"Ge, berisik banget, sih!" gerutu Berlian ketika mendengar suara gaduh dari luar unit apartemen Geva.
"Biasa. Tetanggaku suka party," jawab Geva santai sambil membuat kopi.
"Kok, boleh, sih?"
"Emangnya kenapa nggak boleh?" Geva menelengkan kepalanya ke arah Berlian yang sedang menatap dinding di sebelahnya. "Kamu mau ikutan? Aku kenal, kok, orangnya. Yuk, Be! Minum gratis!" ajak Geva dengan senyum sumringah.
"Minum gratis." Berlian melirik sinis. "Itu air kran juga gratis, Ge. Kamu minum aja!" sembur Berlian kesal.
"Kamu mau datang bulan, ya? Galak banget."
"Eh, Geva!" pekik Berlian tiba-tiba, membuat Geva terkejut dan nyaris saja menumpahkan kopi yang sedang dibawanya menuju ruang tengah.
"Apaan, sih, Be? Bikin kaget!" protes Geva kemudian duduk di samping Berlian yang diam mematung tiba-tiba. "Lah? Dia kesambet. Berlian!" teriak Geva tepat di telinga Berlian.
"Gevariel Gerald!" Teriakan Berlian membuat kopi di cangkir Geva benar-benar tumpah dan membasahi pakaian serta sedikit bagian sofanya.
"Astaga, Be! Panas!" Geva berjingkat dari posisinya sambil menarik tisu sebanyak-banyaknya untuk mengeringkan sofanya. "Duh, noda kopi, kan, susah hilang," gerutunya kesal. "Kamu kenapa, sih, Be?" tanyanya dengan nada kesal.
Siapa yang tidak kesal dibuat terkejut seperti itu? Terlebih seluruh kopi yang baru saja dibuat Geva, habis 'tak tersisa. Belum lagi panas dari kopi itu membuat bagian perutnya terasa melepuh.
"Aku belum dapet," lirih Berlian sambil menampilkan raut wajah sedih.
"Dapet apaan? Lotre? Hidayah? Warisan?" Geva meninggikan sebelah alisnya. Kemudian dia membawa cangkir kosongnya ke dapur. Setelahnya dia melepas kaus yang basah dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.
"Aku serius, Geva. Gimana kalau aku hamil?" Pertanyaan Berlian membuat Geva yang sudah menurunkan celana pendeknya sampai lutut, langsung kembali memakainya seperti semula.
"Gimana, Be? Maksudnya gimana? Coba pelan-pelan."
"Aku belum haid bulan ini."
"Terus?"
"Kalo aku hamil, gimana?"
"Ya, melahirkan nanti kalau udah sembilan bulan. Kok bingung?" Santainya Geva membuat Berlian naik darah. Wanita itu segera melemparkan kotak tisu ke arah Geva—untung saja meleset melewati kepala pria itu.
"Aku serius, Ge! Aku nggak sudi kalau sampai mengandung anakmu!" Berlian berbaring di atas sofa. Dia membayangkan sesuatu yang menyeramkan jika apa yang dikhawatirkannya benar-benar terjadi. "Duh, enggak, deh! Amit-amit!" Dia mengibaskan tangan, mengusir bayangan tidak mengenakan.
"Kamu kayaknya jijik banget sama aku, Be. Tapi suka sama adikku. Dasar wanita," cibir Geva.
Pria itu berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya dan tidak lama kemudian kembali ke ruang tengah sudah dalam keadaan memakai kaus baru.
"Wangi banget!" ujar Berlian ketika Geva menghampirinya.
"Sabun baru, Be. Sakura." Geva menggerakkan alis matanya naik-turun. "Enak, ya?" Diangkat kausnya dan didekatkan ke hidung Berlian.
"Hm. Enak, sih."
"Aku lebih enak, Be." Pria itu mengerlingkan mata dan langsung dicubit pinggangnya oleh Berlian. "Astaga! Kalau aku jadi suamimu, bisa babak belur, deh, setiap saat disiksa."
"Aku lagi serius, Geva. Bisa nggak, sih, jangan becanda terus?" Geva duduk di ujung sofa dan Berlian mengangkat kedua kakinya kemudian mengistirahatkannya di atas pangkuan Geva yang langsung memijitnya.
"Enaknya punya suami humoris, Be. Hidupmu nggak akan membosankan."
"Siapa juga yang mau jadi istrimu?"
"Kendall Jenner," sahut Geva asal dan Berlian tertawa terbahak-bahak.
"Sendal Jember kali maksudmu?" Berlian kembali tertawa.
"Terus aja, Be. Aku hamilin beneran, nih!" Geva mendelikkan matanya dan Berlian mendadak berhenti tertawa.
"Ge, kamu kok, ngancem aku, sih?" tanya wanita itu dengan tatapan nanar. "Kamu udah punya niat jahat kayak begitu sama aku dari kapan?"
"Apaan, sih, Be? Serius banget," decak Geva. "Enggak, aku nggak bakal hamilin kamu, kecuali kebablasan dan ketidakberuntungan berpihak padaku."
Tiba-tiba saja Berlian menangis. Air mata wanita itu menetes tanpa henti dan lama kelamaan menjadi deras hingga membasahi wajahnya.
"Be? Kok, nangis, sih?" Geva mendadak panik. Dia menarik kedua tangan Berlian—memaksa wanita itu untuk duduk dan Berlian menurut saja dalam keadaan lunglai seperti tidak bertenaga.
"Aku takut hamil, Ge. Aku belum punya pekerjaan yang bagus dan ... kalau orang tuaku tau, bisa dijadiin Berlian guling," tutur Berlian sambil terisak.
"Aduh, kamu jauh banget mikir buruknya. Kan, kamu suka telat datang bulan, Be. Biasanya juga nggak panik. Kenapa sekarang panik?"
Berlian diam. Dia membuka mulutnya lalu kembali menutupnya dengan rapat. Sepertinya Berlian kesulitan menjawab pertanyaan Geva.
"Kenapa diam?" Geva menyeka air mata di wajah Berlian dengan ibu jarinya. "Nggak usah mikir macam-macam. Besok aku beliin tespack, ya?"
"Aku ... hm. Aku ina-inu sama pria lain, selain kamu, Ge."
Mendengar pernyataan itu, Geva praktis menarik tangannya dan menggeser posisi duduknya—sedikit memberi jarak dengan wanita di sampingnya.
Geva merasa dikhianati. Padahal, tidak ada yang salah jika memang sahabatnya itu bercinta dengan pria lain selain dirinya. Tapi entah kenapa Geva justru merasa kecewa mendengarnya.
"Ge, kok, diam?" Berlian bergeser mendekat tapi Geva kembali memberi jarak. "Kamu kenapa, sih, Ge?"
"Jadi, yang kamu takutin sebenarnya apa, Be? Mengandung anakku atau anaknya?"
"Ge. Kok nanya gitu?"
"Jawab aja, Be!" bentak Geva sambil bangkit dari posisinya. Mendadak pria itu tersulut emosi sehingga dia melemparkan remote televisi ke sembarang arah. "Besok aku belikan tespack! Kamu tidur, sekarang!"
"Kok, kamu jadi bentak aku, sih? Kamu mau ke mana, Ge?" Berlian bingung ketika Geva meraih kunci motornya dan keluar dari unit apartemen tanpa menjawab pertanyaannya, bahkan pria itu tidak menoleh lagi.
"Ge!" Panggil seseorang, ketika pintu lift mulai menutup. Buru-buru Geva menahannya karena melihat pria bertubuh tegap sedang berlari ke arahnya. "Mau ke mana?"
"Ngopi," jawab Geva datar.
"Bareng, deh!" Pria itu menekan panel 'G' dan ruangan metal itu membawa mereka ke lantai dasar. "Kenapa, lo? Lagi ada masalah?"
Geva mendecak. Dia sadar kalau temannya itu menyadari kemarahannya sehingga Geva membuat tawa hambar sebelum menjawab. "Biasa, deh." Pria di sebelahnya menarik bibirnya ke bawah.
Setibanya di lantai dasar, keduanya keluar dari lift dan bertemu dengan sosok pria bule. "Pak Louis," sapa Geva ramah.
"Eh, Ge? Mau ke mana?" tanya pria bule bernama Louis itu.
"Ngopi, Pak," kekeh Geva.
Louis menganggukkan kepala dan tersenyum tipis. "Jangan terlalu banyak minum kopi. Ingat, besok masih hari Jumat. Jangan terlambat ke kantor, ya!"
"Siap, Pak!"
"Saya duluan, ya." Louis masuk ke dalam lift dan pintu perlahan menutup.
"Bos?" tanya pria yang sejak tadi bersama Geva.
"Iya. Tapi bukan bos besar." Geva membuka pintu kedai kopi dan temannya itu mengekor di belakangnya. "Lo mau pesan apa, Ar?"
"Hm, Americano aja, deh, Mas," ujar pria itu pada sang kasir kedai kopi.
"Dua, deh," sambung Geva sembari mengeluarkan sebuah kartu dari balik case ponselnya.
"Biar gue aja," cegah teman prianya yang lebih dulu memberikan kartu pada kasir untuk pembayaran.
"Atas nama siapa, Kak?" tanya sang kasir.
"Arkan dan Geva."
.
.
-Catatan Penulis-
Bagi kalian yang udah baca Sassy Jessie di wattpad : FairyQueenFairy, pasti tau siapa Louis dan Arkan. Bagi yang belum, bisa beli buku cetaknya di bukalapak, tokopedia maupun guepedia ya.
Cerita ini bukan sekuel atau spinoff dari cerita2ku sebelumnya sih. Tapi beberapa karakternya sedikit berhubungan, ga banyak.
Btw, makasih ya udah mau mampir baca ke lapak ini. Kita lanjut yaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science-fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
