Kemarahan Geva

43 2 0
                                        

Dulu sekali, saat pertama kali Geva merasakan adanya perasaan cinta terhadap Berlian ... pria itu sama sekali tidak mengharapkan balasan. Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya agar Berlian juga memiliki perasaan yang sama sepertinya.

Tapi, lambat laun cintanya semakin besar dan begitu dalam, sehingga rasa ingin memiliki Berlian pun semakin besar. Ditambah lagi dengan fakta hidupnya kini yang menempatkannya dalam posisi serba salah.

Melampiaskan rasa kesal pada diri sendiri dengan mabuk-mabukan adalah sebuah kesalahan. Geva sadar akan hal itu. Tapi dia sengaja melakukannya, dengan harapan dapat membuat Berlian pergi dari benaknya, sebentar saja.

Namun, pada kenyataannya ... kedatangannya ke kelab malam hanya menjadi masalah. Masalah karena dia berkelahi dengan Arkan yang sengaja diajaknya malam itu.

Masih terngiang-ngiang di dalam ingatan Geva, tentang apa yang diucapkan oleh Arkan mengenai Berlian. Hatinya kembali kesal. Rasa ingin menghancurkan wajah Arkan pun kembali terlintas dalam benaknya.

"Apa yang membuat kalian berkelahi begitu? Bukannya kalian teman baik?" Louis memecahkan lamunan Geva yang tengah membayangkan dirinya sedang menghajar pria itu habis-habisan.

"Berlian."

Mendengar nama Berlian disebut, Louis pun menoleh dengan kerutan di keningnya. "Kenapa sama Berlian?"

"Arkan menyebut Berlian, wanita murahan." Geva menghela napas kasar. "Dia juga bilang, pernah liat Berlian sama pria lain, yang berbeda-beda."

"Berlian begitu?" tanya Louis tidak percaya. Lebih tepatnya dia khawatir kalau Arkan pernah melihatnya bersama Berlian.

Geva menggelengkan kepala, tapi Louis tidak melihatnya. Dia melihat ke arah jalanan Ibukota yang sepi dan tenang. "Enggak. Aku udah kenal Berlian bertahun-tahun. Aku tau seperti apa seleranya. Berlian nggak suka main-main sama sembarangan orang. Tipe pria idamannya tuh sebenernya kayak kamu."

"Aku?" Louis menunjuk dirinya sendiri.

"Iya. Bule gitu." Louis tergelak mendengar jawaban Geva.

"Jangan ketawa! Emang faktanya begitu, kok. Makanya—" Geva menggantungkan kalimatnya. Dia memilih untuk meneguk sisa air mineralnya.

"Makanya kenapa?" Louis menjadi penasaran. Dalam hatinya dia berdoa, semoga Geva tidak mengetahui ataupun mencurigai hubungannya dengan Berlian.

"Makanya Berlian nggak cinta sama aku," lirih Geva.

"Tau dari mana?"

"Dia yang bilang sendiri sama aku." Geva menarik tuas di samping kursinya, yang membuat sandarannya sedikit turun ke belakang. "Padahal, kalau Berlian cinta juga sama aku ... aku mau nikahin dia."

"Ya, nikahin aja."

"Nggak semudah itu. Pernikahan tanpa cinta, mau jadi apa?"

Terdiam cukup lama, Louis tenggelam dalam pikirannya yang membayangkan seperti apa jadinya jika dia dapat menikahi Jessie suatu hari nanti. Mungkinkah ada harapan, wanita itu akan luluh dan membalas perasaanya?

"Giana hamil," ujar Geva, membuat Louis menoleh cepat.

"Biasa aja, nggak usah sok kaget," kekehnya dan Louis ikut terkekeh.

"Terus, gimana?"

"Aku janji mau tanggung jawab, walau sebenarnya dia nggak minta itu. Tapi ... mana tega?"

"Jadi, karena kasihan?"

Pertanyaan sederhana dari Louis membuat Geva memikirkan jawabannya cukup lama. Benarkah dia hanya kasihan pada Giana? Atau benarkah dia menyayangi Giana seperti yang dikatanya pada wanita itu?

"Ngomong-ngomong, Arkan itu pacaran sama Jessie ya?" Topik pembicaraan diganti oleh Louis.

Geva mengangguk. "Emangnya Jessie nggak bilang?"

"Mana mungkin dia bilang. Selama ini ngakunya cuma teman, sih. Kalau sampai kakak iparnya tau, bisa diseret pulang ke London."

"Kenapa?"

"Jessie punya masa lalu yang kurang bagus dengan mantan pacarnya. Keluarganya nggak mau kalau dia sampai salah pilih pasangan lagi. Walaupun anak itu keliatannya kuat dan cuek banget, tapi sebenarnya dia itu ... rapuh." Louis memandang lurus ke depan.

Injakan gasnya pun sedikit berkurang dari sebelumnya. Sepertinya pria itu merasa sedih sewaktu menceritakan tentang Jessie pada Geva.

"Beruntung banget ya, banyak yang sayang sama dia. Makanya kamu diminta untuk jagain dia di sini?" Louis mengangguk-anggukkan kepala. "Kukira karena kamu naksir sama dia."

.

.

.

Geva terkejut ketika dia kembali ke Steels Tower, Giana tengah berdiri di depan unitnya. Mengenakan piyama tidur dan kain penutup mata yang berada di atas kepalanya. "Giana? Kamu ngapain di sini?"

"Menurutmu?" tanya Giana dengan satu alis terangkat. "Berkelahi?"

Tidak menjawab pertanyaan, Geva menekan angka pada kotak akses kontrol yang berada di pintu unitnya. Mendorong pintu setelah terdengar suara 'klik'. "Kamu mau masuk nggak?" tanyanya yang sudah berada di dalam dan melihat Giana masih diam saja.

Menghela napas kesal, Giana pun melangkah masuk. "Kamu berkelahi sama Arkan? Kenapa?"

"Biasa, emosi nggak terkendali." Geva mengambil mangkuk dari laci penyimpanan, kemudian dia mengambil es batu yang di tuangnya ke dalam mangkuk, kemudian diberi air, lalu dia melepaskan kausnya dan menjadikannya sebagai pengganti handuk untuk mengompres lebam di wajahnya.

"Harus berkelahi?" Giana merebut kaus dari tangan Geva. Menggantinya dengan handuk kecil yang dia ambil dari salah satu laci penyimpanan di ruang tengah. Mencelupkan handuk itu ke dalam mangkuk, memerasnya, dan menekannya ke atas memar di wajah Geva. "Nggak mungkin kalau nggak ada pemicunya."

"Alkohol, Gi."

"Halah! Jangan menyalahkan alkohol."

"Kenapa, sih, Gi?"

"Kenapa? Kamu tanya kenapa? Kamu mikir nggak sih, Ge? Aku 'tuh khawatir sama kamu! Aku nungguin kamu dan ternyata kamu pulang dalam keadaan babak belur gini."
"Dari mana kamu tau kalau aku berkelahi sama Arkan?" Geva menahan tangan Giana yang mengompres wajahnya.

"Lepas!" desis Giana sambil mendelikkan matanya. Tidak mendengarkan, Geva justru menatap Giana lekat-lekat. Hatinya kembali panas mendengar nama Arkan. "Lepasin aku, Geva!" Pria itu terkesiap. Dia tidak menduga kalau Giana akan menamparnya.

"Apa-apaan, Gi!" marah Geva pada Giana. Dia melemparkan mangkuk ke dinding, membuat sebuah bingkai foto jatuh ke lantai dan pecah.

"Brengsek kamu, Ge! Aku kira, kamu pria yang baik! Ternyata, kamu bajingan!" amukan Giana membuat Geva bingung.

"Apa maksudnya?"

"Aku udah tau semuanya, Geva. Aku udah dengar semuanya dari Arkan."

"Arkan?" Sekarang Geva yang mendelikkan mata dengan napas yang memburu. Dia menunjuk ke arah pintu unit. "Bedebah itu bilang apa sama kamu?"

"Semuanya."

"Apa?!" jerit Geva tepat di depan wajah Giana. Pada mulanya, wanita itu diam. Bibirnya sedikit terbuka dan bergetar. Pelan-pelan dia mengambil langkah mundur dan akhirnya menangis. "Dia bilang apa sama kamu, Giana?" tekan Geva pada setiap kata yang dia ucapkan.
Menggeleng lemah. Giana hanya terisak dalam tangisnya. Dia melesat pergi keluar dari unit Geva.

"Fuck!" pekik Geva selepas kepergian Giana. Dia melemparkan barang yang berada di sekitarnya. Situasi yang dia hadapi sekarang, membuatnya sangat marah pada dirinya sendiri. Juga dia semakin ingin menghabisi Arkan kalau sampai pria itu kembali mengarang cerita pada Giana.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang