Tidak banyak yang dikatakan oleh Geva, se-kembalinya pria itu dari kediaman mantan kekasihnya—Giana.
Berlian yang menyambut kepulangannya pun memutuskan untuk tidak mendesak pria itu dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah berjejalan di dalam kepalanya.
Malam ini, Geva tidur lebih dulu dan memunggungi Berlian. Tidak seperti malam sebelum-sebelumnya, malam biasanya, di mana pria itu harus melakukan kontak fisik sebelum terpejam. Setidaknya menggenggam tangan Berlian.
Bukan kecewa yang Berlian rasakan kini. Namun rasa iba dan khawatir yang berlebihan membungkusnya saat ini.
Ditatapnya punggung kokoh pria itu dengan pikiran yang sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada saat Geva menemui Giana tadi sore. Berlian sangat penasaran.
Beringsut di atas ranjang. Berlian mengulurkan tangannya—mencoba untuk menggapai Geva dalam jangkauannya.
"Ge, kamu udah tidur?" tanyanya pelan. Suara lembut wanita itu menyerupai sebuah bisikan halus.
Geva mendengarnya. Namun, pria itu pura-pura tidak mendengar. Memilih untuk memaksakan matanya terpejam, sayangnya sangat sulit.
"Ge, kamu gamau peluk aku? Aku kasih aku ciuman selamat tidur kayak biasanya?" Sudut bibir pria itu berkedut sewaktu mendengarnya.
Hatinya girang dan ingin sekali segera berbalik untuk melakukan apa yang barusan dikatakan oleh Berlian.
Namun sekali lagi, pria itu urung melakukannya.
Tiba-tiba saja, Geva merasakan tangan lembut Berlian membelit pinggangnya. Wanita itu memeluk tubuhnya dari belakang—sangat erat.
"Kamu harus selalu ingat kalau aku sayang banget sama kamu, pria bodoh."
Tidak tahan lagi untuk menahan keinginan memeluk dan mendekap erat tubuh wanita kesayangannya. Geva akhirnya berbalik dan membuat Berlian terkejut, namun bibirnya mencetak senyum yang sempurna.
Tubuh keduanya kini sangat dekat tanpa adanya penghalang ataupun pembatas di antaranya. Kening yang disatukan, tangan yang saling memeluk, serta hangat napas keduanya bergantian saling menerpa wajah masing-masing.
Mata Berlian terpejam sebentar, sewaktu Geva membawa untaian rambut wanita itu ke belakang telinganya. Lalu jari-jari panjang nan besar itu memijat daun telinga Berlian—memberi gelenyar yang ... sudah lama wanita itu rindukan.
Berlian menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya pelan dalam sebuah desahan yang tertahan. Pada saat matanya terbuka, dia mengulas senyum tipis dan sorot matanya tajam seolah membicarakan sesuatu yang intim pada Geva.
"Oh." Lenguhan Berlian terdengar sarat yang mana membuat Geva tersenyum lebar. Pria itu selalu tahu bagaimana dan bagian mana yang mampu membuat wanita itu menyerahkan diri padanya.
Geva menggulirkan jemarinya di atas permukaan kulit tubuh Berlian. Berawal dari telinga wanita itu, turun perlahan ke leher, lalu menyusuri tulang selangka, semakin turun dan berhenti pada puncak dada wanita itu yang sudah menegang.
Sebuah kilat yang terpancar dari mata Berlian, menandakan dirinya sudah mulai terbakar akan sentuhan Geva di atas kulitnya yang kini meremang hebat. Pria itu selalu tahu bagaimana membakar Berlian, hanya dengan sentuhan ringan.
"Aku kangen banget sama suara itu," ujar Geva jujur dan Berlian tersipu.
Aneh. Wanita itu merona. Sungguh merona, bahkan dia sendiri dapat merasakan seberapa hangat pipinya saat ini.
"Oh, ya ampun. Wanita keras kepala tersipu. Kejadian yang cukup langka," ejek Geva sewaktu menyadari adanya rona kemerahan itu di wajah Berlian.
"Enggak!" sanggah wanita yang memiliki gengsi lebih tinggi dari gunung Everest. "Kamu tadi pura-pura tidur? Dasar nyebelin!" Berlian mencubit gemas hidung Geva.
"Dasar penggerutu," balas Geva—melakukan yang sama dengan apa yang Berliab lakukan padanya.
Mereka berdua tertawa. Menertawakan kebodohan keduanya yang selama beberapa menit saling mencubit hidung hingga se-merah tomat.
"Kamu baik-baik aja, kan, Ge?" Pertanyaan Berlian menyurutkan tawa Geva.
Pria itu mengembuskan napas pelan melalui mulutnya yang terbuka sedikit. Aroma mouthwash yang digunakan pria itu sebelum tidur, menerpa wajah Berlian.
"Apa ada alasan, aku nggak baik-baik aja?" Geva tersenyum. Namun senyumnya kali ini terkesan sedikit dipaksakan. Jemarinya kembali memijat telinga Berlian. "Aku tau isi kepalamu, Be. Apa yang mau kamu tau?"
"Katanya kamu tau, kenapa nanya 'apa yang mau aku tau?'" Berlian mengerutkan hidungnya, yang praktis membuat Geva kembali gemas padanya dan nyaris kembali mencubit hidung mancung wanita itu.
"Giana tinggal sama suaminya. Mereka rujuk kembali dan ... tinggal di rumah mewah." Pada saat mengucapkan kata 'mewah', ada pancaran kebahagiaan di mata Geva. "Aku senang banget, Be. Senang, karena Giana udah bahagia sama pria yang layak untuknya."
"Tau dari mana kalau pria itu lebih layak untuk Giana?"
"Karena dia suaminya. Pria yang menikahinya dan pastinya mencintai Giana. Aku bisa liat itu dengan jelas, kok."
"Dasar pendusta," cibir Berlian. "Kamu pasti sedih dan menyesal."
"Menyesali apa? Genta bukan anakku?" Geva tertawa hambar. "Kamu tau, anak itu mirip banget sama Mario. Kayak fotocopy gitu." Hati Geva pilu akan kenyataan itu.
Mario. Rio. Sepertinya nama itu tidak asing di telinga Berlian.
"Mereka bahagia. Mario mencintai Giana dan mereka udah memiliki keluarga yang sempurna dengan kehadiran Genta di tengah-tengahnya. Lalu, apa yang membuatku jadi nggak baik-baik aja?" Berlian mengedikkan bahunya. "Penyesalan terbesarku adalah, membuat Giana menaruh harap besar sama aku dan membuat kamu sakit hari itu karena keegoisanku," sesal Geva sangat kentara dari suaranya yang begitu lirih.
"Jangan lagi bahas tentang hari itu, Ge. Oke?" Berlian membelai wajah Geva.
Dia berusaha menunjukkan senyumnya agar terlihat tulus saat ini. Karena jujur saja, Berlian masih kecewa bila mengingat kejadian pagi-pagi buta di rumahnya hari itu. Kecewa dan hancur.
Geva mengangguk mengerti. Membawa bibirnya ke bibir Berlian. Mengecupnya pelan—penuh kasih sayang.
Namun ketika lidah-lidah nakal sudah mulai ikut serta ke dalamnya, maka cumbuan mereka pun berubah menjadi cumbuan yang panas dan saling menuntut. Cumbuan penuh gairah yang ternyata masih mampu membakar satu sama lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
