Menunggu Untuk Menguji Keberuntungan

67 5 0
                                        

Berlian mampir ke Starbun sebentar, sebelum dia kembali pulang ke rumahnya. Dia memesan satu gelas frapuccinno untuk menemaninya di dalam perjalanan pulang nanti.

Sekarang hari Sabtu. Kedai kopi yang sejak kemarin sepi, berbeda sekali dengan malam ini. Starbun sangat ramai pengunjung, bahkan Berlian harus menunggu hampir lima belas menit untuk mendapatkan kopinya, karena dia harus antre.

Sewaktu Berlian sedang mencari kunci mobilnya, dia meletakkan gelas kopi di atas atap mobilnya. Lalu tiba-tiba saja kopi itu jatuh dan menyiram dirinya.

Berlian memekik karena terkejut dan memegangi tangan kanannya yang tersiram segelas kopi panas. Dia menyumpah serapah untuk kebodohan dirinya sendiri.

"Hey, kamu baik-baik aja?" Suara seroang pria di belakangnya membuat Berlian berbalik dengan cepat.

Berlian membeku di tempatnya. Dia kembali lupa bagaimana caranya mengambil udara untuk mengisi paru-parunya dengan benar.

"Oh, ya ampun! Tanganmu." Pria itu adalah Louis. Dia menunjuk tangan kanan Berlian yang memerah akibat tersiram kopi panas, miliknya sendiri.

Merasakan perih di bagian tangan, Berlian pun akhirnya terkesiap. Dia mengeluh ketika menyentuh bagian kulit tangannya yang melepuh. Dia menatap ngeri kulit tangannya yang sangat merah dan cukup menyakitkan bila disentuh.

"Biar kubantu," ujar Louis yang kemudian berlari kecil ke arah mobil SUV hitam. Pria itu kembali pada Berlian dengan satu botol air mineral dan handuk kecil.

Berlian kembali diam dan menurut saja sewaktu Louis mengucurkan air mineral ke atas kulitnya yang melepuh. Sakit memang, tapi wanita itu menahannya mati-matian, menjaga image agar tidak dianggap cengeng oleh pria yang sedang menolongnya sekarang.

"Aw!" Berlian melenguh kesakitan, tapi dia berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja sampai Louis mengeringkan tangannya dengan handuk dan membungkusnya menggunakan handuk yang sama.

"Makasih," ucap Berlian sembari memegangi tangannya yang dibungkus handuk.

"Sama-sama. Kamu mau ke mana?" tanya Louis setelah menekan tombol pada remote kunci untuk mengunci mobilnya.
"Pulang."
"Aku kira kamu tinggal di sini." Louis mengecek ponselnya sebentar kemudian beralih pada Berlian lagi. "Menyetir sendiri?" Dia menunjuk mobil Berlian menggunakan tangannya yang memegang ponsel.
"Iya. Aku menyetir sendiri." Berlian tersenyum, lalu meringis merasakan perih pada kulitnya.
"Kamu yakin bisa menyetir sendiri?"
"Ya. Aku biasa menyetir sendiri, kok," kekeh wanita itu yang mengira Louis sedang meremehkannya.
"Sebaiknya kamu tunggu beberapa menit sampai rasa sakitnya sedikit hilang." Louis menunjuk tangan Berlian menggunakan dagunya.
"Ya. Makasih untuk sarannya."
"Aku bisa temani kalau kamu mau." Mendengar itu, jantung Berlian berhenti sebentar.

Dia terkejut bukan main. Louis yang baru dikenalnya beberaoa jam lalu ternyata sangat ramah dan baik sekali. Padahal, jika dilihat dari raut wajahnya, pria itu nampak dingin dan seperti orang yang sulit untuk dibuat tersenyum. Tanpa berpikir panjang, akhirnya Berlian mengangguk.

Kemudian mereka berdua berjalan ke arah kursi taman, duduk di sana sembari memerhatikan beberapa anak remaja yang sedang bermain skateboard. "Rokok?" Louis menawari Berlian yang mana wanita itu tanpa ragu langsung mengambil satu batang rokok dari dalam kotak rokok milik Louis.
Louis memberikan pemantiknya dan Berlian berterima kasih, kemudian mulai mengisap rokoknya perlahan. Membiarkan asap rokok itu masuk ke dalam paru-parunya sebentar sebelum akhirnya dikeluarkan. Wanita itu terus mengulanginya sampai beberapa kali, hingga dirinya merasa sedikit lebih tenang dan anehnya rasa sakit di tangannya pelan-pelan berkurang.
"Oh, shit!" Tiba-tiba Louis mengumpat. "Kita merokok di mobilku aja, yuk!" ajak Louis yang mana membuat Berlian menjadi bingung. Nampaknya pria itu menjadi sangat panik, sedangkan Berlian merasakan tubuhnya sangat tenang sekali dan orang-orang di sekelilingnya bergerak sedikit lambat dari seharusnya.

"Kenapa?" tanya Berlian akhirnya setelah diam cukup lama, membiarkan Louis menunggu.
"Aku salah memberimu rokok." Louis berdiri, dia membantu Berlian untuk berjalan bersamanya, kemudian masuk ke dalam mobilnya. "Maafkan aku, Berlian. Sebaiknya kamu matikan aja rokok itu dan buang di sini," tutur Louis sembari membuka keranjang sampah kecil di dalam mobilnya. Dia menyalahkan pendingin ruangan. Aroma di dalam mobilnya mulai menyeruak dan membuat Berlian memejamkan matanya.
"Aku tau ini apa. Jangan khawatir, aku udah pernah mencobanya, dan ... makasih, karena kamu udah memberikannya untukku, jadi sekarang aku merasa sedikit lebih baik," kekeh Berlian.
Louis mengambil rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah wanita itu. Menekan sumbunya ke atas tisu, kemudian memasukkan sisanya ke dalam kotak rokok miliknya. Berlian merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan dan seolah melayang begitu saja. Dia tersenyum senang, masih dengan kedua mata yang terpejam.
"Biar kuantar kamu pulang. Apa kamu masih bisa mengingat alamat rumahmu?" tanya Louis yang sedikit khawatir.
"Tentu aku ingat. Tapi, nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri, kok." Berlian membuka matanya dan menoleh ke samping. Wajah Louis begitu mempesona. Dia berkutat dengan alam bawah sadarnya juga alam sadarnya yang masih tersisa sedikit.

Sayangnya, alam bawah sadar Berlian jauh lebih kuat menguasai dirinya. Seperti dikendalikan, tangannya bergerak sendiri. Terulur untuk menyentuh tulang rahang pria yang duduk dibalik kemudi. Louis menahannya. Membawa tangan Berlian kembali turun.
"Biar kubantu ubah posisi kursinya," kata Louis yang sekarang mendekatkan dirinya pada Berlian.

Tangan kanannya berusaha mencapai tuas di samping kursi untuk mengubah posisi sandarannya. Wajahnya menjadi sangat dekat sekali dengan Berlian. Wanita itu merasakan tubuhnya meremang tiba-tiba. Louis tidak bergerak. Dia diam dan menatap Berlian lekat-lekat.
Kristal birunya sangat indah sekali dan membuat Berlian masuk ke dalamnya hingga tersesat di sana. Berlian menyentuh bibir Louis dengan sedikit keraguan. Jika ditolak, dia akan sangat malu sekali. Tapi, dia ingin menguji keberuntungannya kali ini.
Bibir keduanya sudah menempel. Tapi tak satu pun dari mereka yang bergerak. Keduanya membiarkan bibir masing-masing saling bertemu tanpa melakukan apa pun.

Louis masih menatapnya lekat-lekat. Jantung Berlian bergemuruh seperti sebuah genderang. Wanita itu menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang