Persoalan Anak

34 2 0
                                        

Sesuai dengan rencana. Usai sarapan pagi ... Berlian dan Geva mengunjungi tetangga mereka. Membawakan lego dan pasir kinetik yang dibeli Geva kemarin untuk Raka.

Saling tatap di depan pintu setelah mereka mendengar jawaban dari seseorang di dalam diiringi langkah kaki mendekat ke arah pintu.

"Selamat pagi, Mas Tova," sambut Geva dengan sanyum lebar. Berlian yang berdiri di sampingnya juga ikut mengulas senyumnya.

Pria berkepala tiga dengan rambut halus di sekitar wajahnya, rambut ikal yang hitam, dan tingginya hampir sama dengan Geva itu tersenyum, lalu mengangguk ke arah Berlian.

"Selamat pagi, Geva. Pria bernama Tova itu tersenyum namun raut wajah bingungnya sangat kentara.

"Maaf nih, bertamu pagi-pagi. Kami bawa pancake, barangkali Mas sekeluarga belum sarapan," kekeh Geva sembari menunjuk piring yang dibawa oleh Berlian.

Wanita pembawa piring pancake itu tersenyum sangat ramah dan mengangguk sekali pada Tova.

"Ya ampun, repot-repot." Kerutan halus nampak jelas di sekitar mata pria itu saat tertawa. "Pacarnya Geva, ya?" Dia menunjuk Berlian dan seketika wajah Geva merona. Berbeda dengan Berlian yang segera menggelengkan kepalanya.

"Saya Berlian, sahabatnya Geva, Mas. Salam kenal."
Berlian mengangguk sekali lagi pada saat memperkenalkan dirinya.

"Oalah. Maaf, maaf." Tova membuka lebar pintu unitnya kemudian mempersilakan para tamunya untuk masuk ke dalam. "Salam kenal, Berlian. Ayo silakan masuk! Nina! Ada tamu!" teriak pria itu memberitahu istrinya.

Suara derap langkah kaki terdengar buru-buru. Nina muncul dari balik pintu kamar bersama Raka dalam gendongannya. "Eh, ada Geva." Wanita itu tersenyum ramah pada Berlian. "Hai! Silakan duduk."

"Mbak Nina, kenalin ini Berlian,"ujar Geva.

Wanita bernama Nina itu memberikan anaknya pada sang suami. Kemudian mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Berlian. "Salam kenal, Berlian. Saya Nina."

"Salam kenal juga, Mbak Nina. Ini ada pancake sedikit, silakan dicicipi." Berlian memberikan piringnya yang berisi pancake pada Nina.

"Waduh, repot-repot, ih. Makasih banyak loh. Makan bareng aja, yuk!" ajak Nina sembari membawa piring pancake itu ke ruang makannya—meletakkan di atas meja makan. "Dari aromanya sih, kayaknya enak banget!" seru wanita itu yang kemudian mencengir lebar.

"Hai, Raka! Om Geva sama Tante Berlian bawain mainan nih." Geva memberikan tas kain berisi beberapa mainan edukasi pada anak laki-laki yang tengah cemberut di pangkuan ayahnya.

"Wah, dapat mainan. Bilang apa sama Om Geva dan Tante Berlian?" Tova bertanya pada anaknya yang sama sekali nampak tidak peduli bahkan tidak kelihatan tertarik pada lego dan pasir kinetik yang diberikan oleh Geva.

"Ya ampun ... repot-repot segala, ih, Geva ... Berlian. Makasih banyak, ya." Nina menyuguhkan dua cangkir teh hangat dan satu toples biskuit gandum. "Kebetulan emang saya sama Mas Tova mau beliin pasir kinetik untuk Raka, tapi belum sempat. Nak, ini pasir kinetiknya banyak banget! Ada warna merah muda, biru, hijau dan kuning. Nanti kita main, ya," girang Nina sambil memperlihatkan pasir kinetik pemberian Geva pada sang anak.

"Maaf, ya ... Raka emang anaknya sedikit berbeda. Dia juga belum bisa bicara, makanya sering tantrum. Karena ... apa yang pengin disampaikan, belum bisa tersampaikan secara lisan," tutur Tova yang merasa tidak enak hati pada tamunya, terutama pada Geva yang hampir setiap hari terganggu oleh suara tangisan anaknya yang seperti alarm pagi—tidak pernah absen membangunkan Geva.

"Nggak apa-apa, Mas. Namanya juga anak-anak. Kan, pertumbuhannya juga berbeda." Geva mengusap kepala Raka. Namun anak itu segera menyentak tangan Geva dan hendak menggigitnya.

"Raka!" tegur Tova dengan nada bicara yang cukup tinggi. "Jangan seperti itu! Nggak sopan."

Nina tersenyum kikuk ke arah Berlian dan Geva. "Mas ...." Tangan wanita itu mengusap bahu suaminya untuk menenangkan sembari memberikan senyuman isyarat yang hanya dimengerti oleh mereka berdua saja.

"Ini kamu pegang anakmu. Coba ajak main, barangkali mau." Tova memberikan Raka pada Nina. Sang istri mengangguk dan menerima anaknya dengan senang hati.

"Ayo, Nak. Kita main pasir kinetiknya." Nina dan Raka kini sudah duduk di atas karpet yang tidak jauh dari sofa. Geva dan Tova mengobrol—membicarakan soal pekerjaan.

Berlian pelan-pelan menghampiri ibu dan anak yang sedang mengeluarkan pasir-pasir kinetik dari dalam tempatnya masing-masing.

"Tante Berlian boleh ikut main, nggak?" tanya Berlian dengan senyum lebarnya sembari melipat kedua kakinya membentuk silang. Detik itu juga dia meringis karena merasakan perutnya sedikit nyeri.

"Ada apa, Berlian?" tanya Nina khawatir. Geva yang sedang mengobrol pun menoleh, sama khawatirnya dengan Nina.

"Nggak apa-apa. Ini kakiku kesemutan," kekeh Berlian dan Geva menghela napas lega kemudian melanjutkan obrolannya bersama Tova. "Raka usianya berapa, Mbak Nina?"

"Empat tahun, Berlian. Tapi ... ya, begini ...." Nina menatap anaknya nanar. "Raka belum bisa bicara dan berjalan. Padahal, seharusnya anak seusia Raka sedang aktif-aktifnya."

"Mungkin emang pertumbuhan setiap anak berbeda-beda, Mbak. Kayak yang Geva bilang tadi." Berlian membantu mengeluarkan pasir kinetik warna merah muda dari dalam tempatnya.

Dia mengambil salah satu cetakan kupu-kupu, kemudian menekan tumpukan pasir itu ke dalamnya.

"Benar, Mbak. Makanya dokter menyarankan supaya Raka sering-sering melatih motoriknya. Karena anak ini susah banget disuruh pegang sesuatu. Kayak sekarang ini." Nina sudah beberapa kali membawa tangan anak laki-laki itu ke atas tumpukan pasir kinetik. Namun anaknya berulang kali juga menarik diri sambil bergumam tidak jelas.

"Liat, Raka! Tante Berlian punya kupu-kupu cantik nih." Dengan bangga, Berlian memperlihatkan cetakan pasir kinetik kupu-kupunya pada Raka.

Aneh. Berlian dulu sangat sebal bila ada anak serupa Raka yang cuek diajak bicara. Dia juga sangat tidak menyukai anak cengeng dan nakal.

Intinya, wanita itu tidak menyukai anak kecil. Namun, setelah kehilangan bayinya ... perasaan Berlian terhadap anak-anak, sedikit berubah.

"Kayaknya saya pernah liat kamu deh, Berlian. Kalau nggak salah ... di Steels Care beberapa bulan lalu. Tapi ... kamu sama pria bule."

Pria bule.

Geva langsung menoleh sewaktu mendengarnya. Nina yang melihat itu segera menekap mulutnya dan menyipitkan mata. "Maaf," bisiknya pada Berlian.

"Oh. Ya. Mungkin itu benar saya, Mbak. Beberapa bulan lalu, saya beberapa kali bolak-balik untuk cek kandungan. Kalau pria bule itu teman saya dan Geva."

"Oh, ya ampun. Udah berapa bulan usia kandungannya sekarang?" Nina tersenyum sambil melihat ke arah perut Berlian.

"Saya keguguran, Mbak."

"Aduh, Lancangnya mulut ini." Lucunya, Nina menampar mulutnya sendiri sampai beberapa kali dan membuat Berlian terkekeh melihatnya. "Maaf, ya, Berlian."

"Nggak apa-apa, Mbak."

"Tuhan lebih menyayanginya," sambar Geva tiba-tiba membuat Berlian menoleh, lalu kedua mata mereka bertemu.

Ada pancaran yang tersirat dari mata Geva. Seolah pria itu sedang memberikan kekuatan untuk Berlian melalui tatapannya itu.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang