberapa pesan masuk lainnya yang belum dibaca olehnya.
Geva :Be, gimana keadaan kamu? Kalau masih sakit, atau tiba-tiba sakit lagi kayak kemarin, langsung hubungi aku, ya.
Tercetak seulas senyum sewaktu Berlian membaca pesan singkat dari Geva yang mengkhawatirkan dirinya. Berlian pikir, setelah pria itu dekat dengan Giana, dia akan dilupakan begitu saja. Tapi ternyata, Geva masih tetap sama. Dia masih Geva sahabatnya yang baik, perhatian dan gila seks.
Berlian :Sakit, sih. Tapi sedikit. Nanti aku coba minum lagi obatnya.
Geva :
Aku masih menunggu Pak Louis, kalau urusan di Bogor udah selesai, kami langsung balik. Kamu mau oleh-oleh apa dari sini?
Berlian :
Oleh-oleh? Haha. Ada-ada aja kamu, Ge. Nggak usah lah, Bogor dan Jakarta dekat. Makanannya sama aja.
Geva :
Barangkali kamu mau dibawakan pria Bogor. Aa kasep.
Berlian tertawa terpingkal-pingkal. Dia sampai menangis saking kerasnya tertawa. Ingin sekali dia menjawab.
"Maunya dibawakan Louis aja." Tapi apalah daya, dia tidak mungkin mengatakan itu pada Geva.
Berlian :
Jangan gila. Hati-hati, Ge. Semoga semua urusannya lancar dan bisa cepat pulang. Aku kangen!
Geva :
Aku juga kangen. Kangen ina-inu hahaha.
Berlian :
Sinting!
Memaksakan diri untuk mencoba kembali menulis. Berlian memejamkan matanya. Mencoba mencari cahaya di tengah kegelapan yang dia ciptakan sendiri. Tidak ada setitik cahaya di sana, tidak ada apapun di tengah kegelapan itu.
Berlian mendesah pasrah. Dia menutup laptopnya dan pindah duduk di tepi ranjang untuk meminum obat pereda rasa nyeri yang diberikan oleh dokter kemarin.
Setelah meminum obat. Berlian berbaring di ranjangnya. Kembali memeriksa ponselnya dan dia baru menyadari ada pesan masuk dari Louis yang tertiban di bawah pesan ibunya yang membahas perjodohan, seperti biasa.
Membuka pesan dari Louis. Ternyata pria itu mengiriminya sebuah pesan suara.
"Lama nggak mendengar kabarmu. How are you, Love?"
Berlian menjerit! Dia tidak peduli jika suaranya didengar oleh tetangganya yang gemar bergosip. Dia sangat senang sekali mendengar suara Louis yang menyebutnya 'Love'. Entah kenapa, perutnya terasa sangat geli.
Bukan hal yang aneh bagi orang asing dalam menyebut kata 'love' pada lawan bicaranya. Terlebih orang Inggris yang sangat sopan sekali dalam berkomunikasi dengan lawan jenis maupun sesama jenis.
Mungkin bagi orang Inggris, apa yang dikatakan Louis adalah hal biasa. Tapi bagi Berlian—orang asli Indonesia. Dia merasa sangat tersanjung dan tersipu. Dia membayangkan, seperti apa bahagianya jika dapat hidup bersama pria seperti Louis.
Berlian :
Nggak terlalu baik, tapi juga nggak terlalu buruk. Apa kabarmu, Louis?
Berlian membalas pesan suara dengan pesan singkat. Tidak perlu menunggu lama, nama Louis muncul di layar ponselnya. Berlian panik. Dia menjadi kebingungan sendiri, berjalan mondar-mandir di kamarnya sampai panggilan masuk dari Louis berakhir.
Ponselnya berdering lagi, Louis kembali menghubunginya. Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, akhirnya Berlian menerima panggilan itu.
"Hai!" sapa Louis dari seberang sana dengan aksen uniknya.
"H-hai." Berlian merutuki kegugupannya. "Ada apa?" Mencoba untuk tetap terlihat tenang, padahal Berlian sedang menggigit ujung kausnya untuk menahan rasa gugup.
"Aku nggak boleh meneleponmu?" Suara Louis terdengar seperti berbisik. Kemudian terdengar di belakangnya ada suara seseorang menginterupsi. Berlian sangat mengenal suara itu. Geva.
Ya, itu adalah suara Geva. "Ya, tunggu sebentar, Ge." Louis bicara dengan pria itu. Benar tebakan Berlian.
"B-boleh, kok."
"Kalau mampir ke rumahmu, boleh?"
Mati!
Berlian membekap mulutnya dengan bantal. Dia menjaga mulutnya agar tidak memekik. Belum sempat menjawab, Louis sudah memotong. "Kalau boleh, nanti kubawakan makan malam. Kalau enggak boleh pun nggak apa-apa.
Kabari aku, ya, Love." Kemudian panggilan diakhiri secara sepihak.
Benda pipih berwarna hitam itu pun meluncur dari genggaman Berlian yang melonggar. Ponselnya jatuh ke atas pangkuannya terlebih dahulu sebelum mendarat di lantai dengan posisi layarnya yang lebih dulu mencium lantai.
"Astaga!" Berlian meraih ponselnya dan betapa paniknya dia ketika benda pipih itu tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. "Ponsel tua!" omelnya pada benda yang tidak bernyawa itu. Berulang kali dia menekan tombol power pada ponselnya, tetap saja ponsel itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Bagaimana kalau Louis datang dan bertemu dengan Geva? Bagaimana kalau Geva mengetahui selama ini atasannya ada hubungan tersembunyi dengan Berlian? Berlian tidak ingin kehilangan sahabat yang sangat dia sayangi sekaligus pria yang dia sukai.
Membuka kembali laptopnya. Untung saja, di dalam laptopnya sudah mengunduh aplikasi pesan singkat yang tersambung dengan ponselnya. Yang pertama dia lakukan adalah mengirim pesan kepada Louis.
Berlian :
Maaf, bukannya nggak boleh. Tapi aku mau ke rumah ibuku. Next time?
Louis :
Baiklah. Aku tunggu kapan diperbolehkan untuk mampir.
Menutup laptopnya kembali tanpa membalas lagi pesan dari Louis. Berlian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia menghela napas lega namun gemuruh di dadanya masih tertinggal. Walau sudah beberapa kali berhubungan dengan Louis, anehnya masih saja dia seperti ini.
Berlian kembali memeriksa ponselnya, berharap benda pipih itu sudah memiliki tanda-tanda kehidupan. Namun sayangnya nihil. Nahas sekali, Berlian harus rela kehilangan ponsel yang sudah menemaninya selama menahun.
Merenungi nasib, mengingat-ingat sisa saldo dalam rekeningnya yang cukup menyedihkan. Ditambah kalau ponselnya benar-benar wafat dan tidak dapat diperbaiki.
"Apakah ini karma karena menentang ibu?" lirihnya dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
